TA(Chap 15: Jika semua ini hanya mimpi)

6.6K 318 4
                                        

Sedikit Cerita Tentang Kehidupan Calista

Kabar kehamilan Liliana telah menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Barat.

Bukan hanya keluarga Alfiend yang berbahagia, tetapi juga para bangsawan dan rakyat biasa.

Setelah dua tahun pernikahan, akhirnya pasangan yang begitu dihormati itu akan memiliki seorang pewaris.

Banyak orang memberikan doa dan harapan terbaik untuk keluarga mereka.

Namun berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan orang-orang di luar sana, wanita yang menjadi pusat perhatian itu justru tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.

Saat ini Liliana duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke luar jendela.

Sudah beberapa hari terakhir ia sering melamun seperti ini.

Sejak mengetahui dirinya hamil, ada satu ketakutan yang terus menghantuinya.

Bagaimana jika suatu hari nanti ia harus kembali ke dunia asalnya?

Bagaimana jika sebelum anaknya lahir, jiwanya tiba-tiba menghilang dan kembali ke kehidupan lamanya?

Meskipun Liliana yang asli pernah mengatakan bahwa tubuh ini telah sepenuhnya menjadi miliknya, tetap saja Calista tidak bisa menghilangkan rasa takut itu.

Bagaimana jika semua itu hanya ucapan untuk menenangkannya?

Bagaimana jika suatu hari ia benar-benar terbangun di dunia lamanya?

Semakin dipikirkan, dadanya terasa semakin sesak.

Ia tidak ingin kembali.

Sungguh tidak ingin.

Di dunia ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan apa arti sebuah keluarga.

Di sini ada Axton. Ada keluarga Alfiend. Dan sebentar lagi, akan ada seorang anak yang lahir dari rahimnya. Di dunia ini, ia merasa dicintai. Merasa dibutuhkan. Merasa keberadaannya berarti.

Perlahan mata Calista mulai berkaca-kaca.

Selama hidup sebagai Calista di dunia asalnya, ia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini.

Ia adalah anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Anak yang tumbuh dengan menyaksikan kedua orang tuanya saling melempar kesalahan atas kelahirannya.

Meski begitu, ia tetap berharap.

Berharap suatu hari nanti mereka akan memeluknya.

Mengusap kepalanya.

Mengatakan bahwa mereka menyayanginya.

Namun harapan itu tidak pernah terwujud.

Yang ia dapatkan hanyalah luka demi luka.

Dan sekarang...

Saat akhirnya ia menemukan kebahagiaan yang selama ini diimpikan, ia justru dihantui ketakutan akan kehilangan semuanya.

Calista menggenggam erat gaun yang dikenakannya.

Ia menundukkan kepala. "Kalau semua ini hanya mimpi..."

Suaranya terdengar begitu pelan. "...aku rela tidur selamanya."

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki rumah.
__________________________

Tanpa disadari, seseorang sejak tadi memperhatikannya dari ambang pintu.

Axton berdiri diam sambil memandangi istrinya.
Belakangan ini ia menyadari satu hal. Liliana semakin sering melamun. Terkadang saat sarapan. Terkadang saat membaca buku.
Bahkan saat sedang berbicara dengannya.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang