TA(Chap 30: Suara dari seberang dunia)

604 20 0
                                        

"LILIANA!"

Suara itu kembali terdengar. Jelas. Nyata. Dan penuh kerinduan.

Tubuh Calista membeku di tempatnya. Air mata yang sejak tadi menggenang kini jatuh tanpa bisa ia tahan.

"Axton..."

Di balik gerbang cahaya emas yang berputar perlahan, bayangan seorang pria mulai terlihat semakin jelas.

Rambut hitam yang sedikit lebih panjang. Wajah yang jauh lebih kurus dibanding terakhir kali ia lihat. Dan mata biru gelap yang kini dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.

Itu benar-benar Axton. Pria itu berdiri di depan makamnya. Kalung milik Liliana yang selama ini disimpannya memancarkan cahaya yang sama dengan gerbang di hadapan Liliana.

"Axton..." bisik Liliana lagi.

Di sisi lain gerbang, Axton tampak terkejut. Seolah ia benar-benar dapat mendengar suaranya.

"Liliana?!" teriaknya.

Jantung Calista berdegup semakin cepat.

Untuk pertama kalinya setelah kematiannya, mereka kembali saling mendengar. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.

BOOOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kuil.
Salah satu serangan Veridian menghantam kubah bagian atas. Batu-batu raksasa mulai berjatuhan. Retakan memenuhi lantai marmer.
Gerbang emas yang menghubungkan kedua dunia mulai bergetar hebat.

"CALISTA! CEPAT!" teriak Penjaga Gerbang.

Calista tersentak. Ia menoleh ke arah Dewi Lunaria. Sang Dewi masih bertarung melawan Veridian, namun tubuhnya semakin transparan.
Setiap kali ia menggunakan kekuatannya, cahaya di tubuhnya semakin memudar.

Lunaria menoleh sekilas. Tatapannya lembut.
"Pergilah."

Meski tidak mengucapkan kata-kata itu, Calista dapat memahami maksudnya.

"Tapi..."

"TIDAK ADA WAKTU!" teriak Penjaga Gerbang.

Veridian tertawa keras.

"Biarkan dia lari!"

Aura hitam raksasa kembali memenuhi ruangan.

"Ke mana pun dia pergi, aku akan menemukannya!"

Mata merahnya menatap Calista penuh kebencian.

"Kau tidak akan pernah bisa bersembunyi dariku, Pewaris Cahaya."

Tubuh Calista menegang. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa perjalanannya belum berakhir. Semua yang terjadi selama ini hanyalah awal. Namun di tengah ketakutannya.

Ia mendengar suara Axton sekali lagi. "LILIANA!"

Pria itu berlari mendekati makamnya. Tangannya terulur ke arah cahaya yang melayang di udara. Dan entah bagaimana, Calista merasa dirinya juga harus melakukan hal yang sama.

Perlahan ia mengangkat tangannya. Gerbang emas langsung bersinar lebih terang. Untuk sesaat. Telapak tangan mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Namun sebelum itu terjadi, Veridian melepaskan gelombang energi hitam yang begitu besar hingga seluruh kuil berguncang.

"CALISTA! MASUK KE GERBANG SEKARANG!" teriak Lunaria.

Air mata mengalir di wajah Calista. "Dewi!"

Lunaria tersenyum. Senyum yang hangat seperti seorang ibu.

"Takdir kalian belum berakhir."

Kalimat itu membuat Calista membeku. Belum berakhir. Artinya masih ada harapan. Masih ada masa depan.

Dengan hati yang berat, Calista mengangguk. Kemudian ia berlari menuju gerbang.

"Axton!"

Di sisi lain gerbang, mata Axton membelalak.

"Liliana!"

"Aku akan kembali!"

Suara Liliana menggema di seluruh ruangan.

Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, senyum tipis muncul di wajah Axton.

"Aku akan menunggumu!"

Air mata keduanya jatuh bersamaan.

Lalu Calista melompat ke dalam cahaya emas.

BOOOOOOM!

Ledakan besar memenuhi Kuil Bulan Perak.
Cahaya dan kegelapan bertabrakan. Gerbang antar dunia tertutup perlahan.

Dan sesaat sebelum semuanya menghilang. Calista melihat Lunaria mengangkat tangannya.
Menyegel Veridian kembali untuk sementara.
Namun harga yang harus dibayar tampaknya sangat besar. Karena tubuh sang Dewi mulai hancur menjadi ribuan partikel cahaya.

"LUNARIA!" teriak Calista.

Tetapi semuanya sudah terlambat. Cahaya memenuhi pandangannya. Dunia berputar.
Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
Calista melintasi batas antara dua dunia.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang