#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waaa ketemu lagiii.
Kemarin aku sempat bikin Additional Part 33 tauuu. Isinya momen manis Kai-Nina di malam Kai ulang tahun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku juga bikin chat di ig. Hehe. Boleh baca yaaa. Biar nyambung dan terhibur jugaaa karena part ini akan cukup menguras emosi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apinya dulu nggak siii? 🔥🔥🔥
***
Rencananya meninggalkan Kuok dan pergi ke Jakarta adalah sebuah kesalahan paling fatal. Mimpi buruk itu kembali terulang. Demi Tuhan, apakah hidup untuk bahagia yang dia kejar memang tidak pernah bisa sesederhana yang orang lain lakukan?
Kini, Kaivan terjebak di dalam ruangan sempit dan gelap. Sunyi. Tidak terdengar satu pun suara selain pintu yang terbuka, dan beberapa orang yang bertanya. Dia tertahan di dalam ruangan itu selama hampir empat jam. Di hadapannya kini ada seorang petugas kepolisian berjaket hitam yang datang hanya untuk menginterogasinya.
Dibatasi oleh meja panjang dan sorot lampu gantung yang memendar di langit-langit ruangan. Kembali pertanyaan itu terdengar dengan suara yang sengaja dibuat tegas dan lantang seolah-olah memang menyudutkan. "Ceritakan ulang kronologi kejadian hari ini. Saya ingin dengar, sebuah pengakuan tentang kejadian yang sejak tadi Anda sembunyikan mungkin?"