Kaluna tersentak dari lamunannya, saat Raka menyadarkan Kaluna dengan menggoyangkan kedua sisi bahu gadis tersebut. Hening seketika, sebelum setetes air mata Kaluna lolos begitu saja membasahi pipi. Raut wajahnya datar, tak menampilkan guratan ekspresi apa pun.
"Kita ke UKS ya?" Ucap Raka dengan khawatir. Wajahnya kalutnya tidak bisa menutupi bahwa ia sangat merasa bersalah karena menyebabkan Kaluna mimisan.
Kaluna hanya diam, ingatan masa lalu itu kembali melukai perasaannya hingga sangat dalam. Kaluna kesal, kenapa harus Raka yang membuat dirinya kembali mengingat kejadian menyakitkan itu.
Ia menatap Raka nanar, lalu satu tangannya terangkat menepis kedua tangan Raka yang menyentuhnya. Kaluna menyeka darah yang mengalir di hidungnya dengan kasar dan beranjak bangun. Raka ikut bangun dari posisi nya.
Raka berusaha meraih tangan Kaluna, namun kembali di tepis oleh gadis itu. "Luna, saya benar-benar tidak sengaja. Saya minta maaf. Kita ke UKS ya?"
Jika bukan Raka, Kaluna tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang telah melukai fisiknya, perasaannya dan ingatannya. Kaluna menatap Raka dengan tatapan dingin. "Gue bisa sendiri."
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Kaluna berjalan menjauhi ruangan dan meninggalkan Raka yang mematung di tempat, menatap punggung Kaluna yang menghilang di balik pintu sambil mengepalkan kedua tangannya kuat.
Melampiaskan perasaannya yang berkecamuk, Raka meninju kuat dinding di sampingnya lalu mengacak rambutnya frustrasi. Apa yang harus Raka lakukan?
~
"Saya sudah kompres untuk memperlambat pendarahan kamu. Jika mimisan kembali, kamu bisa pencet hidung kamu selama sepuluh menit tapi jangan terlalu kuat. Sekarang kamu bisa pulihkan diri kamu dulu untuk sementara waktu," papar seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai Dokter UKS.
Kaluna hanya diam, tidak menjawab apa pun. Sementara itu, Caca yang di samping Kaluna mengangguk cepat menanggapi perkataan Dokter tersebut. "Iya dok, biar saya yang jaga in teman saya."
Dokter itu pun mengulas senyuman tipis, lalu berjalan menjauhi mereka berdua. Dengan sigap, Caca membantu Kaluna yang hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ya ampun Lun, gimana ceritanya sih sampe lu mimisan gitu?" Tanya Caca, duduk di sebuah kursi samping Kaluna.
Kaluna berdecak, "Gue nyium tembok." Bohongnya.
"Dih gila kebangetan lu, ya. Segitunya banget lu kurang di belay sama Pak Raka. Sampe tembok lu sosor."
Mendengar Caca menyebut nama pria itu, darah di tubuh Kaluna kembali mendidih. Kaluna masih kesal dengan Raka. Melemparkan delikan tajam ke arah Caca, gadis berkacamata itu langsung meneguk salivanya susah payah. Apa ucapannya berlebihan?
"Gue pengen sendiri."
Caca gelagapan, "Y-yaudah. Kalo butuh apa-apa, telefon gue. Bye, Lun." Caca buru-buru kabur dari UKS sebelum Kaluna melahapnya.
Kepergian Caca dari UKS, tanpa menunggu lama, Kaluna menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Lalu bangun dan duduk di atas kasur sambil merogoh ponsel, hendak menelepon seseorang.
"Hallo?”
"Luna pulang Sekolah ada urusan, pak. Bilang sama orang rumah, Kaluna lagi ada kelas tambahan."
"Baik, Non."
Usai mematikan sambungan telepon, Kaluna mencengkeram kuat ponsel di genggamannya. Tatapannya kosong ke depan. Pikiran Kaluna masih menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi? Kaluna harus mencari tahu dan mengungkap kebenaran yang sebenarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaluna (SUDAH TERBIT)
Ficção Adolescente"Kalo gue maunya sama lu, gimana?" "Saya sudah bertunangan, Kaluna." Kaluna putri Antonio, seorang gadis cantik yang mengejar cinta seorang guru Matematika yang sudah bertunangan, Raka Praja Mahesa.
