#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii. 🌸
Gimana kabarnya hari iniii?
Semoga kamu adalah bagian dari manusia-manusia bersyukur yang selalu bahagia ya. Aamiin! Jalan yang terjal dan menyakiti itu terkadang selalu ingin membuat kamu kalah dan menyerah. Tapi kadang, apa yang terlihat seperti akhir, seringkali adalah awal. Jadi ayooo bangunnn, semangat lagi setelah istirahatnya selesai!
Aylafyuuu. 🌸❤️
Kasi api dong udah kurayu ituuu wkwk 🔥🔥🔥
***
Seharusnya, hari ini adalah hari di mana Kanina pergi untuk melakukan wawancara kerja di Jakarta bersama Pak Willy jika saja Kanina tidak menolak permintaan Pak Andri hari itu. Dulu, 'kembali ke Jakarta' sempat menjadi obsesinya, kembali hidup menjadi Kanina dengan segala kemudahan adalah impiannya. Namun, saat ini, justru dia memiliki banyak alasan untuk tidak kembali.
"Ini karena Kaivan?" tanya Pak Andri hari itu, saat Kanina menolak untuk pergi. "Karena kamu menggantikan posisi Kaivan?"
"Mungkin, 'Ya'." Mungkin Kaivan adalah salah satu alasannya. Jika Kaivan mengaku kalah, lalu menyerah untuk membuat Kanina mendapatkan posisi yang dia inginkan selama ini, bukankah artinya Kanina menempatkan diri lebih dari seseorang yang kalah?
Atau, jika ini bukan lagi tentang menang dan kalah, maka ini tentang Kanina yang tidak ingin dianggap remeh karena bersikap senang-senang saja saat diberi kemudahan oleh Kaivan. Karena jujur saja, egonya terusik saat mendengar kabar bahwa Kaivan pergi meninggalkan posisinya dan menyisakan kekosongan itu untuk Kanina.
Lalu orang-orang tahu akan hal itu.
Kanina tidak ingin membuat Kaivan besar kepala.
"Tapi Kaivan melakukannya bukan untuk meremehkan kamu." Pak Andri tampak mengerti isi kepala Kanina. "Dia hanya pergi, untuk dirinya sendiri. Bukan sengaja menyerahkan kekosongan itu untuk kamu."
"Tapi dia tahu, jika dia pergi, saya adalah orang yang memiliki kesempatan besar untuk menggantikannya." Kanina kembali membantah. "Dia tahu siapa yang akan Pak Willy hubungi."
Pak Andri mengangguk. "Tapi semua mengakui bahwa tanpa kepergian Kaivan, kamu tetap bisa dipercaya untuk proyek ini, kan?" Pak Andri kembali menggoyahkan pilihannya. Dia salah satu orang yang akan menjadi bagian dari proyek itu, sehingga dia terus membujuk.
Kanina terdiam.
"Saya akan menunggu sampai batas waktu terakhir," ujar Pak Andri. "Kami masih menunggu. Kamu masih punya waktu untuk kembali berpikir."
Kanina melepaskan napas berat. Ingatannya tentang percakapan itu masih mengganggu hingga saat ini.
Kanina masih berjalan di selasar, masih bertahan di Kuok untuk beberapa hari ke depan sebelum dia benar-benar keras kepala untuk tetap pegi ke Medan. Langkahnya terhenti, karena dari kejauhan, dia melihat Dhea tengah berjalan bersama Akmal. Menurut kabar yang dia dengar, mereka berdua akan berada di tim yang sama untuk mengerjalan proyek di Makassar.