Ruangan Kuil Bulan Perak menjadi sunyi.
Calista berdiri mematung menatap bayangan yang masih melayang di udara. Kota-kota yang terbakar, rakyat yang menderita, dan sosok Axton yang berdiri di tengah kehancuran seolah menghantam hatinya tanpa ampun.
"Itu... masa depan?" tanyanya dengan suara gemetar.
Penjaga Gerbang mengangguk perlahan.
"Salah satu kemungkinan yang akan terjadi."
Liliana mengepalkan tangannya.
"Tidak... Axton bukan orang seperti itu."
Pria tua itu menatapnya dalam-dalam.
"Dulu memang tidak."
Jawaban singkat itu membuat Liliana terdiam.
"Apa maksud Anda?"
"Axton yang kau kenal adalah pria yang menemukan kebahagiaan setelah bertemu denganmu. Namun setelah kehilanganmu, sesuatu dalam dirinya ikut mati."
Bayangan di udara berubah.
Kini terlihat Axton duduk sendirian di ruang kerjanya.
Tumpukan dokumen berserakan di atas meja.
Janggut tipis mulai tumbuh di wajahnya.
Matanya merah karena kurang tidur.
Namun yang paling menyakitkan adalah tatapan kosong yang menghuni kedua matanya.
Liliana menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ia belum pernah melihat Axton dalam keadaan seperti itu.
Pria yang selalu kuat dan tegas kini tampak seperti bayangan dirinya sendiri.
"Sudah tiga bulan sejak kematianmu," ujar Penjaga Gerbang.
Mata Calista membelalak.
"Tiga bulan?"
Waktu di kedua dunia ternyata berjalan berbeda.
Baginya, baru beberapa hari sejak ia terbangun di dunia asal.
Namun bagi Axton, sudah tiga bulan penuh ia hidup dalam kehilangan.
"Tidak..." bisiknya lirih.
Bayangan kembali berubah. Kali ini memperlihatkan makam Liliana. Setiap pagi, setiap sore, dan setiap malam. Axton selalu datang.
Membawa bunga yang berbeda setiap harinya. Duduk berjam-jam di depan nisan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seolah berharap seseorang akan menjawab kesunyiannya.
Air mata mulai mengalir di pipi Calista.
"Axton..."
Penjaga Gerbang menghela napas panjang.
"Kau masih memiliki kesempatan untuk mengubah semuanya."
Calista segera mengangkat kepala.
"Aku akan kembali."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa keraguan, tanpa berpikir panjang. Karena jauh di lubuk hatinya, keputusan itu sebenarnya sudah dibuat sejak lama.
Pria tua itu menatapnya tajam.
"Kau bahkan belum mendengar syaratnya."
Calista terdiam.
"Syarat?"
"Gerbang antar dunia tidak dapat dibuka secara cuma-cuma."
Jantung Calista kembali berdebar.
"Syarat apa?"
Pria tua itu mengangkat tongkatnya. Lingkaran sihir besar muncul di lantai. Di tengah lingkaran tersebut muncul dua cahaya. Satu berwarna biru. Satu lagi berwarna emas.
"Jika kau memilih dunia asalmu, kau akan hidup panjang bersama keluargamu."
Cahaya biru bersinar lembut.
"Namun semua kenangan tentang dunia lain akan perlahan menghilang."
Calista membeku.
"Apa?"
"Kau akan melupakan Axton."
Dadanya langsung terasa sesak.
Melupakan Axton?
Melupakan semua kenangan yang telah mereka lalui?
Tidak.
Ia bahkan tidak sanggup membayangkannya.
Kemudian Penjaga Gerbang menunjuk cahaya emas.
"Jika kau memilih kembali ke dunia Axton..."
Calista menahan napas.
"Kau akan mempertahankan seluruh kenanganmu."
Harapan kembali muncul. Namun hanya sesaat, karena pria tua itu melanjutkan perkataannya.
"Tetapi tubuh aslimu di dunia ini akan lenyap selamanya."
Keheningan memenuhi ruangan. Calista merasa dunia di sekitarnya berhenti berputar. Ia teringat ayah dan ibunya.
Mereka yang menunggu selama lima tahun. Mereka yang menangis bahagia saat ia terbangun. Mereka yang akhirnya mendapatkan putri mereka kembali.
Dan kini...
Ia harus meninggalkan mereka lagi. Perlahan air mata jatuh ke lantai marmer kuil.
"Kenapa..." bisiknya.
"Karena setiap takdir memiliki harga."
Penjaga Gerbang menjawab dengan tenang.
Calista menutup matanya. Ingatan tentang kedua orang tuanya muncul. Namun bersamaan dengan itu muncul pula senyum Axton.
Tawa mereka. Momen saat Axton pertama kali memeluknya. Saat pria itu berbicara pada bayi yang ada di dalam kandungannya. Dan saat Axton menangis sambil memeluk tubuhnya yang telah dingin.
Air mata Calista semakin deras. Pilihan ini terlalu kejam, sangat kejam. Namun akhirnya ia membuka mata.
Tatapannya berubah tegas. "Aku sudah memutuskan."
Penjaga Gerbang memperhatikannya.
Calista menatap cahaya emas. Lalu tersenyum tipis meski air matanya masih mengalir.
"Aku tidak ingin hidup dengan melupakan orang yang paling kucintai."
Cahaya di seluruh kuil langsung bergetar hebat.
Angin kencang berembus dari segala arah. Penjaga Gerbang perlahan tersenyum.
"Begitu rupanya pilihanmu."
Tiba-tiba kalung bulan sabit di leher Calista memancarkan cahaya yang jauh lebih terang dari sebelumnya.
Lingkaran sihir mulai berputar. Lantai kuil bergetar. Gerbang antar dunia perlahan terbuka.
Namun saat cahaya memenuhi seluruh ruangan...
Sebuah suara asing yang penuh kebencian tiba-tiba terdengar dari balik gerbang.
"Akhirnya aku menemukanmu..."
Calista dan Penjaga Gerbang langsung menoleh bersamaan. Dari dalam kegelapan gerbang, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka.
Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai...
Calista merasakan bahaya yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasyDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)