35

1.4K 84 14
                                        

Malam, saat di mana dunia perlahan-lahan terbungkus dalam keheningan. Langit yang sebelumnya biru cerah berubah menjadi gelap pekat, dihiasi oleh bintang-bintang yang berkelip lembut, seperti titik-titik cahaya yang bercerita tentang keabadian. Bulan, sang penguasa malam, muncul dengan anggunnya, menyinari bumi dengan cahayanya yang dingin namun menenangkan.

Bagi sebagian orang, malam adalah waktu untuk istirahat, menenangkan tubuh dan pikiran setelah hari yang panjang. Namun, bagi yang lain, malam adalah saat kreativitas memuncak, di mana pikiran bebas melayang tanpa batas. Malam menyimpan rahasia, keheningan, dan kesempatan untuk merenung, seperti sebuah kanvas gelap yang menunggu goresan cerita baru.

Kafka. Pemuda itu kini ada dalam lamunan yang dalam. Meski disekitarnya terdengar sahutan suara dihiasi perbincangan seru, Kafka tak terusik sekalipun. Dalam sandaran sofa, menatap televisi yang menyala seolah dia ada untuk menontonnya.

"Dek, mau susu putih atau coklat?" Kafka mengerjap pelan, memalingkan wajah menatap Abangnya yang berlari dari dapur.

"Coklat." jawabanya singkat. Hingga tak berselang lama, Abangnya kembali dengan membawa dua gelas di tangan. Kafka menatap itu, hingga melihat Abangnya duduk di sampingnya.

"Enak banget cuacanya buat minum yang anget-anget," kata Zafran menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Mama mana?" Kafka mengedarkan pandangan. Terakhir ia melihat Mamanya saat Maghrib tadi.. sementara sekarang sudah jam delapan malam.

"Mama masih masak bareng Mbak Sari. Emang nggak kedengeran? Makanya jangan ngelamun terus, dek." Kafka menggaruk lengannya sebagai reaksi atas apa yang diucapkan Zafran.

Zafran menatap, menepuk tangan Kafka untuk menegur. "Jangan di garuk ih. Nanti luka aja. Udah dipake belum lotionnya?" Kafka menganggukkan kepala, dan mengusap lengannya sejenak.

"Lotionnya udah mau abis," ujarnya, yang membuat Zafran kembali menatapnya.

"Besok beli. Gue yang beli nanti."

"Gue mau ikut. Sekalian jalan-jalan. Boleh, ya?" pinta Kafka. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di supermarket. Mau menghadapi atmosfer di mana dulu ia akan kalap untuk mencari jajanan di sana.

Zafran dengan senyumannya, mengusap rambut Kafka dengan sayang. "Nanti gue yang izin ke Mama."

Kafka mengangguk lagi, lalu kembali memfokuskan dirinya pada tontonan di depannya. Hingga beberapa menit kemudian datang Papanya dari arah belakang. Danish dengan wajah segar sehabis membersihkan dirinya setelah bekerja hari ini. "Ini kok pada diem-diem gini?"

"Papa bawa apa? Kok berani pulang gak bawa apa-apa?"

"Mulai.." Zafran tertawa, menjauhkan diri dari Danish yang ingin menjitak kepalanya.

Kini Danish menatap bungsunya, yang wajahnya.. pucat tengah menatap pada layar televisi di depan mereka. "Kenapa susunya nggak diminum, adek?"

"Nanti sekalian makan. Mama lama banget enggak selesai-selesai."

"Di, anaknya udah kelaperan ni!" Kafka menoleh cepat, menatap tajam Papanya yang teriak.

"Papa nggak perlu teriak-teriak!" ujarnya dengan dengusan di akhir. Kemudian setelahnya ia menatap Mama yang berlari kecil mendekati mereka.

"Siapa yang udah laper? Ayo makan sekarang. Udah jadi kok."

"Nih, nih.. Adek nih, Ma. Katanya Mama lama banget masaknya."

"Ember amat mulutnya." ujar Kafka. Tangangannya memukul lengan Abangnya cukup keras.

"Yaudah sih, kalo laper mah makan sono. Gajelas lu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ABOUT RAKAFKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang