TA(Chap 34: cahaya abadi)

386 13 0
                                        

Angin dingin berembus di dataran utara.

Di hadapan mereka berdiri Menara Kegelapan.

Bangunan raksasa yang menjulang menembus awan, diselimuti kabut hitam dan aura mengerikan yang membuat siapa pun merasakan ketakutan hanya dengan melihatnya.

Pasukan Duke Alfiend telah tiba. Para ksatria terbaik kerajaan. Para penyihir terkuat. Dan di barisan paling depan berdiri Axton dan Liliana.

Tatapan mereka sama-sama tegas. Mereka tahu. Inilah akhir dari segalanya. Inilah pertempuran yang akan menentukan nasib kedua dunia.

"Apa kau takut?" tanya Axton pelan.

Liliana menoleh.

Lalu tersenyum kecil. "Jika bersamamu, tidak."

Axton menggenggam tangannya. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Mengingat semua yang telah mereka lalui.

Pertemuan pertama, kesalahpahaman, perlahan jatuh cinta, pernikahan, kehilangan, perpisahan. Dan akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir.

"Aku mencintaimu," ucap Axton.

Air mata langsung memenuhi mata Liliana.

"Aku juga mencintaimu."

Kemudian mereka melepaskan genggaman tangan masing-masing.

Karena perang telah dimulai.

BOOOOOOM!

Gerbang Menara Kegelapan terbuka. Ribuan monster keluar seperti gelombang hitam yang tak berujung.

Para ksatria segera maju. Suara pedang dan sihir memenuhi medan perang. Langit berubah gelap, petir hitam menyambar tanpa henti.

Dan dari puncak menara, Veridian akhirnya muncul. Jubah hitamnya berkibar di udara.
Mata merahnya memandang seluruh dunia dengan angkuh.

"Manusia."

Suaranya menggema ke seluruh penjuru benua.

"Kalian tetap memilih melawan meski mengetahui hasil akhirnya."

Axton menghunus pedangnya.

"Lalu bagaimana jika kami menolak menyerah?"

Veridian tersenyum. "Kalian akan binasa."

Aura hitam raksasa meledak dari tubuhnya.
Tanah retak, gunung-gunung berguncang.
Bahkan langit mulai pecah.

Liliana menggigit bibirnya. Tanda emas di pergelangan tangannya bersinar semakin terang. Seolah merespons keberadaan Veridian.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu, kebenaran yang selama ini tidak dipahaminya.

"Dewi Lunaria..." bisiknya.

"Bukan aku yang dipilih untuk menghancurkan Veridian."

Matanya membelalak.

"Aku dipilih untuk menyegelnya."

Pertempuran berlangsung selama berjam-jam.
Satu demi satu ksatria tumbang, para penyihir kehabisan mana. Namun mereka tetap bertahan.

Karena mereka mempercayai Liliana, karena mereka mempercayai harapan. Di tengah kekacauan itu, suara Lunaria kembali terdengar di dalam hati Liliana.

"Cahaya terbesar selalu lahir dari pengorbanan."

Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia akhirnya mengerti. Inilah harga yang dimaksud Lunaria, inilah harga dari kesempatan kedua yang diberikan kepadanya.

Jika ingin menyelamatkan dunia, Ia harus mengorbankan dirinya.

Selamanya....

"Axton..."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang