#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada yang nungguin ga ni? 👀
Aku tuh awalnya mau bikin tiap part-nya pendek-pendek gitu. Tapi etdah tau-tau dah 3500+ kata ajaaaaa. Banyak bet bicit-nya 🤧
Jadiii janji bakarin lapaknyaaa yaaa??? 🔥🔥🔥
***
"Tol Pekanbaru-Padang, Seksi Bangkinang-Pangkalan." Mama membaca rencana kerja yang ada di atas meja kerja Kanina. Pundak yang ditutup oleh outer rajut biru langit itu berbalik, melihat Kanina yang baru saja memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper. "Itu jauh sekali ...."
Ibunya itu, datang ke apartemennya dalam waktu yang sudah sangat larut malam. Kanina sengaja memberi tahu di penghujung kepergiannya, dan ternyata saat mendengar kabar bahwa Kanina akan pergi ke luar pulau untuk bergabung dengan tim di kantornya, mengerjakan proyek jangka panjang di sana, ibunya buru-buru datang. Kanina bisa menerka bagaimana ibunya akan merespons atas rencana ini.
Jika ibunya pikir bahwa kedatangannya bisa mencegah kepergiannya, tentu salah besar.
Lihat, wanita itu tampak tidak suka saat Kanina baru saja menutup kopernya. "Nina?"
Kanina menoleh, melepaskan napas yang terasa lelah. "Iya, Ma. Aku akan bergabung di dalam proyek itu." Sebenarnya, mau tidak mau, dia harus ikut bergabung karena Nube tiba-tiba mengundurkan diri dan tidak ada waktu lebih lama untuk menunggu seseorang siap berangkat selain Kanina.
Dan seorang Kanina Rhea, tentu saja akan menyetujui apa pun perintah atasannya selagi itu akan menguntungkan bagi karirnya di dalam perusahaan. Kanina adalah penjilat ulung, sikapnya yang selalu siap kapan pun itu pasti sangat dibenci oleh beberapa orang, tapi begitu disukai oleh atasannya.
"Kamu akan tinggal di daerah mana selama di sana?" Pertanyaan itu, bukan berarti Mama baru saja menyampaikan sebuah persetujuan, Mama hanya sedang mencari celah untuk mencegahnya pergi.
Kanina mendorong kopernya menuju ke sudut ruangan. "Di daerah Kuok."
Mama mengernyit. "Berapa lama kamu di sana?"
"Nggak bisa ditentukan. Aku di sana—"
"Apa?" Mama tidak terima mendengar jawaban itu. "Nggak bisa ditentukan bagaimana?"
Mungkin hal ini mengingatkan Mama pada kejadian sebelumnya, Nina sempat pergi lama untuk ikut mengerjakan proyek di luar pulau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada keluarganya. Dia pergi tiba-tiba. Menghilang, keluarga tidak ada yang tahu tentang keberadaannya. Dia lenyap selama berbulan-bulan, dan Mama sulit mendapatkan kabarnya.
Bahkan saata kepulangannya ke Jakarta, Kanina tidak memberi tahu siapa pun, dia juga sengaja menon-aktifkan nomor ponselnya dalam waktu yang lama sehingga saat tiba di Jakarta, dia mendapatkan puluhan pesan panik, seolah-olah semua orang begitu takut kehilangannya.