Bertemu Kakak dan Abang

1.5K 68 1
                                        

Sore itu, perjalanan mereka tempuh dalan waktu tiga puluh menit. Jarak rumah sakit ke mansion milik Brahma memang tidak terlalu jauh. Bisa saja perjalanan itu mereka tempuh hanya dalam waktu lima belas menit. Tapi saat ini, mereka sedang membawa baby Mikha jadi mereka memilih mengendarai mobil dengan santai dan tidak terburu- buru agar selamat sampai tujuan. Dokter, dan suster juga sudah memperingati mereka supaya tidak memancing penyakit sang anak kambuh. Seperti suara yang terlalu bising, getaran yang terlalu aktif, bahkan suara suara yang terlalu kuat karena dapat mengakibatkan jantung sang anak berdebar kencang dan berakhir mendapat serangan kecil pada jantungnya. Mesoipun hanya serangan kecil, tapi kalau dibiarkan akan berakibat fatal untung baby Mikha.

Sedangkan di mansion, kakak dan para abang sedang duduk di sofa ruang tamu mansion. Mereka duduk sambil terus tersenyum bahagia karena akan bertemu dengan adik kecil mereka. Si mantan adik, Jean sejak tadi sibuk mengeluarkan mainannya untuk diperlihatkan kepada adik kecilnya nanti. Ia akan mengajak adik kecilnya bermain nanti.
"Jean, aduh! Jangan diberantakin lagi dong nak. Abang jean,, sayang. Ditaruh lagi mainannya, nak. Duduk yang manis sini sama abang. Kakak juga duduk dong, sayang. Nggak capek apa daritadi bolak balik terus. Sini nunggu adik Mikha nya sama oma, duduk sini samping oma"

"Jean kan lagi pilih-pilih mainan jean buat nanti main sama adik kecil oma" jawab Jean sambil terus mengobrak-abrik mainannya yang sudah dimasukkan ke kotak mainan.

"Tau ih, oma. Kakak kan lagi gugup, mau ketemu adik Mikha. Nanti kakak boleh kan cium cium adek, oma? Mau gendong adek juga nanti. Boleh kan, oma?" Willian sang sulung ikut menimpali ucapan Omanya yang sedari tadi menyutuhnya untuk duduk. Tidak tahukah omanya itu bahwa sekarang Ia sedang gugup bertemu untuk yang pertama kali dengan adik kecilnya.

Oma tersenyum, mendengar antusias cucunya menunggu adik kecilnya. Semua disana juga tersenyum mendengar ucapan sang sulung. Opa, Oma, Grandma, dan Grandpa bahagia cucu-cucunya tampak akur dan bersemangat menyambut adik bungsu mereka.

"Nanti kita tanya mommy sama daddy ya, sayang. Boleh tidak kakak dan abang cium adik kecil" jawab opa menenangkan cucunya.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil dari halaman depan mansion. Semuanya berdiri dan berjalan menuju pintu masuk mansion. Mereka semua yakin kalau suara mobil tersebut berasal dari mobil yang dikendarai anaknya yang membaa serta cucuny.

"Adeekk! Mommy! abang mau liat adek, boleh?" Si kecil jean yang tidak sabar langsung menubruk kaki mommy nya untuk melihat adik kecil di gendongan sang mommy

"Kakak juga mau lihat mommy, mau lihat adek!" Si sulung willian rupanya juga tak sabar melihat adik kecilnya

"Abang mau lihat adek juga mommy" athala yang tadinya diam saja ternyata juga tak sabar ingin melihat adik lucunya.

"Boleh, semua boleh liat adek. Kita masuk dulu yuk! Tapi kakak sama abang gabole ngomong keras keras ya kalau ada adek. Kasian nanti adek Mikha bisa kaget terus sakit lagi. Kakak sama abang nggak mau kan adeknya sakit lagi?" Jawab Steffi dengan lembut sambil menatap ketiga anak- anaknya. Semua mengangguk bersamaan. Kemudian mereka masuk, semuanya duduk berkumpul di ruang tamu tidak sabar melihat baby Mikha yang ada di gendongan mommy Steffi. Para nenek dan kakek ternyata juga tak sabar melihat cucu bungsu mereka.

Steffi perlahan membuka selimut yang dipakai baby Mikha, hingga terlihat wajah imut serta tubuh mungil bayi di gendongan mommy Steffi. Semua memekik gemas melihat baby Mikha. Wajah kecil dengan mata bulat dan kulit seputih susu.

"Waahh, seperti boneka" celetuk Jean yang membuat semuanya tertawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Waahh, seperti boneka" celetuk Jean yang membuat semuanya tertawa.

"Iya! Lucu sekali adik Mikha seperti boneka mommy" Athala ikut menimpali ucapan sang adik.

Oeekk

Oeekk

Oeekk

"Sstttt,, adek. Adek haus ya, nak?" Kemudian terbukalah mata indah itu.

"Hai, adek! Ini abang jean. Abangnnya adek Mikha" Jean mengenalkan diri saat tau sang adik membuka mata dan menghadap ke arahnya. Ia juga menggenggam tangan kecil adiknya.

"Hallo adik Mikha, ini kakak Willi. Kakanya adik Mikha" si sulung ikut memperkenalkan diri saat baby Mikha menoleh ke arahnya

"Ini abang Atha adek, abangnya adek Mikha. Nanti main sama abang Atha ya?" Seolah tahu apa yang diucapkan sausara saudaranya baby Mikha tersenyum menanggapi.

"Lihat mommy! Adek senyum! Lucu sekaliii!" Jean yang dahulu melihat itu langsung memberi tahu sang mommy.

"Kakak, sama abang atha dan abang jean harus jagain adeknya terus ya?" Ucap daddy Brahma yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.

"SIAP DADDY!" Ketiganya memberi gestur hormat kepada daddy Brahma. Semua tertawa melihat tingkat laku ketiga anak itu.

"Apasih kakak sama abang berisik, adek kan mau bobo lagi"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Apasih kakak sama abang berisik, adek kan mau bobo lagi"

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Little AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang