"Sayang, liat deh ternyata dia Selebgram. Followersnya banyak banget."
Selama perjalanan menuju pulang, Raka tetap bergeming tak menghiraukan Nayla yang sibuk mengoceh tentang Kaluna. Setelah mereka berdua bertukar sosial media, Nayla sibuk stalking akun sosmed Kaluna dan bahkan tak ada habis-habisnya memuji sosok gadis itu. Sedangkan disisi lain, isi kepala Raka menerka-nerka hal apalagi yang akan Kaluna rencanakan.
Raka menghela nafas gusar, lalu mencengkeram stir mobilnya kuat. Bagaimanapun caranya Raka tidak akan membiarkan keduanya sampai bertemu. Ia tidak segan untuk memberikan Kaluna pelajaran jika sampai melukai Nayla.
"Aku ga izinin kamu dekat sama dia," ucap Raka.
Nayla melebarkan matanya, "Kenapa? Nayla suka kok. Cantik, berbakat, seleb-"
"NAYLA STOP! KAMU GA KENAL DIA SIAPA. KALO AKU BILANG, NGGA. BERARTI NGGA!" Teriak Raka mulai tersulut emosi.
"Kamu bilang gitu, seakan kamu tahu dia siapa," protes Nayla tak terima.
Raka merapatkan bibirnya, tidak ingin menjawab perkataan Nayla barusan. Ia memilih diam, fokus menyetir dengan pikiran yang berkecamuk. Raka tidak takut jika Nayla mengetahui tekad Kaluna yang bahkan ingin merebut dirinya dari Nayla. Hanya saja, Raka jauh lebih khawatir jika Kaluna akan bertingkah semaunya pada Nayla apalagi jika mereka dekat.
Ia sangat memahami bagaimana karakter Kaluna. Tidak ada ketakutan, penuh ambisi, dan tidak bisa ditebak. Walaupun itu semua di luar kendali dirinya, sebisa mungkin Raka akan tetap berusaha menjauhkan Nayla dari Kaluna.
Nayla menunduk, memainkan jari-jari tangannya dengan ketakutan. "Nayla-"
"Gausah aneh-aneh, Nay. Ini buat kebaikan kamu juga. Fokus sama kesibukan kamu seperti biasanya. Paham?"
Nayla terdiam.
"Lagian kenapa sih? Ga biasanya loh kamu kayak gini. Dia itu cuman orang asing, Nayla. Kita kan gatau kalau dia mau berbuat jahat apa ngga," tukas Raka.
"Tapi kan Nayla juga pengen punya temen, keliatannya baik kok. Buktinya, dia aja mau tukeran sosmed sama Nayla."
Raka tersenyum kecut, tunangannya terlalu lugu.
"Gausah keras kepala, keputusan aku ga bakalan berubah."
Raka melirik sekilas pada tunangannya yang sedang menunduk. Menghembuskan nafas kuat, ia berusaha meraih pergelangan tangan Nayla namun malah ditepis oleh gadis berambut pendek itu. Nayla memutar badan menghadap jendela mobil, membelakangi Raka. Melihat itu, Raka hanya bisa pasrah membiarkan Nayla dalam mode ngambek.
Ia tidak akan pernah membujuk siapa pun termasuk Nayla jika itu sudah menjadi keputusan finalnya.
~
Sementara itu di tempat lain, Kaluna menatap langit-langit atap kamar dengan posisi berbaring. Pikirannya menerka-nerka, apakah insiden itu benar-benar telah menghapus memori ingatan Nayla? Tapi, sudah berapa lama?
Kaluna menutup kelopak mata sejenak, apa pun itu ia akan berusaha lebih cerdik dalam memanfaatkan situasi. Sebuah kebetulan yang sangat tak disangka ketika ia kembali bertemu dengan Nayla selama bertahun-tahun. Namun, Kaluna tidak mengira jika Nayla telah melupakan dirinya atau sama sekali memang tidak ingat.
Senyuman miring tersungging di bibir Kaluna, ia tidak akan membiarkan Nayla melupakan semuanya begitu saja.
"Apa lu juga lupa sama ini, Nay?" Gumam Kaluna, melihat bekas luka goresan pada pergelangan tangan kirinya.
Bunyi notifikasi yang muncul mencuri perhatian Kaluna. Ia meraih ponselnya lalu mengernyitkan alis, saat melihat obrolan grup Kelas yang ramai. Tidak tertarik membuka isi grup tersebut, Kaluna memilih membuka pesan spam dari Caca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaluna (SUDAH TERBIT)
Fiksi Remaja"Kalo gue maunya sama lu, gimana?" "Saya sudah bertunangan, Kaluna." Kaluna putri Antonio, seorang gadis cantik yang mengejar cinta seorang guru Matematika yang sudah bertunangan, Raka Praja Mahesa.
