Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Perhatian kepada seluruh penghuni kelas XII IPA 1. Untuk sementara, sesi pembelajaran diadakan di ruang kelas cadangan—sebelah laboratorium biologi. Pihak sekolah mewakilkan permohonan maaf atas pelaku kejadian ini. Kami akan memperbaiki kerusakan fasilitas sesegera mungkin. Terima kasih atas perhatiannya."
Terbakar.
Setiap inci, dari sudut ke sudut, kepulan asap yang menjelma menjadi sosok merah mematikan sudah menguasai ke seluruh penjuru ruangan. Membabat habis sampai tak bersisa. Papan mading di tembok belakang, bagan organisasi siswa, meja dan kursi—semuanya habis dimakan sang bara.
Para murid ramai-ramai mengerubungi tempat kejadian. Berbagai spekulasi dan kalimat bermakna interogatif dibicarakan dari mulut ke mulut. Tentang peristiwa kebakaran yang baru kali ini terjadi semenjak Intellegend berdiri, tentang kapan tepatnya waktu si pelaku beraksi, dan tentang hipotesis murid satu sekolah kecuali penghuni kelas yang mereka amati.
"Gue beneran masih syok kalo alarm kebakaran itu ternyata beneran kejadian. Kirain cuma iseng." Gema membuka sepatah kalimat selaku penghuni kelas XII IPA 1.
"Bukan dari tim kita, kan?" tebak Khalil yang baru berhasil menerobos kerumunan untuk melihat jelas. "Gue yakin selain kita pasti ada yang gak terima kasus Virgi dibiarin gitu aja."
Salah satu alasan Khalil berteori seperti itu karena sudah jelas bahwa pelaku meninggalkan jejak berupa banner hitam bertuliskan, "Fuck Intellegend! Justice for Virgi." yang dipajang di jendela bagian luar kelas.
Alhasil iris keduanya bertemu, seolah memikirkan satu kandidat yang sama, kemudian sama-sama berseru, "Arga!"
"Shit!" Umpatan Gema terdengar lantang seolah menyadari sesuatu. "Kita bisa jadi tersangka, Khal. Tubuh kita ketangkep CCTV di jam yang sama sebelum ada bunyi alarm kebakaran."
Khalil melebarkan mata, lalu meneguk ludah. Tamat riwayatnya kalau rencana malam itu terbongkar. "Sekarang ikut gue ke ruang CCTV yang cuman bisa diakses OSIS."
Mengabaikan jam pelajaran pertama, kaki mereka yang tiap langkahnya dipercepat itu mengundang banyak tatap dari sebagian kerumunan dan dua murid di rooftop lantai empat yang baru menginjak alas 2 menit lalu.
"Mau ngikutin mereka?" Si lelaki yang menopang dagu di atas pagar bertanya pada lawan bicara karena mendeteksi pergerakan aneh dari dua pemuda tersebut.
Sedangkan gadis di sebelahnya menatap ketus. "Jangan ngalihin pembicaraan, William. Jawab pertanyaan gue."
William menegakkan bahu. Nampak berpikir sejenak, kemudian ia hanya mengucap satu kata.
"Iya."
Jawaban singkat tersebut membuat Alodya curiga. "Ada alasan yang masuk akal kenapa lo bisa pingsan?" Dua pertanyaan. Jika lawan bicara menjawab dengan perkataan yang membuat kalimat interogatif dipakai sebagai balasan lagi, Alodya tetap akan memberi pertanyaan ketiga. Begitu dengan seterusnya sampai ia merasa puas.