TA(Chap 31: Kembalinya sang Duchess)

576 23 3
                                        

Cahaya keemasan memenuhi seluruh pandangan Calista. Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang di antara ruang dan waktu.

Namun perlahan, ia mulai merasakan sesuatu.
Angin. Aroma bunga mawar. Dan suara seseorang yang memanggil namanya.

"Liliana..."

Suara itu bergetar. Penuh harapan. Penuh ketakutan. Dan sangat familiar. Kelopak mata Calista bergerak perlahan. Saat ia membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah langit biru Kekaisaran Barat. Kemudian wajah seorang pria.Wajah yang selama ini selalu ia rindukan.

"Axton..."

Bibirnya bergerak pelan.

Namun suara itu cukup untuk membuat pria di hadapannya membeku. Mata Axton membelalak. Tubuhnya gemetar hebat.

Seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. "Liliana?"

Air mata mulai memenuhi matanya.

"Liliana...?"

Calista yang sudah kembali ke tubuh Liliana tersenyum lemah. Meski air matanya sendiri telah mengalir tanpa henti.

"Aku kembali..."

Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahanan Axton. Pria yang selama berbulan-bulan menahan kesedihan seorang diri itu langsung memeluknya erat.

Sangat erat. Seolah takut Liliana akan menghilang jika ia melepaskannya.

"Liliana..." Suaranya pecah.

"Aku benar-benar kehilanganmu..." Bahunya bergetar hebat.

Untuk pertama kalinya sejak kematian Liliana, Duke Axton Everhart menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

"Aku mencarimu setiap hari..."

"Axton..."

"Aku datang ke makam itu setiap hari..."

Liliana menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak mendengar semua itu.

"Aku minta maaf..."

Axton menggeleng cepat. "Jangan."

Tangannya memegang wajah Liliana. Seolah memastikan wanita itu benar-benar ada. Benar-benar hidup.

"Bukan salahmu."

Mata mereka saling bertemu. Begitu banyak kerinduan. Begitu banyak rasa sakit. Begitu banyak hal yang ingin mereka katakan. Namun tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan semuanya. Karena pada akhirnya mereka hanya saling berpelukan lagi.
Dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti berputar.

Tak jauh dari sana. Para pengawal yang mengikuti Axton hanya bisa berdiri terpaku.
Mereka menyaksikan semuanya sejak awal.
Menyaksikan cahaya aneh yang muncul dari makam sang Duchess.

Dan kini...

Menyaksikan seseorang yang seharusnya telah meninggal dunia berdiri hidup di hadapan mereka.

"Itu..."

"Sang Duchess..."

"Yang Mulia Duchess hidup?"

Kabar itu menyebar begitu cepat. Kurang dari satu jam. Seluruh wilayah Duke Alfiend gempar. Pelayan-pelayan menangis bahagia.
Para ksatria tidak percaya.

Bahkan keluarga Liliana yang mendengar kabar tersebut segera berangkat menuju mansion.
Semua orang menganggapnya sebagai keajaiban.

Namun hanya Liliana yang tahu. Bahwa ini bukanlah keajaiban. Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Malam harinya.

Mansion Alfiend yang selama berbulan-bulan diselimuti kesedihan akhirnya kembali dipenuhi cahaya. Namun berbeda dengan suasana bahagia yang dirasakan semua orang.

Liliana justru berdiri sendirian di balkon kamarnya. Tatapannya mengarah ke bulan yang menggantung di langit. Pikirannya masih dipenuhi perkataan Lunaria.

"Kau akan mengetahui harga sebenarnya dari pilihanmu."

"Apa maksud perkataan itu?" Mengapa Dewi Lunaria terlihat begitu sedih saat mengucapkannya?

"Liliana." Suara Axton membuatnya menoleh.

Pria itu berjalan mendekat. Masih sulit dipercaya bahwa mereka akhirnya bisa berdiri berdampingan lagi. Axton menyelimutkan mantel hangat ke bahunya.

"Udara malam dingin."

Liliana tersenyum kecil. "Terima kasih."

Untuk beberapa saat mereka hanya memandangi langit. Hingga akhirnya Axton berbicara.

"Kau tidak terlihat bahagia."

Liliana terdiam.

Tentu saja Axton menyadarinya. Pria itu selalu bisa membaca dirinya.

"Ada sesuatu yang terjadi, bukan?"

Liliana mengepalkan tangannya. Ia ingin menceritakan semuanya. Tentang Veridian.
Tentang Lunaria. Tentang ancaman yang sedang mendekat.

Namun sebelum sempat berbicara, tiba-tiba rasa nyeri yang luar biasa menusuk dadanya.

"Akh!" Tubuhnya limbung.

"LILIANA!"

Axton langsung menangkap tubuhnya. Wajah Liliana mendadak pucat. Sangat pucat. Seolah seluruh darah dalam tubuhnya menghilang dalam sekejap.

Di bawah sinar bulan. Sebuah tanda bercahaya berwarna emas perlahan muncul di pergelangan tangan kirinya. Tanda yang belum pernah ada sebelumnya.

Mata Liliana membelalak. Karena ia mengenali simbol itu. Simbol yang muncul di lantai Kuil Bulan Perak. Simbol Gerbang Takdir.

Dan saat tanda itu muncul, sebuah suara kembali bergema di dalam kepalanya.

"Seratus hari telah dimulai."

Tubuh Liliana langsung membeku. Sementara di langit malam yang jauh di utara. Retakan hitam kecil perlahan muncul di antara awan.

Menjadi pertanda bahwa Veridian belum benar-benar dikalahkan. Dan perang yang sesungguhnya...

Akan segera dimulai.
_________________________________________________

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang