TA(Chap 26: Kuil Bulan Perak)

546 22 0
                                        

Keesokan harinya, Calista memutuskan pergi mencari Kuil Bulan Perak.

Menurut berbagai catatan lama yang ia temukan di perpustakaan kota, kuil itu berada jauh di pegunungan utara. Tempat yang hampir tidak pernah dikunjungi orang. Perjalanan menuju lokasi tersebut memakan waktu tiga hari.

Meski orang tuanya khawatir, mereka akhirnya mengizinkan Calista pergi setelah melihat tekad dalam matanya.

"Aku akan kembali," janji Calista.

Namun jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.

Hari ketiga.

Calista akhirnya tiba di kaki pegunungan. Kabut tebal menyelimuti seluruh wilayah. Udara terasa dingin menusuk tulang.

Setelah mendaki selama beberapa jam, ia melihat bangunan tua yang tersembunyi di balik pepohonan.

Kuil Bulan Perak.

Bangunannya sangat tua namun masih berdiri kokoh. Pilar-pilar batu putih mengelilingi area utama. Saat Calista melangkah masuk, kalung bulan sabitnya langsung bersinar terang.

Gemuruh mengguncang tanah. Di tengah ruangan utama muncul lingkaran sihir raksasa. Dan dari dalam cahaya tersebut muncul seorang pria tua berjubah perak.

"Sudah lama sekali sejak seseorang datang ke tempat ini."

Liliana menatapnya waspada.

"Siapa Anda?"

"Aku adalah Penjaga Gerbang."

Mata Liliana membelalak.

"Kalau begitu... Anda tahu cara kembali ke dunia lain?"

Pria tua itu mengangguk.

"Tentu."

Harapan memenuhi dada Liliana. Namun ekspresi pria tua itu segera berubah serius.

"Namun sebelum itu, kau harus mengetahui kebenaran."

"Kebenaran?"

Pria tua tersebut mengangkat tongkatnya. Cahaya memenuhi ruangan. Lalu sebuah pemandangan muncul di udara.

Mata Liliana membelalak saat melihatnya..Itu adalah Axton. Namun bukan Axton yang berdiri di depan makam. Melainkan Axton yang sedang memimpin pasukan perang.

Wajahnya dingin. Matanya kosong. Dan di belakangnya, bendera perang Kekaisaran Barat berkibar di tengah lautan api.

"Apa yang terjadi?"

Pria tua itu menghela napas.

"Setelah kematianmu, masa depan dunia itu mulai berubah."

Liliana menahan napas.

"Axton kehilangan cahaya yang menuntunnya."

Pemandangan di udara terus berganti. Kota-kota terbakar. Perang antar kerajaan pecah. Ribuan rakyat menderita.

Dan di pusat semua kekacauan itu...

Berdiri Axton yang perlahan berubah menjadi penguasa yang ditakuti seluruh benua.

Air mata mengalir di pipi Liliana.

"Tidak..."

Pria tua itu menatapnya.

"Jika kau kembali, mungkin kau bisa mengubah masa depan itu."

"Lalu jika aku tidak kembali?"

Wajah pria tua menjadi muram.

"Maka kehancuran itu hampir pasti terjadi."

Liliana menggigit bibirnya. Kini pilihannya bukan hanya tentang dirinya dan Axton. Melainkan tentang nasib seluruh dunia.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia mulai memahami alasan mengapa takdir mengembalikannya ke kehidupan ini.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang