TA(Chap 6: pasar dan pertemuan kaisar)

10.2K 511 6
                                        

Pagi yang cerah menyelimuti kota

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi yang cerah menyelimuti kota. Di dalam sebuah kereta kuda, tampak sepasang suami istri duduk berdampingan. Keheningan mengisi perjalanan mereka hingga sang wanita akhirnya membuka percakapan.

"Emm... Axton, apakah pasar yang akan kita datangi nanti ramai?" tanya Liliana.

Axton mengalihkan pandangannya sejenak.

"Tentu. Pasar itu berada di pusat kota."

"Wah, pasti sangat ramai!" seru Liliana dengan mata berbinar.

Tak lama kemudian, kereta kuda mereka tiba di pasar. Begitu turun, Liliana langsung berlari menuju deretan kedai makanan yang berjajar di sepanjang jalan.

Melihat antusiasme istrinya, Axton hanya tersenyum tipis.

"Cobalah ini, Axton. Rasanya sangat enak!" ujar Liliana sambil menyodorkan makanan ke depan mulutnya.

Axton menatap makanan itu sesaat. Karena Liliana tampak begitu bersemangat, ia pun akhirnya menerima suapan tersebut.

"Bagaimana? Enak, kan?" tanya Liliana penuh harap.

"Hm."

Meski hanya mendapat jawaban singkat, senyum Liliana tetap mengembang. Setelah itu, mereka kembali berkeliling mencari berbagai makanan lain.

Setelah merasa cukup berbelanja, Liliana mengajak Axton pulang.

Di dalam kereta kuda, suasana kembali hening. Liliana sibuk menikmati makanan yang baru dibelinya, sementara Axton tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya.

"Aku memiliki urusan dengan Kaisar setelah ini. Apa kau ingin ikut?" tanya Axton tiba-tiba.

Liliana menghentikan aktivitas makannya. Ia berpikir sejenak. Bertemu Kaisar bukanlah hal yang biasa baginya.

"Emm... bolehkah aku ikut?"

"Tentu. Namun jangan membuat ulah yang bisa mempermalukanku di sana nanti," ujar Axton tegas.

"Ya, ya. Baiklah," jawab Liliana malas.
_______________________________

Sesampainya di istana, mereka segera diantar oleh seorang pelayan menuju ruang tamu.

"Salam, Yang Mulia Kaisar. Semoga Anda selalu diberi kesehatan dan keselamatan," ucap Axton dan Liliana bersamaan.

"Ya. Silakan duduk."

Axton dan Kaisar Danzelion segera membahas urusan penting. Namun selama percakapan berlangsung, Liliana merasa Danzelion beberapa kali melirik ke arahnya.

Apakah ada yang salah denganku? batinnya bertanya-tanya.

"Baik, jika memang itu keputusan terbaik, Yang Mulia," kata Axton.

"Tentu saja, Duke."

Setelah pertemuan selesai, Axton dan Liliana berniat segera pulang. Namun tiba-tiba suara Danzelion menghentikan langkah mereka.

"Duchess Liliana."

Liliana menoleh.

"Iya, Yang Mulia?"

"Bolehkah saya berbicara dengan Anda sebentar?" tanya Danzelion sambil melirik Axton.

"Ah... tentu saja, Yang Mulia."

"Duke?" panggil Danzelion meminta izin.

"Tentu, Yang Mulia."

"Baik. Ikuti saya, Duchess."

Setelah berjalan cukup jauh dari Axton, Danzelion akhirnya menghentikan langkahnya.

"Terus terang saja, Duchess. Saya tidak akan termakan oleh rencana bodoh Anda," ucapnya tajam.

Liliana terdiam sesaat, sedikit tercengang mendengar tuduhan itu.

"Ah... Yang Mulia salah paham. Saya sudah tidak men-"

"Tidak perlu berbohong. Saya tahu bagaimana tabiat Anda."

Liliana menarik napas pelan sebelum menjawab.

"Namun sayangnya, saya tidak berbohong, Yang Mulia. Saya memang sudah tidak mencintai Anda lagi."

Ia sengaja menekankan kata mencintai.

Danzelion tampak terkejut. Ia tahu betul bagaimana dulu Liliana begitu tergila-gila padanya.

"Bagus kalau begitu. Saya harap Anda menepati perkataan Anda sendiri bahwa Anda sudah tidak mencintai saya lagi."

"Tentu saja, Yang Mulia. Karena sekarang saya sudah mencintai suami saya."

Untuk sesaat, Danzelion hanya menatapnya.

"Baiklah. Jika memang begitu."

Setelah percakapan itu berakhir, Liliana membungkukkan badan sebentar sebelum pergi.

Danzelion memandang punggung wanita itu yang semakin menjauh.

"Sangat mustahil kau tidak mencintaiku lagi, Liliana. Namun... jika itu memang kenyataannya, aku akan merasa sangat lega."
_______________________________

Kini Axton dan Liliana kembali berada di dalam kereta kuda menuju kediaman mereka.

"Apa yang kau bicarakan dengan Kaisar tadi?" tanya Axton tiba-tiba.

"Tidak ada. Hanya pembicaraan yang tidak penting."

"Benarkah? Tidak membahas hal lain?" tanyanya dengan nada curiga.

"Tidak ada, suamiku."

Mendengar panggilan itu, tubuh Axton langsung menegang. Wajah hingga ujung telinganya memerah dalam sekejap.

Liliana yang menyadarinya hanya terkekeh pelan.

Ia benar-benar merasa tingkah suaminya yang pemalu itu sangat lucu.

Setelah percakapan singkat tersebut, keduanya kembali terdiam hingga kereta kuda akhirnya tiba di kediaman mereka.

Namun entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, sudut bibir Axton tak pernah benar-benar berhenti tersenyum.

Takdir Antagonis Sang Pewaris Cahaya [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang