Pernyataan kelima siswa yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan peringkat satu paralel membuat penyelesaian kasus menjadi makin rumit. Pasalnya, mereka mengaku kehilangan ingatan pada saat kasus berlangsung.
Kelimanya bersepakat untuk menuntaskan k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Pintu bundar itu terbuka sepenuhnya—memperlihatkan ruang persegi panjang yang dindingnya dilapisi sistem kedap suara. William dengan hati-hati menyalakan sakelar, lantas satu lampu di tengah atap dengan watt tinggi mulai menerangi setiap sudut ruangan yang didominasi peralatan medis.
Dari kejauhan, ruangan ini didesain tidak jauh beda dari ruang perawatan pada umumnya. Namun, saat mereka berpencar untuk mengamati lebih dekat, terdapat beberapa barang yang tak dapat ditemukan di ruang perawatan lain. Seperti tumpukan berkas dokumen di sudut yang punya lemari khusus, satu komputer putih di atas meja, dan satu clipboard dengan beberapa tumpukan kertas sebagai benda lain yang tertera di meja.
"Ponsel kalian udah disimpen di asrama, kan?" tanya William memastikan. Pasalnya, membawa barang elektronik yang mudah dilacak itu sama saja dengan bunuh diri. Sebagai gantinya, mereka membawa walkie-talkie yang diberi Luna sebelum menjalankan aksi.
Pertanyaan itu direspons dengan anggukan dan di detik selanjutnya mereka sudah beraksi. Alodya dan Khalil di bagian lemari berisi file, Gema menyalakan komputer, Liz di sebelahnya mengambil clipboard, sedangkan William memeriksa peralatan medis dan area lain yang belum dijajah.
Halaman pertama sudah mengejutkan keduanya. Sudah dipastikan tumpukan file ini isinya eksperimen ilegal sekolah. Tak seperti pemikiran Khalil, Alodya langsung memeriksa file paling bawah.
"Khal, jangan cari lagi," pinta Alodya sambil menunjukkan satu dokumen paling bawah yang ia temukan. "Punya Virgi udah ketemu."
Membaca judul dokumen berisi nama lengkap Virgi, lantas Khalil tersenyum seraya mengacungkan jempol. "Oke!"
Sementara, Reliza yang sejak tadi menggenggam clipboard terlihat mematung. Biasanya respons alamiah berupa ajakan untuk melihat isi kertas selalu keluar dari mulutnya, tetapi untuk kali ini bertolak belakang. Lidahnya menjadi kelu serta napas yang tidak sesuai ritme.
Menyadari suasana aneh itu, keempat anggota yang tersisa secara kompak berkerumun di sekitar Liz terkecuali Gema yang kebetulan berada di sisi Liz yang tengah berkutat dengan komputer. Pada halaman pertama helai kertas itu ternyata berisi rekam medis Virgi. Mulai dari riwayat kesehatan, tujuan eksperimen, keluhan, riwayat eksperimen, dan halaman paling akhir berisi ... riwayat kematian.
"Dokter pemeriksanya Pak Hendra." Khalil yang pertama selesai membaca. Disusul teman-teman yang lain, mereka kompak memandang William yang nampaknya sama kebingungan.
Lelaki itu mengusap wajah. Sudah memprediksi isi pikiran mereka. "Gue terpaksa—"
"Yang bikin Virgi meninggal itu gara-gara lo." Liz memotong. Ia berusaha untuk menahan tangis. "Eksperimen yang dia lakuin itu ... demi nyembuhin lo."
Siapa pun bisa menyimpulkan seperti itu ketika sudah membaca sampai halaman akhir; riwayat kematian. Ada tiga penyebab kematiannya: asfiksia akibat dicekik, trauma kepala dengan bekas jahitan akibat prosedur eksperimen, dan gagal fungsi otak karena aktivitas saraf yang tidak stabil. Dan temuan tambahan berupa tidak ada tanda-tanda perlawanan saat pencekikan terjadi serta kejang tak terkendali sebelum kehilangan kesadaran.