TA(Chap 18: Panggilan yang menegangkan)

3.6K 192 8
                                        

Tak terasa, satu bulan telah berlalu sejak kabar kehamilan Liliana tersebar ke seluruh penjuru kekaisaran. Ucapan selamat dan doa terus mengalir dari para bangsawan maupun rakyat yang mengenal pasangan tersebut.

Kini, setelah mengantar kedua orang tua mereka pulang, Axton dan Liliana menikmati waktu berdua di kamar mereka.

Axton duduk di sisi ranjang sambil mengelus lembut perut istrinya yang masih belum terlalu terlihat. Tatapannya dipenuhi kebahagiaan dan harapan.

"Aku sudah tidak sabar menunggu kehadiran anak kita nanti," ucap Axton lembut sembari mencium perut Liliana penuh kasih sayang.

Liliana terkekeh pelan.

"Masih lama, Axton. Setidaknya masih delapan bulan lagi sebelum ia lahir."

Axton tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil terus mengusap perut sang istri, seolah sedang berkomunikasi dengan calon buah hatinya.

Namun, momen hangat itu terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar.

Tok... tok... tok...

Axton berdecak pelan. Jelas terlihat ia tidak senang waktu berduaan dengan istri dan anaknya yang masih dalam kandungan harus terganggu.

Dengan langkah malas, ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada kurang bersahabat.

Di balik pintu berdiri Daniel yang langsung membungkukkan badan hormat.

"Tuan, Anda mendapat panggilan darurat untuk segera menghadap ke istana kekaisaran."

Axton mengernyit.

"Tidak bisa menunggu sampai besok?"

Daniel menggeleng.

"Maaf, Tuan. Situasinya mendesak. Telah terjadi pemberontakan di wilayah perbatasan utara. Kerajaan Utara dikabarkan mengangkat senjata melawan kekaisaran."

Raut wajah Axton langsung berubah serius.

Kerajaan Utara bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Mereka memiliki pasukan militer yang terkenal kuat dan disiplin. Meski pasukan yang dilatih Axton juga berada di jajaran terbaik kekaisaran, perang melawan mereka tetap bukan perkara mudah.

"Kalau begitu, siapkan kereta. Kita berangkat sekarang juga."

"Baik, Tuan."

Daniel segera pergi untuk mempersiapkan keberangkatan.

Setelahnya, Axton kembali ke kamar dan menemui Liliana.

"Sayang, maaf. Aku harus pergi ke istana sekarang juga. Ada urusan penting yang tidak bisa ditunda."

Liliana menghela napas sebelum mengangguk pelan.

"Baiklah... hati-hati di jalan."

Axton tersenyum dan mengecup kening istrinya.

"Tentu. Setelah semuanya selesai, aku akan menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu."

Liliana akhirnya tersenyum tipis.

"Kalau begitu cepatlah pergi. Semakin cepat urusanmu selesai, semakin cepat kau pulang."

Axton tertawa kecil.

"Baik, Nyonya Duke."

Ia kembali mencium kening Liliana, mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang, lalu melangkah keluar kamar.

Tak lama kemudian, Axton tiba di istana kekaisaran.

Ia langsung diarahkan menuju ruang pertemuan para petinggi kekaisaran.

Di dalam ruangan megah itu, para duke, marquis, count, serta petinggi militer sedang berdiskusi serius mengenai situasi di wilayah utara.

Berdasarkan laporan yang diterima, pemberontakan tersebut diduga dipicu oleh campur tangan Kekaisaran Timur, musuh lama yang memang tidak menyukai perkembangan pesat Kekaisaran Barat.

Suasana ruang rapat dipenuhi berbagai pendapat dan usulan.

Sebagian mengusulkan pengiriman pasukan tambahan, sementara yang lain menyarankan para bangsawan dengan kekuatan militer besar turun langsung ke medan perang.

Pada akhirnya, Kaisar menerima usulan tersebut.

Beberapa duke dan bangsawan terkuat dipilih untuk memimpin pasukan dan membantu menumpas pemberontakan.

Dan salah satu nama yang disebut adalah Axton.

Tak ada yang terkejut dengan keputusan itu.

Sebagai seorang duke muda yang memiliki jabatan tinggi serta pasukan elit yang terkenal kuat, Axton memang merupakan pilihan terbaik.

Namun di balik ketenangannya, ada beban yang mulai menghimpit hati Axton.

Ia harus meninggalkan Liliana yang sedang mengandung anak pertama mereka.

Meski berat, ia tidak memiliki pilihan lain.

Sebagai seorang duke sekaligus pelindung kekaisaran, ia wajib menjalankan tugasnya.

Setelah berbagai keputusan ditetapkan, rapat akhirnya berakhir.

Para petinggi kekaisaran pun kembali ke kediaman masing-masing untuk mempersiapkan keberangkatan yang dijadwalkan esok pagi.

Malam telah larut ketika Axton kembali ke kediamannya.

Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju kamar pribadinya dengan niat memberitahukan kabar keberangkatannya kepada Liliana.

Clek...

Pintu kamar terbuka perlahan.

Namun langkahnya langsung terhenti.

Di atas ranjang, Liliana terlihat sudah tertidur pulas.

Wajah cantiknya tampak begitu damai.

Melihat pemandangan itu, Axton mengurungkan niatnya.

Ia tidak tega membangunkan sang istri hanya untuk menyampaikan kabar yang pasti akan membuatnya khawatir.

Dengan hati yang berat, Axton memilih mempersiapkan seluruh perlengkapan perang yang akan dibawanya esok hari.

Pedang, baju zirah, dokumen militer, hingga berbagai kebutuhan perjalanan disusunnya dengan rapi.

Setelah semuanya selesai, ia kembali menatap Liliana yang masih tertidur.

Perlahan, Axton naik ke atas ranjang dan berbaring di samping istrinya.

Satu tangannya merangkul tubuh Liliana, sementara tangan lainnya mengusap lembut perut yang menyimpan calon pewaris mereka.

Tatapannya dipenuhi rasa sayang dan kerinduan yang bahkan belum sempat terjadi.

Besok pagi, ia harus berangkat menuju medan perang.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui kehamilan Liliana, Axton akan meninggalkan mereka dalam waktu yang tidak diketahui.

Dengan pikiran yang dipenuhi berbagai kekhawatiran dan harapan, Axton akhirnya memejamkan mata.

Malam itu menjadi malam terakhir yang dapat ia habiskan bersama keluarganya sebelum peperangan dimulai.
_________________________________________________

Aku hanya memberikan tahukan kepada kalian kalau cerita ini kurang dari empat chapter lagi mungkin akan ending. untuk kalian Jangan lupa vote and comment, kalau votenya sudah 100 aku akan update okee
terimakasih

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang