Pagi berikutnya.
Langit di atas Mansion Alfiend tampak mendung.
Awan kelabu menggantung rendah, seolah menjadi pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Liliana berdiri di depan cermin kamarnya.
Tatapannya tertuju pada tanda emas di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya langsung memucat.
Semalam ada dua belas simbol yang mengelilingi lingkaran tersebut.
Kini hanya tersisa sebelas.
"Satu simbol menghilang..." Bisiknya pelan.
Jantungnya berdebar tidak nyaman. Ia tidak tahu berapa lama satu simbol mewakili waktu yang tersisa. Namun satu hal yang pasti.
Hitungan mundur itu benar-benar berjalan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya.
"Liliana?"
Suara Axton terdengar dari luar.
Liliana segera menurunkan lengan bajunya.
"M-masuk."
Pintu terbuka.
Axton melangkah masuk sambil membawa secangkir teh hangat. Namun begitu melihat wajah Liliana, ia langsung mengernyit.
"Kau tidak tidur semalaman?"
Liliana berusaha tersenyum.
"Aku baik-baik saja."
Axton menatapnya beberapa saat. Tatapan yang terlalu tajam untuk bisa dibohongi. Namun kali ini ia memilih tidak memaksa. Sebaliknya, ia menyerahkan cangkir teh itu.
"Kalau begitu minumlah."
Liliana menerimanya sambil tersenyum kecil.
Meski jauh di dalam hatinya rasa bersalah semakin besar.
_____________________________
Siang harinya.
Para ksatria yang dikirim ke wilayah utara akhirnya kembali. Namun kondisi mereka jauh lebih buruk dari yang diperkirakan.
Sebagian terluka. Sebagian lagi bahkan harus ditandu. Ruang rapat mansion langsung dipenuhi suasana tegang.
"Apa yang terjadi?" tanya Axton.
Salah satu ksatria senior maju, wajahnya pucat.
"Monster-monster itu terus bertambah."
"Jumlahnya?"
"Ratusan."
Ruangan mendadak sunyi. Semua orang saling berpandangan. Ratusan monster bukanlah jumlah yang normal. Terlebih lagi jika mereka berasal dari retakan dimensi.
"Kami juga menemukan sesuatu."
Ksatria itu mengeluarkan pecahan kristal hitam.
Begitu benda itu diletakkan di atas meja. Tanda di pergelangan tangan Liliana langsung bersinar.
Semua orang terkejut. Liliana sendiri refleks memegang pergelangan tangannya. Kristal hitam itu bergetar. Kemudian melepaskan kabut gelap tipis.
"Veridian..." bisik Liliana.
Penyihir kerajaan yang hadir langsung berdiri.
"Yang Mulia Duchess mengenali benda ini?"
Liliana mengangguk perlahan. "Itu energi Veridian."
Wajah semua orang berubah serius.
Axton menatap kristal tersebut.
"Lalu bagaimana cara menghentikannya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]
FantasyDi sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya. "Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!" Den...
![Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]](https://img.wattpad.com/cover/367129357-64-k949934.jpg)