TA(Chap 10: perjalanan ke kekaisaran Timur)

7.9K 379 2
                                        

Pagi telah tiba. Saat ini Axton dan Liliana tengah menempuh perjalanan menuju Kekaisaran Timur dengan kereta kuda mewah milik keluarga kekaisaran.

Di dalam kereta hanya terdengar keheningan.

Liliana beberapa kali menahan kantuk yang menyerang, sementara Axton sibuk membaca laporan keuangan yang menumpuk di tangannya.

Axton melirik ke arah sang istri. Kelopak mata Liliana tampak berat dan sesekali kepalanya terangguk karena menahan rasa kantuk.

"Jika kau mengantuk, tidurlah. Aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai."

Mendengar itu, Liliana mengangguk pelan.

"Baik, Suamiku."

Ia lalu mencari posisi ternyaman dan perlahan memejamkan mata.

Namun posisi duduknya terlihat kurang nyaman. Kepala Liliana beberapa kali hampir membentur jendela kereta karena guncangan jalan.

Melihat hal itu, Axton menutup laporan di tangannya lalu berpindah duduk ke samping Liliana.

Dengan hati-hati, ia menahan kepala Liliana dan menyandarkannya di pundaknya.

Liliana yang sudah setengah tertidur bahkan tidak menyadari tindakan itu.

Axton tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, suasana tenang di dalam kereta membuat matanya ikut terasa berat hingga tanpa sadar ia pun tertidur.

___________________________

Beberapa jam kemudian, kereta akhirnya memasuki wilayah Kekaisaran Timur.

Daniel yang bertugas mengawal perjalanan berniat memberi tahu Axton bahwa mereka telah sampai. Namun saat membuka pintu kereta, ia langsung membeku.

Di hadapannya, Axton dan Liliana tertidur dengan kepala saling bersandar.

Pemandangan yang begitu harmonis membuat Daniel merasa seperti orang yang tidak seharusnya berada di sana.

"Ah... betapa malangnya nasibmu, Daniel."

Ia menghela napas panjang dalam hati sebelum akhirnya memberanikan diri membangunkan mereka.

"Tuan Axton..."

Kelopak mata Axton bergerak sebelum akhirnya terbuka perlahan.

Begitu sadar, pandangannya langsung jatuh pada wajah Liliana yang masih tertidur pulas di pundaknya.

"Maaf telah mengganggu istirahat Anda, Tuan. Namun kita sudah tiba di Kekaisaran Timur."

Axton mengangguk singkat.

"Baik."

Setelah menerima jawaban itu, Daniel segera mengundurkan diri untuk melapor kepada pihak istana mengenai kedatangan mereka.

Kini hanya tersisa Axton dan Liliana di dalam kereta.

Axton memandangi wajah wanita itu beberapa saat.

Wajah yang selama ini selalu berhasil menarik perhatiannya.

Wajah yang tak pernah berubah di matanya.

Perlahan senyum pahit muncul di bibirnya.

"Semakin lama kau bersikap seolah-olah menyukaiku, semakin besar harapan yang tumbuh di dalam diriku, Liliana."

Selama ini Axton selalu berada dalam dilema.

Ia mencintai Liliana.

Namun di saat yang sama, ia takut semua perubahan sikap wanita itu hanyalah kepura-puraan.

Bagaimanapun, selama dua tahun pernikahan mereka, hati Liliana hanya dipenuhi oleh sosok Kaisar.

Lalu bagaimana mungkin ia bisa percaya bahwa Liliana kini benar-benar menerima dirinya?

Axton mengembuskan napas pelan sebelum mengusir semua pikiran itu.

Ia kemudian menepuk lembut pipi Liliana.

"Liliana. Bangun."

"Hmm..."

Liliana mengerutkan kening sebelum perlahan membuka mata.

"Apakah kita sudah sampai, Suamiku?" tanyanya dengan suara serak karena baru bangun tidur.

"Ya. Jadi cepatlah bangun."

Liliana mengangguk dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari kereta dan menuju ke dalam istana kekaisaran.
____________________________

Saat ini Liliana sedang berada di kamarnya.

Beberapa pelayan sibuk membantu merias dan mendandaninya karena pesta penyambutan akan dimulai dalam beberapa jam lagi.

Namun sejak tiba di Kekaisaran Timur, ia sama sekali tidak melihat Axton.

Pria itu menghilang entah ke mana dan belum kembali sejak mereka berpisah tadi.

Sambil membiarkan para pelayan bekerja, pikiran Liliana kembali dipenuhi berbagai rencana untuk memenangkan hati suaminya.

Hingga sebuah pemikiran tiba-tiba muncul.

Bagaimana jika ia memberikan hak Axton sebagai seorang suami?

Bagaimanapun juga, selama dua tahun pernikahan mereka, hubungan mereka belum pernah melangkah sejauh itu.

Namun semakin dipikirkan, semakin besar pula ketakutan yang muncul di dalam dirinya.

Bagaimana jika setelah semuanya terjadi, Axton justru semakin membencinya?

Bagaimana jika Axton menganggap dirinya hanya menjalankan kewajiban tanpa cinta?

Liliana menggigit bibir bawahnya.

Meski begitu, ia segera menggeleng.

Tidak.

Ia mengenal Axton.

Pria itu bukan seseorang yang akan melakukan hal semacam itu tanpa mempertimbangkan perasaannya.

Karena terlalu tenggelam dalam lamunannya, Liliana bahkan tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.

Axton yang baru saja masuk ke kamar menatap Liliana beberapa saat sebelum akhirnya menepuk pelan pundaknya.

Liliana terkejut dan segera menoleh.

Begitu pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama terdiam.

Mata mereka saling terpaku.

Axton terpukau oleh kecantikan Liliana malam itu.

Sementara Liliana kembali menyadari betapa tampannya pria yang kini menjadi suaminya.

Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka mampu mengalihkan pandangan.

Hingga akhirnya keduanya tersadar dan berdeham canggung.

"Sudah selesai bersiap?" tanya Axton.

Liliana mengangguk pelan.

"Ya."

"Kalau begitu, kita harus segera pergi. Pesta akan segera dimulai."

Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan kamar.

Bersama-sama menuju aula utama Kekaisaran Timur, tempat pesta megah itu akan segera berlangsung.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang