Sesampainya di Rumah Sakit, Kaluna dan Raka baru saja ingin menuju ruangan Anna. Namun seketika Kaluna mengernyitkan alis bingung saat berpapasan dengan seorang pria yang sangat ia kenali, Alex. Pria itu terlihat seperti tergesa-gesa hendak keluar. Sementara itu, Alex pun ikut terkesiap. Menatap Kaluna dengan kedua mata sedikit melebar.
Kaluna terkekeh kecil, "Kaget banget, kayak liat setan aja."
Bibir Alex seketika terasa kelu, otaknya mendadak buyar. Bingung ingin menjawab apa. Sekilas, tatapannya justru teralihkan pada seorang pria di belakang Kaluna yang menatapnya tanpa ekspresi. Siapakah pria itu? Namun ia tidak memiliki waktu banyak untuk mempertanyakan hal tersebut.
Menyadari tatapan Alex yang tertuju pada kekasihnya, Kaluna langsung berdehem. Berusaha mengalihkan perhatian Alex. Tentu saja, ia masih ingin merahasiakan hubungannya dari siapapun termasuk Alex. "Ngapain lu di sini?" Tanya Kaluna.
"Kamu sendiri?" Tanya Alex balik. Berusaha menetralkan suaranya agar terdengar tidak gugup.
Kaluna menyilangkan kedua tangan, melayangkan tatapan santainya pada Alex.
"Anna keguguran. Belum tau juga sih. Ini mau ngejenguk," jawab Kaluna.
Alex mengangguk kecil, "Kaluna saya buru-buru, ada urusan mendadak. Nanti kita ketemu lagi ya?" Ucap Alex, mengulas senyuman tipis. Baru saja ia ingin berjalan menjauh, satu tangannya tiba-tiba di tahan oleh Kaluna dengan genggaman yang kuat. Tentu, hal itu tak luput dari penglihatan Raka. Namun pria itu masih memilih tetap bungkam, selagi tidak di luar batas Raka tidak ingin bersikap berlebihan kembali.
Alex menoleh, meneguk salivanya susah payah. "lu belum jawab pertanyaan gue," ucap Kaluna.
Belum sempat Alex menjawab. Tak sengaja, tatapan Kaluna teralihkan pada tetesan darah di balik kerah kemeja Alex. Kaluna mengangkat satu jarinya ke atas, hendak menyentuh tetesan darah itu sebelum sebuah tangan menghentikan pergelangan tangannya. Kaluna menoleh, melirik Raka yang menatapnya dingin tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Dia lagi buru-buru, Luna."
Alex tersenyum kikuk, "See u." Tidak ada jawaban, Kaluna hanya diam. Menghela nafas kuat. Menatap punggung Alex yang mulai menghilang dari balik pintu Rumah sakit.
Tak sengaja, tatapan Raka tertuju pada sebuah gelang yang baru saja jatuh dari kantong celana Alex. Lantas pria itu berjongkok, meraih sebuah gelang yang tergeletak di atas lantai. Menunjukkannya pada Kaluna, "Ada gelang jatuh dari cowo tadi," ucap Raka.
Kaluna menoleh, mengambil gelang tersebut dan melihatnya dari jarak lebih dekat. Kerutan di dahinya menyatu, seperti tidak asing dengan gelang tersebut. "Kayak kenal," gumam Kaluna.
"Siapanya kamu cowo tadi?" Tanya Raka.
Kaluna melirik, lalu menggeleng kecil. "Bukan siapa-siapa. Temen waktu kecil doang," jawabnya.
"Keren juga punya temen publik figure. Bukannya dia model itu ya?"
Kaluna berdecih. Tak menghiraukan perkataan Raka, Kaluna beranjak pergi begitu saja. Memasukkan gelang tersebut ke dalam kantong tas nya. Cepat atau lambat Kaluna akan segera mencari tahu, siapa pemilik dari gelang ini. Pikirannya menerka-nerka, apakah milik kekasih Alex? Tapi kenapa seakan ia seperti pernah melihat sebelumnya.
Kaluna mendengus, sebenarnya apa yang terjadi?Kenapa seakan semua nya penuh dengan teka-teki.
Tak terasa, mereka berdua telah berhenti di depan ruangan Anna yang tertutup. Kaluna melirik ke arah Caca yang langsung berjalan cepat menghampirinya. Wajah gadis kecil itu terlihat sembab, ia mendekap tubuh Kaluna dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaluna (SUDAH TERBIT)
Teen Fiction"Kalo gue maunya sama lu, gimana?" "Saya sudah bertunangan, Kaluna." Kaluna putri Antonio, seorang gadis cantik yang mengejar cinta seorang guru Matematika yang sudah bertunangan, Raka Praja Mahesa.
