Prediksi Dokter Jefry

861 54 11
                                        

"Ini hasil tes darah terbaru Mikha yang diambil satu jam yang lalu. Sel darah putihnya meningkat drastis ke angka 38 ribu sedangkan normalnya tidak lebih dari 10 ribu. Ini juga bisa jadi sebab Mikha mengalami kejang semalam. Angka setinggi ini pasti infeksinya udah sampai ke otak. Trombositnya juga sangat jauh dari angka normal hanya 37 ribu sedangkan jumlah normal niminalnya 150 ribu. Hemoglobinnya juga sedikit rendah di angka 8. Dengan hasil ini aku curiga ada satu penyakit lagi di badan Mikha, kanker darah. Tapi untuk menegakkan diagnosa pasti aku perlu lakuin satu tes lagi yaitu biopsi sumsum tulang. Prosedurnya dilakukan dengan membuat sayatan kecil pada tulang dan menyuntikkan jarum berongga untuk mengambil sampel. Biasanya paling gampangnya kita ambil pada bagian sumsum tulang belakang. Kalau kalian selaku orang tua Mikha bersedia, aku dan tim akan lakukan segera setelah keadaan Mikha memungkinkan"

Kata kata Dokter Jefry tadi pagi masih begitu membekas di pikiran Mommy dan Daddy yang saat ini sedang menemani Mikha di ruang intensif. Mikha lagi-lagi harus dilarikan ke ruangan yang mengerikan itu sebab kondisinya yang belum mengalami perbaikan sejak kambuh dini hari tadi.

Mulut anak itu terpaksa harus dijejali dengan ventilator sebab saturasi oksigennya hanya diangka 48%, dadanya pun dibiarkan terbuka sebab harus ditempeli banyaknya kabel monitor.

"Adek bangun nak, jangan bobok terus dong sayang. Bangun biar adek nggak perlu disini lagi sayang. Disini dingin, adek kedinginan kan disini?" ucap Mommy sendu sambil menggenggam tangan Mikha.

"Maafin Daddy ya nak belum bisa rayu Tuhan untuk kasih sembuh buat Mikha. Kalau bisa Daddy rela tukar apapun yang Daddy punya supaya Mikha cepat sembuh termasuk diri Daddy sendiri nak. Maafin Daddy belum bisa kasih sembuh itu ya?"

Athala yang sejak tadi juga berada di ruangan itu hanya bisa menangis mendengar kedua orang tuanya mengajak bicara adik bungsunya yang masih enggan membuka mata. Hatinya juga hancur lagi- lagi ia melihat kondisi adiknya yang terpejam erat seperti ini tanpa tahu kapan mata indah itu akan terbuka.

Malam harinya hanya ada Daddy Brahma di dalam ruangan menemani Mikha karena jam kunjung sudah habis dan hanya satu orang yang dibolehkan untuk menemani

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Malam harinya hanya ada Daddy Brahma di dalam ruangan menemani Mikha karena jam kunjung sudah habis dan hanya satu orang yang dibolehkan untuk menemani. Athala juga ada disitu tapi sebagai dokter jaga. Sebenarnya shift Athala sudah selesai, tapi anak itu memaksa untuk double shift supaya bisa memantau kondisi adik kecilnya itu.

"Daddy tidur aja, biar Abang yang jagain Adek. Daddy juga butuh istirahat biar nggak ikut sakit" ucap Athala merayu Daddy nya. Sebab melihat kondisinya yang belum benar-benar istirahat sejak dropnya kondisi Mikha semalam. Terlihat sekali Daddy Brahma menahan kantuk sejak tadi. Sore tadi bahkan tubuhnya hampir saja ambruk karena tidak terisi asupan apapun seharian. Daddy nya itu hanya makan beberapa suap saja makanan yang diberikan oleh Opa Johan, itupun atas paksaan dari kedua orang tua Daddy.

Ngomong-ngomong, kedua orang tua Daddy dan Mommy datang sejak tadi sore secara bersamaan karena tidak sengaja bertemu di bandara. Opa Johan dan Oma Elsa datang dari Swiss sedangkan Grandpa dan Grandma dari Seoul. Kedua pasang orang tua itu sama-sama sedang dalam perjalanan bisnis dan ketika mendapat kabar yang tidak mengenakkan mereka memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dan kembali ke Indonesia untuk melihat kondisi cucu kesayangan mereka yang lagi-lagi dalam keadaaan tidak baik-baik saja.

Karena sudah menyerah berdebat dengan Athala, pada akhirnya Daddy memutuskan untuk mengistirahatkan sejenak tubuh lelahnya di sofa yang berada di sudut ruangan.

Athala mendudukkan badannya di kursi samping brankar. Tangannya menggenggam jemari mungil adik kecilnya yang dia rasa semakin kurus.

"Adek bangun sayang, jangan bobo terus kaya gini. Abang rindu sekali suara Adek. Abang rindu main-main lagi sama Adek"

"Sakit ya sayang? Pasti sakit sekali ya dek? Sabar dulu ya, Adek harus cepet bangun makanya biar bisa dilepas selang ventilatornya" ucap Athala sembari menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Mikha.

Tiba-tiba Athala merasakan jari jemari Mikha membalas lemah genggaman tangannya.
"Adek mau bangun ya? Ayo buka matanya dulu sayang, abang disini temani Adek"

Tak berselang Mikha mulai membuka mata, menatap Athala dengan pandangan berkaca-kaca seolah mengatakan kalau ini sangat menyakitkan. Mikha menggenggam kuat tangan Athala untuk menyalurkan rasa sakit akibat ventilator yang terpasang di mulutnya.

"Adek tahan sebentar ya, dokter sebentar lagi kesini" ucapnya menenangkan Adiknya yang mulai menangis tanpa suara.

Dokter Jefry datang dengan beberapa perawat dan satu reka dokter lainnya. Setelah mengecek kesadaran Mikha serta tanda-tanda vitalnya Dokter Jefry memutuskan untuk melepas selang ventilator dan menggantinya dengan masker oksigen tekanan tinggi karena tanda-tanda vital nya mulai membaik.

Daddy Brahma sudah terbangun beberapa saat lalu karena memang ia tidak tidur dengan lelap. Ia menyaksikan sendiri saat ini Mikha sudah membuka mata bahkan sudah tidak ada lagi selang ventilator yang terpaksa harus dimasukkan ke mulutnya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Gimana bisa ada manusya segemes ini 😩

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gimana bisa ada manusya segemes ini 😩
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Little AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang