#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii.
Beberapa part terakhir vote sama komennya sedang tidak bersemangat rupanya ya.🥲 Ini nemenin Kanin yang lagi patah hati apa gimana? 🥲
Boleh nggak vote duluuu sekarang?
Ini lanjutan part kemarin yaaaa. Komen dulu biar nggak lupa mana apinya manaaa🔥🔥🔥🔥🔥
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Satu-dua detik, Kaivan mengambil waktu sadarnya atas kehadiran Kanina di ruangan itu bersama Pak Andri. Dia tertegun di ambang pintu, menatap ke arah Kanina dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah canggung. Pria itu menyapa, tapi tampak ragu, hanya terdengar gumaman, "Nin ...."
Beruntungnya, Pak Andri selalu punya cara untuk memecahkan suasana kaku itu. Pria itu menunjuk Kaivan. "Maaf, kamu siapa, ya? Balas gitu, Nin!" suruhnya.
Kaivan menyeret langkahnya masuk. Dia masih kelihatan bingung hendak menempatkan diri di mana. "Saya datang ke sini untuk mengurus beberapa hal, tapi nggak nyangka saat di perjalanan tadi mendapatkan kabar tentang Bapak."
Pak Andri melenguh pelan saat menggerakkan tangannya, dia meringis, tapi menolak Kaivan membantunya. "Memang jagoan tuh datangnya selalu belakangan, saat korbannya udah nggak berdaya, terus dia—Eh, kamu kan bukan jagoan, kamu penjahat." Pak Andri mengernyit sinis saat menatap Kaivan. "Udah berhasil keluar kamu dari kantor polisi? Udah bisa keluyuran di sini?"
Kaivan tampak enggan menjawab, kembali dia bertanya, "Serius Pak, lukanya gimana?"
"Luka saya mah biasa aja. Kanina tuh, lukanya kamu bikin parah."
Kaivan menoleh, pada Kanina yang kini menghindari tatapnya.
"Nggak usah ditatap lama-lama, saya udah ajarin Kanina untuk nggak jadi murah lagi buat masuk ke dalam perangkap kamu." Pak Andri menarik napas, tampak kesal sekali melihat Kaivan ada di hadapannya.