"Axton..."
Liliana terbangun perlahan. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamarnya. Namun rasa nyeri yang muncul semalam masih belum hilang sepenuhnya.
Ia menoleh ke samping. Axton tertidur di kursi dekat tempat tidurnya. Pria itu bahkan tidak mengganti pakaiannya sejak tadi malam.
Sepertinya ia berjaga sepanjang malam. Melihat wajah lelah itu, hati Liliana terasa sesak.
Setelah semua yang terjadi. Setelah kehilangan dirinya selama berbulan-bulan.
Kini ia kembali. Namun mungkin hanya untuk sementara. Perlahan Liliana menatap pergelangan tangan kirinya.
Dan benar saja.
Tanda emas itu masih ada. Bahkan kini terlihat lebih jelas. Membentuk lingkaran kuno dengan simbol-simbol yang tidak dikenalnya.
"Seratus hari telah dimulai."
Suara itu kembali terngiang di kepalanya. Membuat wajahnya memucat. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelah seratus hari berakhir.
"Yang Mulia Duchess!"
Para pelayan langsung menangis saat melihat Liliana keluar dari kamar. Mansion yang sebelumnya dipenuhi kesedihan kini kembali hidup.
Semua orang tersenyum.
Semua orang bahagia.
Namun semakin banyak kebahagiaan yang ia lihat. Semakin berat rahasia yang harus ia simpan. Saat sarapan berlangsung, keluarga Liliana akhirnya tiba di mansion.
Ibunya langsung memeluknya erat.
"Liliana..." Wanita itu menangis tanpa henti.
"Ayah dan Ibu..." Liliana tidak mampu menahan air matanya.
Untuk sesaat ia kembali merasa seperti gadis biasa. Bukan Pewaris Cahaya. Bukan orang yang menjadi kunci takdir dua dunia. Hanya seorang anak yang merindukan keluarganya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Karena saat semua orang berkumpul. Tiba-tiba seorang ksatria menerobos masuk ke ruang makan.
"Duke!"
Semua orang menoleh.
Wajah ksatria itu pucat. "Sebuah retakan hitam muncul di wilayah utara!"
Axton langsung berdiri. "Apa?"
"Monster mulai bermunculan dari dalamnya."
Ruangan mendadak sunyi. Liliana langsung mengepalkan tangannya.
Veridian.
Ia tahu ini pasti ulah Veridian.
________________________________
Sore harinya.
Ruang rapat mansion dipenuhi para ksatria dan penyihir. Peta wilayah utara terbentang di atas meja.
"Sudah ada tiga desa yang diserang."
"Sihir biasa tidak efektif terhadap makhluk-makhluk itu."
"Korban terus bertambah."
Suasana menjadi semakin tegang. Axton mendengarkan laporan dengan wajah dingin.
Sementara Liliana yang duduk di sampingnya merasakan kecemasan yang semakin besar.
Karena ia tahu. Ini baru permulaan. Jika Veridian benar-benar berhasil membebaskan diri. Bencana yang jauh lebih besar akan terjadi.
"Liliana." Suara Axton membuatnya tersadar.
"Hm?"
Pria itu menatapnya lekat-lekat. "Kau mengetahui sesuatu, bukan?"
Jantung Liliana berdegup kencang. Tatapan Axton terlalu tajam. Terlalu mengenalnya. Dan akhirnya....Ia tidak bisa berbohong lagi.
"Axton."
Semua orang di ruangan itu menoleh.
Liliana menarik napas panjang. Lalu menceritakan semuanya. Tentang dunia asalnya. Tentang Dewi Lunaria. Tentang Veridian. Tentang Kuil Bulan Perak. Dan tentang ancaman yang sedang mendekat.
Tak seorang pun berbicara setelah ia selesai.
Karena semua yang baru saja mereka dengar terdengar mustahil. Namun Axton tidak meragukannya sedikit pun. Karena ia telah menyaksikan sendiri Liliana kembali dari kematian.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Axton.
Liliana terdiam.
Kemudian perlahan menjawab. "Kita harus menemukan cara untuk menyegel Veridian selamanya."
_________________________________
Malam itu.
Saat semua orang telah pergi. Liliana kembali berdiri di balkon. Angin malam berembus pelan.
Namun kali ini langkah kaki Axton mendekat dari belakang.
"Aku marah padamu."
Liliana menoleh kaget. "Apa?"
Axton menatapnya. Matanya dipenuhi emosi yang selama ini ia tahan.
"Kau tahu tentang semua ini."
"Lalu?"
"Kau berencana menanggungnya sendirian."
Liliana terdiam. Karena Axton benar. Ia memang berniat melakukannya. Pria itu menggenggam tangannya erat.
"Kau istriku."
Mata Liliana mulai memanas.
"Axton..."
"Apa pun yang terjadi."
"Sekalipun seluruh dunia menjadi musuhmu."
Pria itu menariknya ke dalam pelukan.
"Aku akan tetap berada di sisimu."
Air mata Liliana jatuh tanpa bisa dicegah. Sudah terlalu lama ia memikul semuanya sendirian. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali, ia merasa tidak sendirian lagi.
_____________________________
Namun jauh di utara. Di balik retakan hitam yang terus membesar. Sepasang mata merah perlahan terbuka.
Veridian tersenyum. "Menarik..."
Aura hitam menyelimuti seluruh langit.
"Kalau begitu mari kita lihat."
"Sampai kapan cinta mereka bisa bertahan."
Dan di saat yang sama.
Tanda emas di pergelangan tangan Liliana kembali bersinar. Satu simbol perlahan menghilang dari lingkaran tersebut. Seolah sedang menghitung waktu.
Hitungan mundur menuju takdirnya telah dimulai.
_________________________________________________
20 vote aku lanjut update yaa..
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasyDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)