Di sebuah kamar yang sunyi, seorang gadis tengah duduk di atas ranjang sambil membaca sebuah novel.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan kesal dari bibirnya.
"Sialan! Apa-apaan ini?! Kenapa malah antagonis kesayangan gue yang mati?!"
Den...
Mendengar perkataan itu, Liliana langsung gugup. Ia takut Axton menyadari bahwa dirinya bukan Liliana yang asli.
"A-ahaha... kau ada-ada saja, Axton. Aku memang dari dulu begini. Hanya saja dulu aku terlalu buta karena mencintai Kaisar," jawabnya kikuk.
"Benarkah?" Axton menatapnya tajam. "Jadi sekarang kau sudah tidak mencintai Kaisar lagi?"
"Tentu saja tidak."
Liliana tersenyum lebar.
"Lagipula, untuk apa aku mencintai Kaisar jika suamiku sendiri setampan ini?"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Axton mendapat pujian langsung dari sang istri.
Pria itu terbatuk kecil untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
"Ehem..."Ia segera mengalihkan pembicaraan. "Kalau memang kau sudah berubah, maka kerjakan tugasmu sebagai Duchess."
Mata Liliana langsung membelalak. Tugas Duchess? Masalahnya, ia bahkan tidak tahu apa saja tugas seorang Duchess!
"Apa kau yakin, Duke?" tanyanya ragu.
"Ya. Mengapa tidak?" jawab Axton dingin. "Bukankah itu memang tugasmu?"
Mendengar nada dingin itu, Liliana tak berani membantah.
"Baiklah..."
Ia segera berpamitan dan keluar dari ruang kerja Axton. Begitu pintu tertutup, Axton tak dapat menahan tawa kecilnya.
Melihat istrinya yang kabur hampir terbirit-birit ternyata cukup menghibur. "Menggemaskan." _________________________________
"Aish! Menyebalkan sekali hidupku!" Liliana menggerutu sambil berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa sih aku harus masuk ke tubuh seorang Duchess? Mana aku nggak ngerti apa-apa lagi soal beginian."
Sesampainya di kamar, ia langsung dihadapkan pada tumpukan dokumen yang menggunung.
Tugas-tugas itu terbengkalai karena Liliana yang asli lebih sering mengejar perhatian Kaisar daripada menjalankan kewajibannya sebagai Duchess.
Dengan berat hati, Liliana mulai bekerja.
Jam demi jam berlalu. Dan akhirnya—
"Akhhh! Selesai juga!"
Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Capek banget, sumpah. Mana lapar lagi."
Setelah mengeluh sejenak, Liliana segera membersihkan diri dan menuju ruang makan. _______________________________
Saat tiba di ruang makan, Axton ternyata sudah berada di sana.
Liliana segera duduk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri, lalu tanpa sadar mengambilkan makanan untuk Axton juga.
Axton memperhatikan tindakan itu sekilas, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Suasana ruang makan tetap hening.
Bagaimanapun, itulah etika yang biasa diterapkan oleh para bangsawan. Setelah makan malam selesai, Liliana memberanikan diri membuka percakapan.
"Ehm, Axton."
"Hm?"
"Aku ingin meminta izin untuk pergi ke pasar besok pagi. Boleh?"
"Boleh."
Mata Liliana langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Ya."
Namun sebelum ia sempat bersorak, Axton melanjutkan kalimatnya.
"Asalkan aku ikut."
Seketika bahu Liliana merosot. Padahal ia berharap bisa berjalan-jalan dengan tenang tanpa pengawasan Duke yang dingin itu.
"Yah... kenapa kau harus ikut?"
Axton menatapnya datar.
"Kenapa aku tidak boleh ikut?"
"O-oh, bukan begitu maksudku!" jawab Liliana cepat. "Tentu saja boleh."
Axton mengangguk pelan.
"Kalau begitu, besok pagi kita pergi bersama."
"Ya."
Setelah percakapan dirasa selesai, Liliana berdiri dari kursinya.
"Aku permisi dulu."
Melihat Axton mengangguk, ia segera meninggalkan ruang makan. Tubuhnya sudah terlalu lelah dan ia hanya ingin segera tidur.
Tak lama kemudian, Axton juga bangkit dari kursinya.
Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia membayangkan dirinya berjalan-jalan di pasar bersama sang istri esok hari.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa menantikan sesuatu.
"Aku tidak sabar menunggu besok pagi." Axton tersenyum kecil.