#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii. 🌸
Terima kasih sudah berkumpul di sini untuk menjadi saksi kisah cinta Kaivan dan Kanina.
Mari kita saksikan Mas Kayi melamar Kanina di depan keluarganya diikuti keriweuhan semua teman-teman sirkusnya ini yak wkwk. 🙌🏻
Mau kasih emot apa sebelum baca niiiyyy?
AKAN ADA ADDITIONAL PART 47 DI KARYAKARSA NANTI MALAM YAAA. TUNGGUIN INFONYA DI IG STORY CITRA.NOVY
Jangan lupa kasih apinya jugaaa 🔥🔥🔥
***
Akhir pekan yang ... sibuk dan berisik? Rombongan Kaivan baru tiba di lokasi pada pukul satu siang. Plataran Candani, tempat itu Kalil serahkan pada timnya untuk didekor sesuai dengan keinginan sepasang manusia yang kini akan melangsungkan acara di sana. Tempat yang ditinggalkan oleh Gista—mantan istri Kalil itu, tampak dikelola dengan baik oleh Kalil seolah-olah tidak ingin membuat Gista kecewa saat kembali suatu saat nanti.
Di sebuah ruangan luas yang disediakan khusus untuk keluarga pria, Kaivan sudah berdiri dengan kemeja batik marun dan celana kain hitam. Atira tengah menata rambutnya, Elia tengah memeriksa kancing kemejanya. Sementara itu, ada Shaneen yang tengah menarik-narik celana Kaivan, Ariela dan Arielo yang tengah berlari-lari mengolongi dua kaki Kaivan, dan Shana yang tengah duduk manis memperhatikan bagaimana Kaivan berdiri di depan cermin.
Di sisi lain, ada Gege yang menarik-narik tangan Kama, merayu bocah laki-laki itu untuk mau berjalan di sisinya saat menuju ke tempat acara. Kama yang tampak ogah-ogahan berlindung di sisi Yesa yang tengah sibuk sendiri bermain game di ponselnya.
Ke mana para orangtua mereka saat situasi itu begitu bising?
Tentu saja, mereka tidak ingin kalah untuk membuat suasana siang itu lebih chaos lagi. Para ibu berteriak-teriak melarang anaknya melakukan ini-itu sambil sibuk dengan make-up yang merasa harus diperbaiki. Sementara para ayah sedang mengobrol dan sesekali saling menilai penampilan masing-masing.
Para pengiring—alias biang keributan itu—sudah mengenakan kemeja batik dan kebaya senada dengan tema marun yang ditentukan sebelumnya. Batik mereka seragam, kebaya mereka sewarna. Tampak siap mengiringi—membuat keributan—di acara Kaivan hari ini.
Sebuah ketukan dari arah luar pintu tidak membuat suasana di ruangan itu berubah senyap, tetap dalam keadaan ribut sampai Jena membuka pintu lalu mendapatkan informasi dari pihak Candani bahwa acara sebentar lagi akan segera dimulai.
Sebentar lagi waktu menunjukkan pukul empat sore. Tidak terasa sudah tiga jam mereka di dalam ruangan itu untuk menyiapkan penampilan sebelum menuju ke lokasi acara.