TA(Chap 22: air mata diatas makam)

1.9K 64 12
                                        

Keheningan malam di Benteng Utara mendadak pecah oleh jeritan menyayat hati yang menggema dari sebuah ruangan tersembunyi di balik koridor istana tua.

Liliana terhuyung mundur dengan napas tersengal. Kedua tangannya refleks menekan dadanya yang kini dibasahi darah hangat yang terus mengalir di antara jemarinya.

Di hadapannya berdiri Naykilla, yang saat ini menempati tubuh Lady Amelie, dengan tangan gemetar menggenggam belati berukir lambang keluarga Baron.

"Naykilla..." desis Liliana lirih. Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan. "Mengapa...?"

Naykilla menggertakkan giginya. Air mata kemarahan menggenang di kedua matanya.

"Karena kau merebut semuanya dariku!" teriaknya. "Perhatian orang-orang, kasih sayang keluargaku, simpati semua orang... bahkan kehidupan yang seharusnya menjadi milikku!"

Liliana menggeleng lemah.

"Aku... tidak pernah menginginkan semua itu..."

Kalimat itu menjadi kata-kata terakhir yang mampu ia ucapkan sebelum lututnya kehilangan kekuatan. Tubuhnya ambruk ke lantai batu yang dingin. Darah terus mengalir, membentuk genangan merah di bawah tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki dan dentingan zirah terdengar semakin dekat. Pintu ruangan terbuka dengan keras.

"LILIANA!"

Axton menerobos masuk dengan napas memburu. Namun begitu matanya menangkap pemandangan di hadapannya, seluruh warna di wajahnya menghilang.

Tanpa berpikir panjang, ia berlutut di samping tubuh istrinya dan mengangkatnya ke dalam pelukan.

"Liliana... tidak... tidak..."

Liliana membuka matanya perlahan. Tatapannya yang mulai kehilangan cahaya menatap wajah pria yang paling dicintainya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, jemarinya yang berlumuran darah menyentuh pipi Axton.

"Axton..."

Air mata mulai jatuh dari sudut matanya.

"Maafkan aku... karena tidak bisa bersamamu... sampai akhir..."

"Aku di sini..." suara Axton bergetar. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan menyelamatkanmu."

Namun Liliana hanya tersenyum tipis. Senyuman yang begitu damai. Senyuman terakhirnya. Perlahan, kelopak matanya tertutup.

Dan kali ini...

Untuk selamanya.

"LILIANA!" Jeritan Axton menggema memenuhi ruangan.

Tubuhnya bergetar hebat saat memeluk jasad istrinya yang mulai kehilangan kehangatan.

Tak jauh dari sana, Naykilla berdiri membeku. Belati berdarah masih berada di tangannya.

Perlahan Axton mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan Naykilla. Dan untuk pertama kalinya, Naykilla merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Tatapan itu bukan kemarahan biasa. Melainkan tatapan seseorang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya.

"Lady Amelie..." ucap Axton dengan suara rendah yang mengerikan.

Naykilla tanpa sadar mundur selangkah.

"Kau akan membayar semua ini..."

Axton berdiri perlahan.

"Dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian."

Ia menoleh kepada para prajurit yang baru tiba.

"PENGAWAL!"

Suaranya menggema seperti petir.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang