Udara di dalam Kuil Bulan Perak mendadak berubah dingin.
Sangat dingin.
Bahkan Calista dapat melihat embusan napasnya sendiri membentuk kabut putih.
Sepasang mata merah yang muncul dari dalam gerbang terus menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Tatapan itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Apa itu?" tanya Calista pelan.
Wajah Penjaga Gerbang yang selama ini tenang mendadak berubah serius.
"Mustahil..."
Suara pria tua itu terdengar begitu tegang hingga membuat Calista semakin waspada.
"Mengapa makhluk itu bisa menemukan tempat ini?"
Gemuruh keras mengguncang kuil.
Retakan mulai muncul di sekitar gerbang.
Perlahan-lahan sesosok makhluk tinggi berjubah hitam keluar dari kegelapan.
Tubuhnya menyerupai manusia. Namun wajahnya tertutup bayangan pekat. Hanya kedua mata merah menyala yang terlihat jelas.
Makhluk itu tersenyum. Atau setidaknya Calista merasa ia sedang tersenyum. Karena suara tawanya bergema memenuhi ruangan.
"Akhirnya..."
Suaranya berat dan mengerikan.
"Sudah ribuan tahun aku menunggu gerbang ini terbuka kembali."
Calista tanpa sadar mundur selangkah. Penjaga Gerbang segera berdiri di depannya.
"Jangan mendekat."
Makhluk berjubah hitam itu tertawa. "Masih mencoba melindungi pewaris cahaya?"
Mata Calista membelalak. "Pewaris cahaya?"
Makhluk itu menatap Calista. "Ternyata kau belum tahu siapa dirimu sebenarnya."
Penjaga Gerbang menghentakkannya tongkatnya ke lantai.
"Cukup!"
Ledakan cahaya perak langsung memenuhi ruangan. Namun makhluk itu sama sekali tidak bergerak. Seolah serangan tersebut tidak berarti apa pun.
"Kau semakin lemah, Penjaga." Senyumnya semakin lebar.
"Sementara aku semakin kuat."
Calista merasakan sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Makhluk itu kemudian mengangkat tangannya. Kabut hitam muncul dari telapak tangannya dan melesat ke arah gerbang.
BRAKKK!
Retakan pada gerbang semakin melebar.
Penjaga Gerbang langsung membelalak.
"Tidak!"
"Terlambat."
Makhluk itu tertawa puas. "Jika gerbang ini hancur, maka dua dunia akan bertabrakan."
Jantung Calista terasa berhenti berdetak.
"Dua dunia... bertabrakan?"
"Ya."
Makhluk itu memandangnya dengan mata merah menyala.
"Dan jutaan jiwa akan musnah."
Wajah Calista memucat. Ia akhirnya mengerti.
Makhluk ini bukan hanya ancaman bagi dirinya atau Axton. Melainkan ancaman bagi kedua dunia.
________________________________
Di saat yang sama.
Kekaisaran Barat.
Axton sedang duduk di ruang kerjanya saat tiba-tiba seluruh mansion bergetar. Gelas kristal di mejanya pecah. Jendela-jendela berderak keras.
Para pelayan berteriak panik.
"Apa yang terjadi?!" Axton segera berdiri.
Belum sempat ia melangkah keluar, kalung milik Liliana yang selama ini selalu ia simpan tiba-tiba bersinar terang.
Pria itu membeku.
Sudah berbulan-bulan benda itu tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Namun sekarang...
Kalung itu memancarkan cahaya biru yang sama seperti saat Liliana masih hidup.
"Liliana..."
Entah mengapa, hatinya berdebar sangat kencang. Seolah seseorang sedang memanggilnya dari kejauhan.
_____________________________
Kembali di Kuil Bulan Perak.
Penjaga Gerbang berlutut. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia telah menghabiskan terlalu banyak energi untuk mempertahankan gerbang.
Makhluk berjubah hitam itu melangkah perlahan menuju Calista. "Sekarang berikan kalung itu."
Calista memegang kalung bulan sabit di lehernya. "Tidak."
Makhluk itu tertawa. "Berani juga."
"Siapa kau sebenarnya?"
Untuk pertama kalinya, makhluk itu berhenti melangkah.
Kemudian ia menjawab.
"Aku adalah Veridian."
Nama itu membuat wajah Penjaga Gerbang berubah pucat.
"Dewa Kegelapan..." bisiknya.
Mata Liliana membelalak. "Dewa?"
Makhluk itu tersenyum puas melihat reaksinya.
"Dulu aku disegel oleh para Penjaga Cahaya."
Veridian menunjuk Calista. "Dan darah mereka mengalir dalam dirimu."
Calista terdiam.
Berbagai kejadian aneh yang dialaminya tiba-tiba terasa masuk akal. Perpindahan dunia.
Kalung bulan sabit. Gerbang antar dimensi.
Semua ternyata bukan kebetulan.
"Kau adalah kunci terakhir."
Veridian mengulurkan tangannya. "Berikan kalung itu dan aku akan membiarkanmu hidup."
Calista mengepalkan tangannya. Pikirannya dipenuhi wajah ayah dan ibunya. Kemudian wajah Axton. Lalu semua orang yang akan menderita jika kedua dunia hancur.
Perlahan ia mengangkat dagunya. Tatapannya berubah tegas.
"Tidak."
Mata Veridian menyipit.
"Apa?"
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti mereka."
Untuk sesaat ruangan menjadi sunyi.
Kemudian Veridian tertawa keras. Suara tawanya mengguncang seluruh kuil.
"Manusia benar-benar makhluk yang lucu."
Aura hitam pekat mulai memenuhi ruangan.
Lantai batu retak. Pilar-pilar kuil berguncang.
Veridian mengangkat tangannya. "Kalau begitu mati saja bersama harapanmu."
Energi hitam raksasa melesat ke arah Liliana.
Namun tepat sebelum serangan itu mengenainya, kalung bulan sabit di leher Liliana meledak dalam cahaya keemasan.
Cahaya itu begitu terang hingga seluruh dunia seolah berhenti. Dan dari dalam cahaya tersebut, muncul sosok seorang wanita berjubah emas dengan sepasang sayap cahaya di punggungnya.
Mata Veridian langsung membelalak.
"Tidak mungkin..."
Sementara Penjaga Gerbang berlutut dengan wajah penuh keterkejutan.
"Dewi Lunaria..."
Calista hanya bisa terpaku. Karena wanita bercahaya itu perlahan menoleh kepadanya.
Lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
"Calista... waktunya kau mengetahui kebenaran tentang kematianmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasyDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)