28

1.3K 71 4
                                        

"Sorry gue lama. Gue abis beli hadiah buat lu. Semangat, ya, lu pasti bisa." Hidup terus berjalan meski tak sesuai keinginan. Malam, kembali ke pagi seperti semuanya terlewati dengan tenang.

Zafran dengan dilemanya.. Hingga saat ini, baru Papanya yang ia kabari. Zafran bahkan belum memberitau fakta kepada Kafka mengenai stadium yang meningkat itu. Dia tak mau kehilangan senyum yang terlihat dari adiknya satu hari kemarin, Zafran tak mau kembali kehilangan semangat yang adiknya tumbuhkan sendiri.

Dia kembali lagi ke rumah sakit setelah adiknya menjalani kemoterapi kedua. Menatap adiknya yang lemah tak berdaya. Papa mengatakan lewat pesan jika efek kemoterapi itu menyebabkan Kafka muntah tujuh kali semenjak tadi pagi diberikan. Yang paling membuatnya sedih adalah ketika Papanya mengirimkan foto rambut adiknya yang rontok hampir tak tersisa. Zafran menangisi itu di dalam kelas kuliahnya, sepanjang jalan, hingga dia memutuskan untuk mampir membeli topi untuk menutupi kesedihan adiknya.

"Kita Adik Kakak, Kaf.. Gue bakal selalu ada di sisi lu, gue di sini. Gakpapa, nangisin aja semuanya sama gue. Tenangin diri lu sama gue, ya." Dia mengelus punggung bergetar itu dalam pelukan. Tangis memilukan itu mengiris hatinya. Zafran ikut meneteskan air mata meski ia berusaha tidak berlebihan.

"Jangan pernah minder, ya.. Gue yakin ini cuma sementara. Gue yakin rambutnya nanti makin lebat lagi, sesuka lu nanti mau sepanjang apa, model apa. Tapi yang penting sekarang biarin dulu aja, ya. Gausah merasa minder sama gue, ya. Gue sayang sama lu, dek. Gue gakbisa liat lu begini."

Kafka menatap Abangnya. Dia sebenarnya malu menumpahkan kesedihan ini di depan Abangnya, tapi sungguh, Kafka tak kuat, Kafka tak tau harus menumpahkannya dengan siapa.

"Makasih," Zafran mengangguk, memakaikan topi berwarna coklat di kepala adiknya.

Kafka diam, menatap dua laki-laki yang bersamanya. Lelah, hari ini Kafka terlalu lelah sehabis menjalani kemoterapi kedua. Rambutnya habis, ia muntah sudah tujuh kali, hingga mulutnya tak mampu me-makan apapun lagi untuk mengisi yang sudah keluar. Tubuhnya begitu sakit, rasanya hanya bergesekan dengan baju saja menimbulkan nyeri. Kafka tak tau bagaimana mengungkapkan rasa sakit yang begitu menyakitinya ini.

Tatapannya lemah, tubuhnya hanya bisa bersandar di ranjang pesakitan yang sudah menemaninya dua minggu ini.

"Mau makan atau beli apa gitu gak, dek? Muntah terus kata Papa, biar ada gantinya. Lu gak selera, kan sama makanan di sini? Ayo gue pesenin, terserah mau apa," Kafka menggeleng. Dia merasa tak ada apapun makanan yang ia mau.

"Daritadi Papa udah bujuk. Katanya, gak mau ngapa-ngapain, mau duduk gitu aja."

Zafran menghela nafas. Pasti tersiksa sekali adiknya ini.

"Pa, pulang aja, Pa. Udah di rawat inapnya. Di sini gak bikin aku sembuh,"

"Kalo kalian tanya aku mau apa, aku cuma mau pulang, itu aja. Please. Justru kalo terus di sini aku jadi merasa selalu sakit, nggak ada energi. Selalu mikirnya ke hal yang buruk, mikirnya selalu tentang ma-,"

"Kafka.." Kafka mengangguk pelan ketika ucapannya dicela duluan oleh sang Papa yang seakan tau ke mana arah pembicaraan.

"Papa gak suka. Jangan ngomongin hal yang berbau ke sana. Itu sensitif, dek. Oke, kalo itu maunya adek, Papa usahain." Dua kata terakhir itu membuat Kafka melepaskan pelukan yang dibuat Papanya. Matanya berbinar. Ada secercah harapan yang menantinya.

"Papa akan konsultasi sama dokter, tapi Papa gak bisa maksa. Keputusan tetap ada di dokter. Kafka pulang ya bagus, tapi kalo tetap gak boleh Kafka harus terima." Kafka menelan saliva, dan mengangguk pelan. Ia tidak yakin dokter itu akan memperbolehkannya.

ABOUT RAKAFKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang