TA(Chap 29: Kebenaran dibalik Kematian)

557 19 0
                                        

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Bahkan Veridian yang sebelumnya begitu angkuh kini hanya menatap sosok bercahaya itu dengan wajah penuh kewaspadaan.

Dewi Lunaria.

Sosok yang selama ribuan tahun hanya dianggap sebagai legenda. Kini berdiri tepat di hadapan Calista. Cahaya keemasan yang menyelimuti tubuhnya perlahan menenangkan gejolak energi di dalam kuil.

Namun jantung Calista justru berdetak semakin cepat. Karena satu kalimat yang baru saja diucapkan sang Dewi.

"Kebenaran tentang kematianmu."

"Apa maksud Anda?" tanya Calista dengan suara bergetar.

Lunaria menatapnya dengan lembut.

"Kau percaya bahwa kematianmu disebabkan oleh Naykilla."

Calista mengepalkan tangannya. Ingatan malam itu kembali muncul. Belati yang menusuk perutnya. Darah yang mengalir. Tangisan Axton.
Dan rasa sakit yang begitu nyata.

"Bukankah memang begitu?" tanyanya.

Untuk sesaat, Lunaria terdiam.

Kemudian ia menggeleng.

"Tidak sepenuhnya."

Mata Calista membelalak.

"Apa?"

Veridian yang berdiri tidak jauh dari sana mulai tersenyum tipis. Seolah ia mengetahui sesuatu. Lunaria mengangkat tangannya. Cahaya keemasan membentuk sebuah layar besar di udara.

"Lihatlah sendiri."

Bayangan mulai bergerak. Muncul kembali malam saat Calista yang menjadi Liliana ditikam. Semuanya terlihat sama seperti yang ia ingat.

Naykilla menusukkan belati. Liliana terjatuh. Axton datang. Dan kemudian semuanya berubah. Karena setelah tubuh Liliana kehilangan kesadaran. Kabut hitam muncul dari dalam luka tersebut.

Calista membeku. "Itu..."

Kabut hitam perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Menyerap cahaya keperakan yang tersembunyi di dalam jiwanya.

"Mustahil..." bisik Penjaga Gerbang.

Lunaria menatap Veridian. "Segelmu mulai retak saat itu."

Veridian tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kau akan menunjukkannya."

Calista memandang layar itu tanpa berkedip.

Lunaria melanjutkan. "Belati itu bukan belati biasa."

Bayangan memperlihatkan ukiran hitam yang sebelumnya tidak terlihat.

"Itu adalah Artefak Bayangan."

Mata Calista membelalak. "Artefak?"

"Benda yang dibuat dari energi Veridian ribuan tahun lalu."

Tubuh Calista terasa dingin. "Jadi..."

"Meski Naykilla memang berniat membunuhmu, penyebab sebenarnya yang merenggut nyawamu adalah kutukan yang tersegel di dalam belati itu."

Air mata mulai memenuhi mata Calista. Selama ini ia mengira semuanya berakhir karena kebencian seorang wanita. Namun ternyata ada sesuatu yang jauh lebih besar bermain di balik layar.

"Kau dipilih sejak lahir."

Lunaria kembali berbicara. "Karena darah Penjaga Cahaya mengalir dalam dirimu."

Calista menatap sang Dewi.

"Kalau begitu... perpindahanku ke dunia Axton?"

"Itu bukan kecelakaan."

Jantung Calista berdebar. "Bukan?"

Lunaria menggeleng. "Aku yang mengirimmu."

Ruangan mendadak sunyi. Bahkan Veridian berhenti tersenyum.

Calista membeku. "Anda... yang mengirimku?"

"Ya."

"Kenapa?"

Untuk pertama kalinya, Lunaria menunjukkan senyum yang sangat lembut.

"Karena hanya kau yang bisa mengubah takdir kedua dunia."

Berbagai kenangan berputar di kepala Calista.

Hari pertama saat ia terbangun di tubuh Duchess Liliana. Pertemuannya dengan Axton.
Pernikahan mereka. Semua kebahagiaan yang ia rasakan. Apakah semuanya telah direncanakan?

"Axton..." bisiknya.

Lunaria mengangguk.

"Dia adalah bagian dari takdir itu."

Veridian mendecakkan lidahnya. "Omong kosong yang membosankan."

Aura hitam kembali memenuhi ruangan.

"Tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu."

Tatapan merahnya tertuju pada Liliana.

"Selama gadis itu hidup, segelku tidak akan pernah sempurna."

Lunaria langsung melangkah maju. Cahaya emas memenuhi kuil.

"Dan selama aku masih ada, kau tidak akan pernah menyentuhnya."

Ledakan energi besar terjadi.

BOOOOOOM!

Seluruh kuil berguncang hebat. Calista terlempar beberapa langkah ke belakang.

Penjaga Gerbang segera menahan tubuhnya.
"Calista!"

"Dewi Lunaria!"

Pertarungan antara cahaya dan kegelapan memenuhi langit-langit kuil.

Setiap benturan menciptakan gelombang energi yang membuat pilar-pilar batu runtuh satu per satu. Namun di tengah kekacauan itu, Lunaria tiba-tiba menoleh ke arah Calista.

Matanya menunjukkan sesuatu yang membuat hati Calista tidak tenang.

Kesedihan.

Seolah sang Dewi mengetahui sesuatu yang belum diketahui siapa pun. "Calista."

Suara Lunaria bergema di tengah ledakan.

"Kau harus segera pergi."

"Apa?"

"Gerbang menuju dunia Axton sudah terbuka."

Mata Calista membelalak. Benar saja. Di belakangnya, gerbang cahaya emas perlahan muncul. Namun wajah Lunaria tidak menunjukkan kebahagiaan.

Sebaliknya...Ia tampak seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal.

"Dengarkan baik-baik." Suara sang Dewi mulai melemah.

"Saat kau melewati gerbang itu..."

Calista menahan napas.

"...kau akan mengetahui harga sebenarnya dari pilihanmu."

Jantung Calista berdegup keras. "Apa maksud Anda?"

Namun sebelum Lunaria sempat menjawab, Veridian melepaskan serangan hitam raksasa ke arah mereka. Dan tepat di tengah ledakan cahaya dan kegelapan itu. Sebuah suara yang sangat familiar tiba-tiba terdengar dari dalam gerbang. Suara yang sudah berbulan-bulan dirindukan Calista.

"LILIANA!"

Tubuh Calista membeku.Air mata langsung jatuh dari matanya. Karena suara itu, adalah suara Axton.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang