Mentari bahkan belum menampakkan sinarnya ketika Axton telah selesai mempersiapkan segala perlengkapan perangnya. Suasana kediaman masih begitu sunyi, hanya suara langkah kaki para pelayan yang sesekali terdengar di lorong.
Dengan langkah pelan, Axton memasuki kamar dan mendekati ranjang tempat istrinya tertidur lelap. Senyum tipis terukir di wajahnya saat melihat Liliana yang memeluk selimut dengan damai.
"Sayang... bangunlah. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Axton lembut sembari menepuk pelan pipi Liliana.
"Eghh... ada apa, Axton?" tanya Liliana dengan suara serak khas orang yang baru terbangun. Ia mengucek matanya perlahan sebelum menatap suaminya.
Axton menarik napas dalam-dalam. Ada keraguan yang tersimpan di dalam hatinya.
"Aku ingin meminta izin darimu, sayang. Aku harus pergi ke medan perang selama kurang lebih lima bulan."
"Pe-perang?" ulang Liliana dengan wajah yang langsung memucat.
"Ya. Wilayah kekaisaran sedang berada dalam ancaman. Aku tidak bisa menolak perintah ini. Sebagai seorang Duke sekaligus panglima perang, ini adalah tanggung jawab yang harus aku jalankan."
Mendengar penjelasan itu, Liliana terdiam.
Pikirannya dipenuhi berbagai macam kekhawatiran. Bagaimana dirinya yang sedang mengandung harus menjalani hari-hari tanpa Axton? Memang ada banyak pelayan dan prajurit yang menjaga kediaman, tetapi itu tidak akan pernah sama dengan kehadiran suaminya di sisinya.
Namun, yang paling membuatnya gelisah adalah ingatan tentang isi novel yang pernah ia baca.
Dalam cerita itu, Axton mengalami luka yang sangat parah di medan perang hingga jatuh koma selama satu bulan. Bahkan setelah terbangun, ia kehilangan penglihatan pada salah satu matanya.
Mengingat hal itu membuat hati Liliana terasa sesak.
Sementara itu, Axton mulai merasa cemas melihat istrinya yang terus terdiam. Ia takut Liliana tidak mengizinkannya pergi. Meski dalam hatinya sendiri ia juga enggan meninggalkan keluarganya, ia tidak memiliki pilihan lain.
Keheningan berlangsung cukup lama sebelum akhirnya Liliana membuka suara.
"Baiklah..." katanya pelan. "Jika itu memang perintah Kaisar, aku tidak bisa melakukan apa pun selain mengizinkanmu pergi."
Mendengar jawaban itu, Axton menghela napas lega.
"Terima kasih, sayang."
Meski begitu, rasa bersalah tetap menghantui dirinya.
"Kalau begitu, aku harus segera berangkat menuju medan perang."
Liliana menundukkan kepala sesaat sebelum mengangkat wajahnya kembali.
"Aku akan mengantarmu sampai depan."
Tak lama kemudian, mereka berjalan keluar menuju halaman utama kediaman. Puluhan prajurit telah bersiap dengan kuda dan perlengkapan perang mereka. Udara pagi yang dingin terasa semakin menusuk karena perpisahan yang akan segera terjadi.
Axton menggenggam kedua tangan Liliana dengan erat.
"Dengarkan aku baik-baik," ucapnya lembut. "Selama aku tidak ada, kau harus menjaga dirimu dan bayi kita. Jangan pergi ke mana pun tanpa pengawal. Mengerti?"
Liliana mengangguk.
"Tentu. Tapi kau juga harus berjanji padaku."
"Apa itu?"
"Pulanglah dengan selamat."
Permintaan sederhana itu membuat Axton terdiam sejenak.
"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu," jawabnya jujur. "Namun aku berjanji akan melakukan segala cara agar bisa kembali. Aku ingin berada di sisimu saat anak kita lahir."
Senyuman hangat menghiasi wajahnya.
Melihat senyum itu, hati Liliana yang sejak tadi dipenuhi kecemasan sedikit demi sedikit menjadi lebih tenang.
Ia membalas senyum tersebut, meski matanya mulai terasa panas.
Mereka saling berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi.
Setelah melepaskan pelukannya, Axton menaiki kudanya. Satu per satu para prajurit mengikuti sang panglima.
Dengan tatapan yang tak pernah lepas dari sosok suaminya, Liliana berdiri di halaman kediaman hingga rombongan itu semakin jauh dan akhirnya menghilang di balik cakrawala.
Saat itulah perasaan hampa mulai memenuhi dadanya.
Entah mengapa, ada firasat buruk yang terus mengganggu pikirannya. Seolah-olah sesuatu akan terjadi di medan perang nanti.
Sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Termasuk dirinya.
Termasuk Axton.
Liliana menggenggam erat perutnya yang masih datar dan menatap ke arah jalan yang telah ditinggalkan sang suami.
Dalam hati, ia hanya bisa berdoa.
Semoga firasat itu salah.
Dan semoga Axton dapat kembali dengan selamat ke sisinya.
_________________________________________________
50 ⭐ aku update yaa
Jangan lupa vote and comment
Terimakasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasyDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)