25

2.7K 222 3
                                    

"Erlang, siapkan pasukan. Amankan rakyat terlebih dahulu dan kerahkan para penyihir!"

"Kita hadapi permainan kanak kanak ini. Tidak akan ada yang keluar, dan tidak ada yang bisa masuk. Pastikan semua selamat!"

"Perintah diterima Yang Mulia."

"Segera laksanakan!"

"Baik. Perintah dilaksanakan Yang Mulia."

-------------------------------------------------------
















Kacau, semuanya kacau. Kehancuran dan kekacauan merajalela. Darah membasahi tanah seperti hujan merah. Jeritan kesakitan dan ketakutan bergemuruh bagai badai yang tak berhenti. Raungan mengerikan bersahutan, memecahkan keheningan yang mencekam.

Semua berdesak-desakan, berlindung dari kengerian. Empati dan kasih sayang terlupakan, digantikan oleh keinginan untuk bertahan hidup. Diri sendiri menjadi prioritas, sesama hanya bayang-bayang yang tak berarti.

Ini terjadi beberapa saat yang lalu. Suasana yang semula hangat, tenang, damai, dan tentram sekejap mata menjadi adegan berdarah. Pembantaian, satu kata untuk menggambarkan situasi saat ini. Bagaikan mimpi buruk tercipta, semua akan melekat dalam angan. Banyak tubuh penuh luka terbaring mengenaskan. Lautan darah tercipta, dan teriakan serta raungan ganas menjadi suara penghantar trauma.

* * *






Setelah menyelesaikan acara makan siang, aku melakukan segala cara agar rasa gelisah yang kurasakan setidaknya dapat berkurang meski sedikit. Namun, semakin lama semakin menjadi. Dingin tidak lagi aku hiraukan. Tidak peduli apa yang Dena katakan, perasaanku benar benar tidak enak. Kulihat tanganku bergetar dan basah karena keringat.

"Anda ingin berjalan-jalan keluar Nona?" Dena memberi usulan, membujuk sang Nona yang nampak kacau. Segala upaya Dena usulkan namun, Irish menolak. Dia terus merasa gelisah.

"Tidak."

"Baiklah Nona,"

"Diluar dingin Dena, aku kedinginan."

Mendengarnya, Dena lantas tersenyum. "Saya mengerti nona. Namun, tidak akan dingin bila anda banyak bergerak."

"Kalau itu aku malas."

"Saya mengerti. Semua keputusan ada pada anda."

Saat ini aku masih duduk diruang tamu selepas mengantar Theo. "Aku ingin membaca buku saja."

"Baik, akan saya ambilkan segera. Apa ingin tambahan coklat panas juga camilan nona?"

"Boleh. Terimakasih Dena."

"Sudah tugas saya nona."

Dena menjalankan tugas, Irish bersandar merenung. Tak lama kemudian, Dena datang membawa satu persatu pesanannya.

Aku mulai membaca hingga tertidur. Namun, aku segera terbangun oleh suara keras teriakan dan raungan buas. Ketika melihat luar tenda, suasana sudah tegang, kalut dan mencekam. Jantungku berdegup kencang antara masih proses bangun tidur dan harus dihadapkan pada situasi yang membingungkan.

Part Of MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang