#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu hari Minggu kemarin kumembuat Additional Part 6 di Karyakarsa lhooo hehe
Part di KK menceritakan tentang apa yang terjadi pada Kaivan-Kanina satu tahun lalu—yang akhirnya membuat Kanina bersikap sebenci itu sama Kaivan. Selamat membaca dan menentukan kamu berdiri di tim mana hoho.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat membacaaaa. Tapi kasih api dulu ah 😡🔥🔥🔥🔥
***
"Halo, Nin? Kamu udah tidur? Aku antarkan dompet kamu sekarang ya? Soalnya besok pagi aku harus langsung berangkat ke lokasi proyek."
Hening.
Kanina masih berusaha mengumpulkan kesadarannya dalam beberapa detik.
"Nina?" Suara Kaivan terdengar lagi dari seberang sana.
"Eng—Ya, ya. Boleh."
"Jadi aku ke situ nggak?"
"Ya. Aku tunggu—tapi cepet ya, aku udah ngantuk banget soalnya."
"Aku langsung ke situ kok. Tunggu."
Telepon terputus. Dan Kanina membeku selama beberapa saat. Dia menatap bayang wajahnya sendiri di cermin. Lalu, dia melemparkan ponselnya ke meja.
Astaga, Kanina.
Mengerikan sekali dia harus menerima pria itu untuk datang ke kamarnya malam-malam begini. Namun—Oh, ya, Kanina jelas punya alasan yang mendesak, dia membutuhkan dompetnya. Kanina menyimpan segalanya di dalam benda itu. Jadi, malam ini dia harus bertemu Kaivan.
Benar.
Namun Kanina gugup.
Kanina memegangi kening. Berpikir ulang. Apakah dia harus menelepon Kaivan untuk memberitahu bahwa seharusnya dia tidak usah datang? Benar-benar, bahkan kini dadanya berdebar cepat dan tidak beraturan. Dia bahkan belum bisa melupakan bagaimana sentuhan tangan pria itu di mimpinya.