Di sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya.
"Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!"
Dengan wajah penuh kekesalan, ia melempar buku itu ke samping.
Terlalu sibuk mengumpat jalan cerita yang menurutnya tidak masuk akal, gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa rumahnya telah disusupi pencuri.
Pintu kamarnya perlahan terbuka. Dua orang pria bertopeng masuk tanpa suara.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Hingga akhirnya mereka berdiri tepat di belakangnya. Namun sang gadis masih terus menggerutu.
"Nyesel gue beli novel ini. Tau gitu mending nggak usah bel—"
CRASSH!
Sebuah pisau menembus dadanya tepat di bagian jantung.
"AAAKHH!!"
Tubuhnya menegang.
Buku yang tadi ia pegang jatuh ke lantai. Darah mulai mengalir membasahi pakaiannya. Pandangannya perlahan mengabur.
Dengan napas yang semakin lemah, ia bergumam lirih.
"A-apa ini akhir hidup gue...?"
Air mata menggenang di sudut matanya.
"Padahal... gue belum dapet duda kaya..."
Kesadarannya pun lenyap.
Gelap.
__________________________________
Di dunia lain.
Seorang duchess terkenal kejam tengah berdiri di atas alun-alun kota dengan kedua tangan terikat.
Ribuan rakyat memenuhi area eksekusi. Sorakan kebencian terdengar dari segala arah.
Di hadapannya berdiri seorang kaisar dengan pedang terhunus. Tatapannya dingin tanpa sedikit pun belas kasihan.
"Adakah kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan, Duchess? Sebelum kepalamu ku penggal?"
Sang duchess mengangkat wajahnya. Mata merahnya dipenuhi penyesalan dan kemarahan.
"Aku menyesal telah mencintaimu hingga mengabaikan seseorang yang mencintaiku dengan tulus!"
Suasana seketika hening.
Namun kaisar hanya menatapnya dengan jijik.
"Aku lebih jijik dicintai oleh wanita jalang sepertimu."
Cuih.
Ludahnya jatuh tepat di depan kaki sang duchess. Mata wanita itu bergetar. Bukan karena takut. Melainkan karena hatinya akhirnya benar-benar hancur.
Tanpa berkata apa-apa lagi, sang kaisar mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Lalu—
SWIING!
PLASSH!!
Kepala sang duchess terpenggal dan jatuh menggelinding di atas panggung eksekusi.
Sesaat kemudian, sorak-sorai kemenangan menggema memenuhi seluruh alun-alun.
"Hidup Kaisar!"
"Akhirnya penyihir itu mati!"
"Mampus kau, duchess kejam!"
Rakyat bersukacita atas kematiannya. Tak seorang pun merasa sedih. Tak seorang pun berduka.
Atau setidaknya...
Begitulah yang mereka kira.
Di tengah kerumunan, terdapat seorang pria yang berdiri diam. Tatapannya terpaku pada tubuh tanpa kepala sang duchess yang tergeletak di atas panggung.
Mata pria itu dipenuhi kesedihan yang begitu dalam.
Seolah-olah...
Ia baru saja kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan pada detik yang sama ketika kedua wanita itu kehilangan nyawanya. Takdir mulai bergerak.
Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi pun dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasiDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)