"Besok pulang Sekolah gue sama Raka bakal ke rumah Gema. "
Dua orang gadis yang sedang menggunakan masker wajah itu langsung menoleh cepat ke arah sumber suara. Sedangkan Kaluna yang sedang sibuk memotong kuku kaki cuek, mengabaikan ekspresi terkejut Caca dan Anna yang tertuju padanya.
Menjelang larut malam, saat ini mereka sedang berkumpul di sebuah Apartemen milik Anna yang rencana awalnya untuk mengerjakan tugas Sekolah yang akan dikumpulkan esok hari. Namun sudah dua jam berlalu, buku tulis itu hanya dibiarkan tergeletak begitu saja oleh sang pemilik. Mereka justru sibuk membuka praktik salon wajah dadakan.
"IKUTTTTT!! " Seru keduanya serentak.
Hidung Kaluna berkerut mendengar kedua sahabatnya, seketika ia langsung tertawa geli.
"Lu berdua ngga di undang, ogah gue."
"Dih parah banget, masa Raka boleh ketemu adek lu. Kita kaga, ga adil banget ya, Na? " Selama berteman dekat dengan Kaluna, keduanya memang tidak terlalu mengetahui banyak tentang sosok Kaluna, karena gadis itu sulit terbuka. Bahkan Caca dan Anna sama sekali belum pernah bermain ke rumah gadis itu.
Anna mengangguk, menyetujui perkataan Caca.
"Sesekali kek, kita gabakal genitin adek lu, Lun. Bakal jadi tante yang baik kok, " timpal Anna.
Kaluna terkikik, "Ogah! adek gua masih polos begitu, ketemu sama tante-tante girang kayak lu pada, bisa rusak yang ada. "
"Kampret, lu!" Mendengar itu, dengan sengaja Caca langsung melemparkan sebuah kuas masker dan tepat sasaran mengenai ujung kaki Kaluna. Kaluna membalas Caca dengan mengacungkan jari tengah ke arah gadis itu
"Si Luna kan beralih jadi OB di Sekolah Na, "Adu Caca.
Hening sejenak sebelum gadis itu tertawa membahana, "Really? "
Caca menurunkan bibirnya dengan kedua alis terangkat, mengiyakan.
"Tanya aja noh, orangnya masi idup."
Anna menoleh, dengan bibir yang masih tersungging senyuman mengejek.
"Biasalah, calon suami lagi trainingin kedisiplinan."
Saat itu juga Caca dan Anna menampilkan raut wajah muntah yang dibuat-buat, meledek Kaluna. Sedangkan sang empu yang sedang di ledek, me
"Ditinggal Raka nikah, merana dah lu!"
"Gue sambelin congor lu ya Ca lama-lama."
Caca beranjak dari duduknya, "Bodoamat!" Setelah itu, ia langsung menjatuhkan badan di atas kasur empuk Anna. Rasa kantuk terasa mulai menyerang penglihatannya.
"Lah katanya mau ngerjain tugas, gimana sih?" Tanya Anna heran. Melihat kedua sahabatnya yang bermalas-malasan. Kaluna yang cuek memotong kuku, dan Caca yang sudah tepar di atas kasur.
Tidak ada respons, Anna menghembuskan nafas kuat. Lalu beranjak bangun menyusul Caca yang sudah terbawa alam bawah sadar dengan mata terpejam dan mulut yang menganga lebar. Anna lantas terkikik, tanpa menunggu lama ia langsung meraih ponsel dan memotret wajah Caca.
"Lumayan buat pp grup," Gumam Anna sambil tersenyum jahil, mengotak-atik layar ponselnya.
Di lain sisi, Kaluna sedang senyum-senyum sendiri kala mengingat kejadian sepulang Sekolah di lapangan. Bukankah Raka terlihat lucu ketika posesif?
"Tapi lucu deh, tadi kan gue di lapangan lagi nyapu. Terus si burung nyamperin gue buat kasih minum. Terus Raka dateng dongg, beuh gilaaa Raka ganteng banget siii, makin klepek-klepek gue pas dia ngejauhin si burung terus ngasih minuman buat gue," curhat Kaluna mesem-mesem.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaluna (SUDAH TERBIT)
Fiksi Remaja"Kalo gue maunya sama lu, gimana?" "Saya sudah bertunangan, Kaluna." Kaluna putri Antonio, seorang gadis cantik yang mengejar cinta seorang guru Matematika yang sudah bertunangan, Raka Praja Mahesa.
