Setelah perdebatan panjang yang sama sekali tidak menghasilkan apa pun, pasangan suami istri itu akhirnya menikmati waktu berdua di taman belakang kediaman mereka.
Liliana duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil menikmati semangkuk rujak buah. Sementara itu, Axton hanya duduk di sampingnya, memandangi sang istri dengan tatapan penuh kasih dan kekaguman.
Sejujurnya, Axton masih merasa heran melihat makanan yang sedang disantap Liliana. Di zaman ini, makanan seperti rujak buah bahkan belum pernah ada. Namun, selama itu bisa membuat istrinya bahagia, ia memilih untuk tidak banyak bertanya.
Saking nikmatnya makanan itu, Liliana sampai lupa bahwa sejak tadi Axton hanya memperhatikannya tanpa henti.
"Apakah seenak itu, Sayang?" tanya Axton sambil tersenyum tipis.
Liliana mengangguk antusias.
"Tentu saja. Ini sangat enak. Apa kau ingin mencobanya?"
Axton langsung menggeleng cepat.
"Tidak."
Hanya melihat campuran buah dengan bumbu berwarna mencurigakan itu saja sudah membuatnya ragu. Apalagi harus mencicipinya.
Liliana hanya terkekeh pelan sebelum kembali menikmati makanannya.
Suasana damai itu berlangsung beberapa saat, hingga tiba-tiba seseorang datang dan menghancurkan ketenangan mereka.
"AXTON! AKU MERINDUKANMU!"
Sebuah suara nyaring terdengar dari kejauhan.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, seorang gadis berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh Axton dari belakang.
Baik Axton maupun Liliana sama-sama terkejut.
Namun, keterkejutan Axton segera berubah menjadi kemarahan.
Dengan kasar ia melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh gadis tersebut hingga terjatuh ke tanah.
Bruk!
Gadis itu menatapnya tak percaya, lalu mulai menangis.
"SIALAN! APA KAU TIDAK PUNYA RASA MALU?!" bentak Axton dengan wajah memerah karena amarah.
Tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi.
Alih-alih merasa iba, Axton justru semakin muak. Tanpa ragu ia memanggil para prajurit yang berjaga di sekitar kediaman.
"Prajurit!"
Beberapa orang segera berlari menghampiri.
"Usir gadis ini dari sini sekarang juga!"
"Baik, Tuan."
Melihat para prajurit mendekat, gadis itu panik. Dengan wajah berantakan akibat tangisannya, ia menunjuk ke arah Liliana yang sejak tadi hanya menyaksikan kejadian tersebut.
"Hiks... Axton! Aku tidak mau pergi!" teriaknya. "Aku merindukanmu! Kenapa kau mengusirku?!"
Ia lalu menatap Liliana dengan penuh kebencian.
"Itu pasti karena perempuan itu, bukan?! Dia yang menyuruhmu mengusirku, kan?!"
Liliana yang awalnya memilih diam akhirnya ikut kesal.
Apa-apaan ini?
Dia bahkan tidak mengatakan apa pun sejak awal.
"Heh," ujar Liliana sambil menyilangkan tangan. "Apa sebenarnya masalahmu? Kau tiba-tiba datang ke rumah orang lain, membuat keributan, lalu menyalahkan orang yang bahkan tidak ikut campur. Itu sangat tidak sopan."
Mendengar perkataan itu, wajah gadis bernama Anne De Dominic tersebut memerah karena marah.
"Kau jalang!" teriak Anne histeris. "Aku akan membunuhmu!"
Ia berusaha menerjang Liliana, tetapi para prajurit segera menahannya.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Sialan!"
"Cepat bawa dia pergi!" perintah Axton dingin.
"Baik, Tuan."
Tak peduli seberapa keras Anne memberontak dan berteriak, para prajurit tetap menyeretnya keluar dari area kediaman.
Setelah sosok gadis itu menghilang dari pandangan, suasana kembali tenang.
Axton menghela napas panjang sebelum menjatuhkan dirinya di kursi taman di samping Liliana.
Melihat suaminya yang tampak lelah, Liliana menyodorkan segelas air.
Axton menerimanya dan meneguk air itu perlahan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan.
Hingga akhirnya Axton membuka suara lebih dulu.
"Maaf."
Liliana menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena perempuan gila tadi merusak piknik kita."
Liliana tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya.
"Kalau boleh bertanya..."
Axton menatapnya lembut.
"Tentu. Apa yang ingin kau tanyakan, Sayang?"
Liliana tampak ragu sejenak.
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia tiba-tiba datang dan memelukmu seperti itu?"
Axton mengembuskan napas panjang sebelum menjawab.
"Namanya Anne De Dominic. Putri seorang Perdana Menteri di kekaisaran."
Liliana mengangguk pelan.
"Dia sudah menyukaiku sejak lama. Bahkan jauh sebelum kita menikah."
Mendengar penjelasan itu, Liliana akhirnya mengerti.
Pantas saja gadis itu begitu berani.
Statusnya sebagai putri seorang Perdana Menteri jelas membuatnya terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Namun sebelum Liliana sempat memikirkan lebih jauh, Axton tiba-tiba meraih tangannya.
"Jangan dipikirkan lagi."
Liliana menoleh.
"Aku tidak pernah merespons perasaannya."
Tatapan Axton berubah hangat.
"Karena di hatiku hanya ada dirimu, Sayang."
Ia bahkan mengedipkan sebelah mata dengan sengaja.
Seketika wajah Liliana memerah.
"Apa-apaan sih..." gerutunya malu.
Ia segera bangkit dari kursinya.
"Sudah siang. Aku mau masuk."
Melihat istrinya kabur karena salah tingkah, Axton justru tertawa pelan.
"Sayang, tunggu aku!"
Dengan langkah cepat, ia segera menyusul Liliana yang berjalan masuk ke dalam kediaman.
Dan untuk pertama kalinya sejak Anne datang membuat keributan, senyum kembali menghiasi wajah keduanya.
_________________________________________________
Hai kakak-kakak, lama nih aku gk update.
Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah setia menunggu cerita ku.
Oh ya, aku lihat-lihat vote nya mulai nurun nih. Boleh lah kasih vote nya dan jangan lupa komen ya.
Terimakasih.👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantastikDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)