TA(Chap 11: Babak baru yang mengubah kehidupan)

8K 383 8
                                        

Di aula istana yang megah, pesta ulang tahun Kaisar tengah berlangsung dengan meriah.

Para bangsawan dari berbagai wilayah berkumpul, menikmati hidangan mewah sambil berbincang satu sama lain.

Di salah satu sudut aula, Liliana tampak sibuk mencicipi berbagai jenis kue yang tersaji di meja hidangan.

"Mm... ini sangat enak. Nanti saat kembali ke Kediaman Alfiend, aku harus meminta koki membuatnya," gumam Liliana dengan wajah ceria.

Saat sedang menikmati kue favoritnya, beberapa lady bangsawan tiba-tiba menghampirinya.

"Salam, Duchess Alfiend. Semoga Anda selalu diberikan kesehatan dan keselamatan."

Sapaan itu diucapkan oleh salah satu lady dan segera diikuti oleh yang lainnya.

"Ah... ya, terima kasih," jawab Liliana sedikit gugup.

Ini adalah pertama kalinya ia berinteraksi dengan begitu banyak bangsawan sekaligus.

Namun, tanpa basa-basi maupun perkenalan yang semestinya dilakukan dalam etika kaum bangsawan, salah satu lady tiba-tiba angkat bicara.

"Duchess Alfiend, bagaimana rasanya menjadi istri pria paling berpengaruh di Kekaisaran Barat setelah Yang Mulia Kaisar?"

Nada bicaranya terdengar sinis.

Liliana mengernyit bingung.

Entah mengapa, para wanita di hadapannya tampak menyimpan rasa tidak suka. Dari cara mereka memandangnya, Liliana dapat merasakan kecemburuan yang cukup jelas.

Dengan senyum tipis, Liliana menjawab,

"Tentu saja menyenangkan. Kami bisa membeli apa pun yang kami inginkan tanpa perlu memikirkan harganya. Selain itu, orang-orang selalu menghormati kami, baik bangsawan berpangkat tinggi maupun rendah."

Nada bangga yang tersirat dalam jawabannya membuat ekspresi para lady itu langsung berubah.

Wajah mereka tampak semakin kesal.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, mereka berbalik pergi begitu saja.

Bahkan tidak ada salam perpisahan yang biasanya diwajibkan dalam etika bangsawan.

Liliana hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.

Baginya, percakapan barusan sama sekali tidak menarik.

Ia kembali melanjutkan acara mencicipi kue-kue yang sempat tertunda.

Dari kejauhan, Axton yang menyaksikan seluruh kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala.

Kemudian ia berjalan menghampiri istrinya.

Karena terlalu fokus menikmati makanan, Liliana sama sekali tidak menyadari kehadiran Axton di belakangnya.

"Apa yang sedang kau makan, Istriku?" tanya Axton lembut.

Mendengar suara itu, Liliana langsung terkejut dan menoleh.

Matanya membulat saat melihat Axton berdiri di belakangnya.

Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah panggilan yang baru saja ia dengar.

"I-Istriku?"

Pipinya langsung memanas.

"Ada apa?" tanyanya gugup.

Axton tersenyum tipis.

"Aku hanya bertanya, apa yang sedang kau makan, Istriku?"

Liliana semakin salah tingkah.

"T-tunggu... kau tadi memanggilku apa?"

"Istriku," jawab Axton santai.

"H-hah? Kenapa tiba-tiba memanggilku begitu?"

"Karena kau memang istriku. Bukankah itu wajar?"

Senyum jahil yang muncul di wajah Axton membuat Liliana semakin gugup.

Untuk mengalihkan perhatiannya, ia segera mengambil segelas minuman dari nampan seorang pelayan yang kebetulan lewat.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung meminumnya hingga habis.

Namun beberapa saat kemudian, Liliana mulai merasa ada yang tidak beres.

Tubuhnya terasa panas.

Sangat panas.

Ia mulai mengipasi wajahnya dengan tangan sambil menggeliat tidak nyaman.

Melihat perubahan sikap Liliana, tatapan Axton langsung berubah tajam.

Ia menoleh kepada pelayan yang membawa minuman tadi.

"Minuman apa yang diminum istriku?" tanyanya dingin.

Pelayan itu langsung pucat.

"M-Maaf, Tuan... minuman itu sebenarnya telah dicampur sesuatu dan seharusnya diberikan kepada--"

"Cukup."

Suara Axton terdengar dingin dan penuh tekanan.

"Pergi."

Pelayan itu segera membungkuk ketakutan sebelum buru-buru meninggalkan tempat tersebut.

Sementara itu, kondisi Liliana semakin memburuk.

Tanpa membuang waktu, Axton langsung menggendongnya dan membawa sang istri menuju kamar yang telah disediakan pihak istana.

Sepanjang perjalanan, Liliana terus mengeluhkan rasa panas yang menyelimuti tubuhnya.

Bahkan beberapa kali ia mencoba melepaskan aksesori dan lapisan pakaian yang dikenakannya.

Axton hanya bisa menahan dan menenangkannya sebisa mungkin.
____________________________

Sesampainya di kamar, ia segera membaringkan Liliana di atas tempat tidur.

"Hiks... Suamiku... tubuhku terasa sangat panas..." rengek Liliana dengan mata berkaca-kaca.

Melihat keadaan istrinya, Axton berusaha tetap tenang.

Ia lalu membawanya ke kamar mandi dengan harapan air dingin dapat membantu meredakan kondisinya.

Namun situasi tetap tidak mudah.

Liliana yang sudah kehilangan sebagian kesadarannya terus mengeluh dan memohon agar rasa panas itu segera hilang.

Sementara itu, Axton harus berjuang keras menjaga kendali dirinya sendiri.

Bagaimanapun juga, wanita yang dicintainya kini berada sangat dekat dengannya.

Meski demikian, Axton tidak ingin memanfaatkan keadaan.

Ia ingin Liliana membuat keputusan dengan kesadarannya sendiri, bukan karena pengaruh apa pun.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya.

Perasaan yang selama ini mereka pendam perlahan mulai terungkap, sementara jarak yang selama ini memisahkan hati mereka sedikit demi sedikit mulai menghilang.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun pernikahan, hubungan mereka memasuki babak baru yang akan mengubah kehidupan keduanya untuk selamanya.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang