08

1.7K 110 24
                                        

"Aku Ibunya! Aku yang paling tau Kafka! Tiap masak, aku selalu pisahin bagian dia. Aku gak mungkin lupa, dan tadi, aku masak sup ini pun dipisah. Masak untuk Kafka, baru buat kita. Aku nggak mungkin lupa, ya."

"Ya terus ini apa?! Dari mana bisa sup nya dia mengandung udang coba?" Danish memijit kepalanya. Matanya memandang sebal mata Diana yang sudah berkaca-kaca. Bisa-bisanya istrinya ini ceroboh.

"Loh itu makanan khusus untuk Kafka saja, toh? Ibu yang kasih perasa udang di supnya, pas Diana lagi ke toilet. Tadi Ibu cicip, kayak kurang, jadi Ibu tambahin. Mana tau itu buat dia. Lagian Kafka ini aneh. Nggak usah makan lah kalo banyak pantangan gini."

"Loh, gimana sih?!" Itu suara tinggi Diana. Semua merespon ke asal suara, Dewi yang baru masuk ke dalam kamar Kafka. Diana yang mendengar rasanya emosinya sudah ada. Tatapannya bercampur antara sedih, pun marah juga. Sementara Danish hanya bisa menghela nafas. Lagi-lagi ini adalah ulah mertuanya. Kafka lagi, Kafka selalu yang kena imbasnya.

"Iya. Kafka memang alergi udang, Buk. Gakpapa kita maklumin karna Ibu nggak tau. Lebih baik Ibu istirahat saja, ya, sekarang. Ini udah malam." Danish sangat berusaha untuk tetap baik pada mertuanya. Bagaimanapun beliau adalah Ibu dari istrinya.

Danish memejamkan mata, menghela nafas berat sekali rasanya. Matanya kini memandang Diana yang tengah mengusap area leher bungsunya yang terdapat bekas merah sebagai hadiah dari alergi udangnya.

Tapi melakukannya dengan air mata yang terus turun meski Diana tetap melakukan tugasnya. Juga Zafran yang setia menenangkan Ibunya.

Lagi-lagi Danish menghela nafas. Mengusap lengan atas Diana untuk menenangkan atau anggaplah sebagai rasa permintaan maafnya.

Sementara Kafka? Bocil itu masih memejamkan matanya. Setelah tadi terkena serangan kemudian terlelap.

Danish menoleh. "Tidur gih, Bang."

"Aku mau jaga-," Zafran menghela nafas ketika melihat Papanya menggeleng.

"Biar Papa sama Mama yang di sini."

"Di-," Diana menggeser lengannya, tidak mau diajak bicara.

Dia memilih berbaring, memeluk tubuh bungsunya yang terlelap dalam tidurnya. Air matanya masih turun, tak ingin berhenti. Rasanya, Diana kesal sekali, dan susah sekali meredakannya. Dia kecolongan lagi, anaknya terluka lagi. Padahal sudah lama sekali alergi anaknya tak kambuh karna dirinya yang begitu menjaga makanan anaknya.

Dan untuk melampiaskannya, dia hanya bisa menangis, tak ingin mengeluarkan kata, atau sekedar diajak bicara. Lagipun Diana tersinggung dengan suaminya, yang bisa-bisanya langsung menyimpulkan bahwa ini adalah ulahnya.

"Aku minta maaf, Di." Diana memejamkan matanya. Demi apapun ia tidak ingin melihat ataupun sekedar mendengar ucapan Danish sekarang.

"Maaf malah marah-marahin kamu. Aku tadi kebawa emosi. Sampai langsung nuduh kamu. Maaf, ya."

Merasa ucapannya tak didengar, Danish memilih mengalah dan tak membicarakannya lagi. Dirinya mendekat, mencium kening Diana dan melihat mata itu terpejam namun air matanya masih terjun lancar. Kemudian ikut berbaring di sampingnya memutuskam tidur bersama di kamar bungsunya.

•••••

Pagi ini, kesibukan masih berjalan. Diana yang bertukar jadwal dengan teman, memilih masuk pagi di hari ini. Juga Danish yang tetap seperti biasa menjalani hari.

ABOUT RAKAFKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang