TA(Chap 21: Bayangan dari masa lalu)

2K 86 9
                                        

"Eugh..."

Lenguhan pelan keluar dari bibir Liliana saat kesadarannya perlahan kembali. Kelopak matanya terasa berat ketika ia membuka mata. Pandangannya masih sedikit kabur, namun perlahan mulai menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.

Hal pertama yang ia sadari adalah ruangan sempit, gelap, dan pengap tempat dirinya berada. Dinding batu yang dingin mengelilinginya dari segala arah, sementara sebuah lampu minyak redup menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Liliana langsung terduduk dengan napas memburu. "Di mana aku...?" gumamnya bingung.

Namun beberapa detik kemudian, ingatannya kembali pada kejadian di taman. Emma, orang-orang berjubah hitam, dan pukulan yang membuat pelayan setianya pingsan.

"Emma!" serunya spontan sambil berdiri. "Bagaimana keadaan Emma?! Kenapa hanya aku yang ada di sini? Ke mana Emma dibawa?!" Kepanikan mulai menguasai dirinya.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari balik kegelapan. Langkah itu terdengar perlahan, tetapi cukup membuat bulu kuduknya meremang. Seseorang sedang mendekatinya.

Dari balik bayangan muncul seorang wanita dengan senyum tipis yang membuat perasaan Liliana semakin tidak nyaman. "Halo, Duchess Alfiend," sapa wanita itu santai.

Ia berhenti beberapa langkah di depan Liliana sebelum kembali berbicara. "Atau mungkin aku harus memanggilmu dengan nama yang lain?" Senyumnya semakin melebar. "Calista."

Tubuh Liliana langsung membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Nama itu adalah nama yang tidak seharusnya diketahui siapa pun di dunia ini.

"Bukankah sudah lama kita tidak bertemu, sahabatku?" lanjut wanita itu.

Liliana mundur satu langkah dengan tangan gemetar. "A-apa maksudmu...? Siapa Calista?" tanyanya berusaha menyangkal.

Wanita itu terkekeh pelan. "Hmm... masih ingin berpura-pura?" Ia melangkah semakin dekat. "Bukankah nama aslimu Calista? Dan bukankah kau juga bukan berasal dari dunia ini?"

Wajah Liliana langsung memucat. Tidak mungkin. Tidak mungkin ada orang lain yang mengetahui rahasia tersebut. Tidak ada seorang pun. Kecuali...

Melihat reaksinya, wanita itu tersenyum puas. "Mungkin kau penasaran bagaimana aku bisa mengetahui semuanya. Kalau begitu, coba ingat. Siapa musuh terbesarmu di dunia sebelumnya?"

Liliana terdiam. Pikirannya berusaha mengingat masa lalunya. Wajah demi wajah bermunculan di benaknya hingga akhirnya satu nama muncul dan membuat matanya membelalak.

"Sudah ingat rupanya," ucap wanita itu sambil tersenyum lebar.

Liliana menatapnya dengan tidak percaya. "A-apa kau... Naykilla?"

Tawa keras langsung menggema memenuhi ruangan. "Hahahaha! Benar sekali." Mata wanita itu dipenuhi kegilaan. "Aku memang Naykilla."

Tubuh Liliana terasa lemas. Selama ini ia mengira hanya dirinya yang berpindah ke dunia ini. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang lain dari dunia lamanya juga bisa berada di sini. Terlebih lagi orang itu adalah Naykilla, wanita yang selama bertahun-tahun menjadikannya sasaran kebencian dan selalu berusaha menghancurkan hidupnya.

Melihat keterkejutan di wajah Liliana, Naykilla tampak semakin puas. "Pastinya kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa berada di dunia ini, bukan?"

Liliana tidak menjawab, namun tatapannya sudah cukup menjadi jawaban. Senyuman Naykilla perlahan menghilang dan digantikan oleh ekspresi penuh kebencian.

"Tahukah kau mengapa aku ada di sini?" tanyanya dengan nada yang mulai meninggi. "Aku berada di dunia ini karena dirimu! Karena dirimu, Calista!"

Liliana terkejut mendengar teriakan itu. "Apa maksudmu...?" tanyanya bingung.

Naykilla tertawa sinis. "Tentu kau tidak mengerti." Matanya mulai memerah. "Setelah kau mati, semua orang menyalahkanku. Mereka menganggap akulah yang membunuhmu."

Liliana membeku di tempatnya. Naykilla tersenyum miring. "Dan memang benar."

Kalimat itu membuat darah Liliana terasa dingin. "Aku yang menyuruh pencuri itu masuk ke rumahmu. Aku yang memerintahkannya untuk membunuhmu."

Napas Liliana tercekat. Namun Naykilla belum selesai. "Tapi aku tidak terima! Mengapa hanya aku yang disalahkan?!" teriaknya.

Air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. "Semua orang menjauhiku! Semua orang membenciku! Orang tuamu melaporkanku ke polisi! Jadi aku melarikan diri menggunakan mobil, dan aku mengalami kecelakaan." Suaranya berubah menjadi tawa getir. "Aku mati."

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Naykilla menunjuk Liliana dengan tangan gemetar. "Itu semua karena dirimu. Andai saja kau tidak pernah ada. Andai saja kau tidak pernah lahir, maka semua orang akan tetap memperhatikanku."

Air mata jatuh di pipinya. "Tapi karena dirimu, semua orang berpaling dariku. Mereka menganggap aku tidak ada. Bahkan pria yang kucintai memilih mencintaimu." Tatapannya berubah semakin penuh kebencian. "Dia menolakku karena dirimu."

Liliana hanya bisa terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebencian Naykilla ternyata sedalam ini, bahkan hingga setelah kematian mereka.

"Aku membencimu, Calista," ucap Naykilla dengan suara dingin. "Aku membencimu sejak dulu. Aku membencimu sekarang. Dan aku akan tetap membencimu sampai kapan pun."

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik jubahnya. Kilatan logam dingin memantulkan cahaya lampu minyak yang redup. Mata Liliana langsung membelalak ketakutan.

"Naykilla..."

Namun wanita itu hanya tersenyum. Senyum yang dipenuhi kegilaan dan dendam.

"Karena itu..." katanya sambil mengangkat pisau tersebut. "Matilah, Calista."

"N-Naykilla, tunggu!" teriak Liliana sambil mundur dengan panik. "Jangan lakukan ini!"

Namun Naykilla sudah tidak lagi mendengarkan. Tatapannya dipenuhi kebencian yang telah ia pendam selama bertahun-tahun. Dan kini, tanpa sedikit pun keraguan, ia mengayunkan pisaunya ke arah Liliana.

"TIDAK!"

_________________________________________________

Jangan lupa komen dan vote teman-teman.
Karena menurut ku vote dari bab sebelumnya sangatlah sedikit bahkan gak nyampek 100 padahal yang baca 1k lebih. Jadi mohon kerjasamanya yaa kalau ada yang kurang kalian boleh memberi saran
Terimakasih

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang