#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku tu pengennya seminggu update lebih dari dua kali di Wattpad sebenernya. 👉🏻👈🏻 Cuma kadang waktunya niy masih susah banget. Semoga nanti bisa yaaa. Sekarang nikmati aja dulu pokoknya dengan membakar lapak iniii 🔥🔥🔥🙌🏻
Oh iya, Additional Part 10 kemarin di Karyakarsa tuh padet banget penjelasannya. Jadi kalau langsung baca Part 11 ini, mungkin akan ada beberapa hal terlewat gitu ya. Huhu. Yang sekarang mau main-main ke Karyakarsa dulu bole, yang mau langsung lanjut juga bole silakan—tapi mungkin agak bingung aja.
Selamat membaca yaws. 🫶
Bakar dulu dong 3700+ kata nih 😡🔥🔥🔥
***
Payakumbuh, Lembah Harau, dan Harau Sky membawa banyak kejadian yang membuat isi kepala Kanina menjadi sangat penuh. Tentang posisi di Karyatama yang diincarnya selama ini di Jakarta, tentang surat rekomendasi dari kantor pusat untuk Kaivan, tentang taruhannya dengan Kaivan yang berakhir kalah. Dan juga tentang Radika yang nempel bak lintah hingga hari di mana mereka sudah kembali ke Kuok. [Ada di Additional Part 10]
Mess di pinggir hutan yang kini ditempati oleh Kanina sudah membuatnya sangat frustrasi. Dia kehilangan kemudahan untuk mengakses dunia hiburan, juga berbagai hal yang biasa memanjakannya. Dan rongrongan Radika, kini memperburuk segalanya.
Kepala Kanina hari ini, tidak seperti biasanya. Terasa sangat penuh, berat. Matanya cepat sekali lelah, keningnya seringkali berkerut saat tatapnya terlalu lama memperhatikan monitor. Oh, buruk sekali jika dia harus kembali mengalami fase sakit untuk kedua kali dalam jarak waktu yang bahkan belum lewat satu bulan setelah dia pingsan tempo hari.
Kanina bersin satu kali, dua kali, berkali-kali.
Nube bilang, ini bukan karena cuaca Kuok yang ekstrem, bukan pula karena tubuhnya yang sulit beradaptasi. Keadaan Kanina yang sering mengeluh sakit adalah karena Kanina yang selalu membuat isi kepalanya bergemuruh setiap malam karena ambisinya sendiri untuk segera pergi dari tempat itu.
Kanina melirik Radika yang sejak tadi masih menempel di kubikelnya seperti cicak. Entah keberuntungan atau bukan, Radika datang saat hidungnya tengah bermasalah sehingga Kanina tidak bisa mencium aroma parfumnya hari ini. Entah menyengat, menusuk, atau baik-baik saja. Dia tidak tahu. Kanina bersin lagi, meraih tisu.
Namun di hadapannya, dia menemukan Radika yang minim empati. "Kamu masih ada satu utang penjelasan," ujar Si Botol Parfum itu—begitu Kaivan menjulukinya. "Antara kamu dan Kaivan," ujar Radika. "Kamu belum menjelaskan apa pun, ada hubungan apa di antara kalian?"
Ini pertanyaan serupa yang kelima juta kali Kanina dengar dari pria itu. "Kenapa sih mesti dibahas terus?"
"Semua orang lihat kedekatan kalian, Nin. Rumor tentang hubungan kalian udah menyebar." Radika merentangkan tangan, seolah-olah benar bahwa seluruh dunia tahu. "Apalagi setelah Kaivan nge-post foto kamu di grup itu. Posisinya dia lagi di kamar kamu, lho?"