TA(Chap 12: Pengakuan yang tertunda)

8.1K 403 5
                                        

Malam panjang itu akhirnya berganti dengan pagi.

Sinar matahari menembus celah tirai kamar, sementara kicauan burung terdengar saling bersahutan dari luar jendela.

Namun suara-suara itu sama sekali tidak mampu membangunkan pasangan suami istri yang masih terlelap dalam tidurnya.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Hingga akhirnya terdengar lenguhan pelan dari Liliana.

Perlahan ia membuka mata.

Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, rasa tidak nyaman di seluruh tubuhnya segera menyergap. Terutama pada bagian pinggang dan kakinya yang terasa pegal.

Liliana menoleh ke samping. Di sana, Axton masih tertidur dengan damai. Melihat wajah pria itu, perasaan yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa malam yang seharusnya menjadi momen berharga bagi pasangan suami istri justru terjadi dalam keadaan yang begitu kacau.

Semakin memikirkannya, semakin sesak dadanya.

Akhirnya Liliana menangis.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam suara tangisannya agar tidak membangunkan Axton.

Namun usaha itu sia-sia.

Axton perlahan membuka mata dan langsung mendapati istrinya sedang menangis.

Seketika rasa bersalah memenuhi hatinya.

Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih Liliana ke dalam pelukannya.

Meski sempat mendapat penolakan, Axton tetap memeluknya dengan lembut.

"Ssst... maafkan aku," bisiknya penuh penyesalan. "Ini semua salahku."

"T-tidak..." Liliana menggeleng sambil terisak. "Ini bukan salahmu. Ini salahku karena sembarangan mengambil minuman itu."

"Ssst... tenanglah."

Axton mengusap rambutnya perlahan.

"Lupakan kejadian tadi malam. Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi."

Kemudian ia mengecup lembut kelopak mata Liliana yang memerah akibat menangis.

Perlahan tangisan Liliana mereda.

Ia mulai merasa tenang dalam pelukan hangat suaminya.

Namun beberapa saat kemudian, wajahnya kembali pucat.

Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan detik berikutnya, Liliana kembali menangis.

Axton yang melihatnya langsung panik.

"Hey, kenapa lagi?" tanyanya lembut.

Liliana menatapnya dengan wajah cemas.

"A-Axton..."

"Hm?"

"Bagaimana jika aku hamil?"

Sejenak suasana menjadi hening.

Lalu...

Axton tertawa kecil.

Bukan karena mengejek, melainkan karena pertanyaan itu terdengar sangat polos.

Liliana langsung merengut kesal.

Bugh!

Tinju kecilnya mendarat di dada Axton.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang