#TSDP8
Menurut Kaivan, Kanina tidak lebih dari wanita berkepala cantik yang memiliki alasan hidup hanya untuk mengoles lisptick merah di bibir, mengecat kuku, dan mengenakan stiletto yang ketukannya kerap mengganggu saat memasuki ruangan.
Menurut K...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dah pada ga sabaran bet nih kayaknyaaa. XD Siap ketemu Kai-Nina yaaa?
3700+ kata dooong. Apa-apaan nih 🥲🫵🏻
Apinya dulu dong biar makin semangat 😳🔥🔥🔥
***
Kaivan baru saja keluar dari kamar mandi, bersenandung, rambutnya yang basah dia keringkan dengan handuk kecil yang baru saja dia raih ketika melintasi ruang kamarnya. Udara panas, bising, polusi dan segala yang dia keluhkan beberapa hari terakhir, mungkin tidak akan mengganggunya lagi kini. Dia lupa. Di dalam kepalanya, sekarang, sedang dipenuhi satu nama, Kanina.
Wanita itu memberi kabar sebelum berangkat ke Jakarta. Dan khusus hari ini, Kaivan sudah mengosongkan jadwal untuk menjemput Kanina di bandara.
Kaivan sudah bercukur, mengenakan aftershave, dia sudah menyiapkan sebuah kaus hitam dan celana khaki yang akan dikenakan untuk menjemput wanita itu. Namun, sebuah dering telepon mengganggunya. Kaivan bergerak menuju kabinet di sisi tempat tidur, dia temukan ponselnya menyala sambil menunjukkan nama Pak Andri sebagai penelepon. Walaupun dia sedang mengambil waktu cuti, telepon Pak Andri tidak mungkin dia abaikan.
Pria itu banyak membantunya akhir-akhir ini.
Kaivan melempar lagi kaus hitam di tangannya ke atas tempat tidur. Kaivan berbalik, menatap cermin lalu berjalan mendekat. Dia memeriksa sisi kanan dan kiri rahangnya yang kini rapi. "Halo, Pak?"
"Kai, udah masuk hari cuti, ya?" tanya Pak Andri.
"Iya, Pak. Ada apa, ya?"
"Kanina juga cuti saya dengar-dengar," ujarnya. "Terus dia minta mobil kantor untuk antar ke bandara. Kalian mau ketemuan, ya?" Lihat, kan? Bagaimana dia begitu perhatian pada hubungan Kaivan dan Kanina? Perhatian, penasaran, serba ingin tahu. "Mau nyamperin kamu ya dia?"
"Iya. Dia mau ke Jakarta."
Pak Andri bertepuk tangan. "Tuh kan benar! Nggak sia-sia deh saya jadi mata-mata kamu di sini," ujarnya.
Benar, atasannya itu secara sukarela mengabarinya ketika melihat Kanina, memberi tahu setiap gerak-gerik Kanina, atau melaporkan pria yang mendekati Kanina. Termasuk Dokter Ardi yang katanya tiba-tiba menghampiri Kanina dan duduk di hadapan wanita itu saat ada acara di lapangan kemarin.
"Mafaatkan kesempatan ini dong, Kai. Kanina udah luluh tuh nyamperin kamu. Nah, sekarang tinggal kamunya. Udah siapin cincin belum?" Ucapannya Serius sekali.
"Belum lah, Pak .... Santai dulu."
"Ah .... santai terus. Udah saya bantuin juga, jangan sampai sia-sia dong. Balik dari Jakarta udah jadian ya. Jangan lama-lama tapi, langsung lamar aja."