Part 26

3.5K 79 11
                                        

"Gue mau ikut lomba nyanyi buat akhir semester."

Satu alis Raka terangkat, melirik Kaluna sekilas. "Tiba-tiba banget."

Setelah dari Kantin, Kaluna langsung bergegas menuju ruangan Raka. Ia tidak ingin menunda-nunda lagi untuk segera menyampaikan keinginannya. Apa yang dikatakan Caca ada benarnya juga, anggap saja lomba nyanyi hanya sebuah alibi. Inti tujuannya yaitu memanfaatkan peluang kebersamaannya dengan Raka karena lebih sering bertemu ketika latihan.

Di sisi lain, Kaluna memiliki rencana tersembunyi untuk membuat Nayla semakin cemburu oleh kedekatan dirinya bersama Raka. Kaluna mengulas seringai, membayangkan semuanya berhasil seperti apa yang ia inginkan.

"Kaluna?" Seketika Kaluna tersentak saat tangan Raka melambai tepat di depan wajahnya. "Kok malah bengong sih kamu? Saya tanya, kenapa tiba-tiba?"

Kaluna mendengus, mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Sambil bersedekap kedua tangan. "Mau aja. Kenapa? Ga boleh?" Sahutnya.

Melihat tingkah Kaluna yang tidak sopan, Raka hanya mampu menghembuskan nafas kuat tidak ingin menghiraukan Kaluna yang duduk di hadapannya. Berapa kali Raka harus menegur? Mengoceh pun hanya akan dianggap kaleng rombeng oleh Kaluna.

Raka mengangguk, kembali fokus menilai tugas pekerjaan rumah murid kelasnya. "Boleh, nanti saya konfirmasi dulu sama panitia lomba nya. Asalkan kamu bersungguh-sungguh."

"Siapa yang ngajarin gue?"

Pulpen di tangan Raka mengudara, pria itu terpaku seketika. Menyadari bahwa secara tidak langsung, dirinya lah yang akan membimbing Kaluna. Raka menutup kelopak mata erat, bencana.

Raka berdehem, membalas tatapan Kaluna yang menatapnya lekat. "Nanti saya carikan pembimbing buat kamu."

"Bukannya lu yang ngajarin?"

"Itu dulu, sekarang kan saya-"

"Gampang kok, gue bisa minta bokap gue biar lu yang ngajarin gue nanti. Ga ada alasan apa pun lagi, oke sayang?" Sela Kaluna, diiringi senyuman tanpa beban.

Menghela nafas pasrah, apa boleh buat? Kaluna memiliki seribu senjata ampuh untuk segala hal atas kekuasaannya. Raka juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba sekali Kaluna ingin ikut lomba menyanyi, bukankah gadis itu terlalu cuek untuk sekedar tunjuk bakat?

"Ga usah bilang Pak Bara, saya yang ajarin kamu nanti."

"Terus? Kenapa tadi lu nolak gue? Takut? Ya ampun gue ngga bakal aneh-aneh kali, kan tujuan gue cuman nyanyi buat lu."

Raka mendengus, memilih diam. Ia melirik Kaluna yang asik memainkan ponsel di ruangannya. Apakah Kaluna tidak ada pelajaran kelas? Padahal waktu masih menunjukkan jam pembelajaran. Baru saja ingin membuka mulutnya, Kaluna sudah terlebih dahulu menebak isi pikiran Raka.

"Gurunya ga masuk. Kelas free," sela Kaluna tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.

"Saya belum ngomong apapun."

Kaluna mendelik malas, "Tapi bener kan? Gue lagi anteng ini."

Raka mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya. Beberapa menit telah berlalu dan tidak ada interaksi di antara keduanya. Raka yang tengah sibuk menilai tugas pekerjaan murid  dan Kaluna yang asik scroll sosial media.

Hingga tidak lama kemudian, sebuah ketukan pintu, mengalihkan perhatian Raka. Tak hanya Raka, Kaluna pun turut menoleh pada sumber suara. Kaluna langsung menurunkan kedua kakinya ke bawah. Khawatir jika itu adalah Pak Anton. Bisa berabe kalau sampai ayah angkatnya tahu.

"Masuk," Ucap Raka.

Pintu itu pun terbuka dan menampilkan sosok perempuan yang terpaku di tempat menatap terkejut pada Raka dan Kaluna. Seketika hati Kaluna langsung meradang melihat perempuan tersebut yang tak lain adalah Nayla, tunangan Raka.

Kaluna (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang