TA(Chap 25: Cahaya di Antara Dua Dunia)

671 27 0
                                        

Malam itu, Calista tidak bisa memejamkan mata.

Kalung bulan sabit yang kini berada dalam genggamannya terasa hangat, seolah memiliki denyut kehidupan sendiri. Bayangan Axton yang ia lihat beberapa jam lalu terus terulang di benaknya.

"Itu benar-benar dia..."

Calista duduk di tepi ranjang sambil menatap langit malam dari jendela.

Jika suara yang didengarnya benar, berarti hubungan antara kedua dunia belum sepenuhnya terputus.

Masih ada harapan.

Masih ada kesempatan.

Namun bagaimana caranya?

Tiba-tiba batu kristal biru pada kalung itu kembali bersinar.

Cahaya lembut menyelimuti kamar.

Calista refleks memegang kalung tersebut.

Sesaat kemudian sebuah sosok muncul di hadapannya.

Sosok wanita bergaun putih.

Wanita yang pernah ditemuinya di hamparan bunga sebelum ia kembali ke dunia asal.

"Kau..." bisik Calista.

Wanita itu tersenyum.

"Aku datang karena waktumu tidak banyak."

"Apa maksudmu?"

"Gerbang antar dunia hanya terbuka dalam waktu singkat."

Jantung Calista berdebar.

"Jadi aku benar-benar bisa kembali menemui Axton?"

Wanita itu menggeleng pelan.

"Tidak semudah itu."

Harapan yang baru tumbuh seketika meredup.

"Apa maksudmu?"

"Jika kau memilih kembali ke dunia itu, kau mungkin tidak akan bisa kembali ke dunia ini lagi."

Calista terdiam.

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar. Di dunia ini ada ayah dan ibu yang telah menunggunya selama lima tahun. Mereka baru saja mendapatkan putrinya kembali.

Namun di dunia sana...

Ada Axton. Pria yang telah kehilangan segalanya.

Wanita itu melanjutkan.

"Takdir memberimu kesempatan memilih."

"Memilih?"

"Ya."

"Antara kehidupan lamamu... atau kehidupan yang kau bangun sendiri."

Air mata mulai memenuhi mata Calista.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa kejamnya pilihan tersebut.

Tidak ada jawaban yang benar.

Apa pun yang dipilihnya akan menyakiti seseorang.

"Tidak bisakah aku memiliki keduanya?" tanyanya lirih.

Wanita itu tersenyum sedih.

"Kadang takdir tidak memberi manusia semua yang mereka inginkan."

Cahaya di sekitar wanita itu mulai memudar.

"Sebelum gerbang terbuka, carilah Kuil Bulan Perak."

"Kuil Bulan Perak?"

"Itu adalah satu-satunya tempat yang bisa membantumu menentukan jalan."

Setelah mengatakan itu, sosoknya perlahan menghilang. Meninggalkan Calista seorang diri. Namun kini ia memiliki tujuan. Ia harus menemukan kuil tersebut.
_____________________________

Sementara itu, di Kekaisaran Barat.

Axton berdiri di depan makam Liliana seperti yang selalu ia lakukan setiap hari.

Sudah hampir satu bulan berlalu sejak kematian istrinya. Namun rasa sakit itu tidak berkurang sedikit pun. Bahkan terasa semakin berat.

"Yang Mulia Duke."

Suara pengawal membuat Axton menoleh.

"Ada apa?"

"Kami menemukan sesuatu."

Pengawal itu menyerahkan sebuah kotak kayu tua.

Kotak tersebut ditemukan saat membersihkan kamar pribadi Liliana.

Axton membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya terdapat buku harian.

Milik Liliana.

Tangannya bergetar saat membuka halaman pertama. Di sana terdapat tulisan yang sangat dikenalnya.

Tulisan tangan istrinya.

Halaman demi halaman mulai dibacanya. Tentang kebahagiaan Liliana. Tentang rasa syukurnya. Tentang perasaannya yang perlahan berubah menjadi cinta.

Hingga akhirnya Axton menemukan sebuah kalimat yang membuat napasnya berhenti.

"Jika suatu hari aku menghilang, percayalah bahwa aku tidak pernah meninggalkanmu dengan sukarela."

Tubuh Axton membeku.

Entah mengapa, hatinya terasa bergetar hebat.
Seolah ada sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui.

Dan untuk pertama kalinya sejak kematian Liliana...

Ia mulai mempertanyakan satu hal.

Apakah kematian Liliana benar-benar akhir dari segalanya?

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang