Langit masih gelap, tapi Renjun sudah rapi dengan setelan seragamnya. Tidak, ia tidak serajin itu untuk bangun pagi-pagi begini kalau tidak ada alasan. Renjun menuruni tangga rumahnya, melihat sang Ayah yang sudah rapi dengan setelan kemeja putihnya di meja makan. Masih ada perasaan aneh karena ia tidak menyangka bisa akrab dengan pria itu.
Renjun ikut duduk di meja makan, mulai meminum susunya dalam diam. Sedangkan Baba fokus dengan kopi dan koranya. Tidak munafik, walaupun sudah 2 bulan, tapi Renjun masih akan merasakan kecanggungan yang terjadi antara dia dan Babanya.
"Sekolah gimana, Jun? Aman, Kan?" Tanya Baba sambil meminum kopi hitam panas.
"Aman kok, Ba." Jawab Renjun seadanya. karena memang tidak ada yang terjadi disana, nilainya juga tidak jelek dan tidak bagus, jadi ya sudah.
Baba mengangguk. "Hari ini Baba pulang agak malam kayanya, jadi gausah nungguin Baba pulang nanti."
Renjun mengangguk samar, "Iya, Ba."
Ia beranjak, menaruh gelas kotor itu di wastafel dan berjalan kearah kamar untuk mengambil tas. Ia turun dari atas dan berjalan kearah Baba untuk menyalami pria setengah baya itu.
"Renjun pamit ya, Ba."
Baba menatap bingung, "Gamau nunggu sarapan dulu? Lagipun langitnya masih gelap."
Renjun menggeleng, "Aku mau berangkat sama yang lain, sekalian sarapan bareng nanti."
Baba mengangguk, "Yaudah, Hati-hati ya."
"Iya, Ba."
Renjun berjalan kearah mobil putihnya. Akhir-akhir ini dia memang lebih suka membawa mobil ke sekolah. Kalau dia lebih sering bawa mobil ke sekolah, maka anak manusia yang lain lebih sering ninggalin motor di sekolah. Mereka suka lupa bawa motor karena sering diajak Renjun pulang bareng dia sekalian main. Untung aja, di sekolah itu ada satpam yang berjaga 24 jam, jadi motor-motor itu aman mau ditinggalin seberapa lama pun.
Di rumah Haechan, sudah terdapat 5 manusia gabut yang lagi tiduran di teras, Renjun tau mereka kepagian bangunya dan udah harus otw ke komplek ini saat pagi-pagi buta, tapi tiduran di teras itu terlalu... Alay gak sih?
Renjun membunyikan klakson mobilnya, membuat lima anak tadi bangun dan melihat kearah sang pelaku.
"Bangun Nyet. Kotor entar itu baju." Ucap Renjun.
Kelima anak itu bangun dan masuk ke dalam mobil, seperti biasa Jeno duduk di paling depan sebelah Renjun. Setelah memastikan semuanya naik, ia mulai menjalankan mobilnya keluar kawasan komplek.
"Sarapan apa nih?" Tanya Jeno pada yang lain.
Haechan memeluk bantal yang sengaja Renjun bawa di mobil, "Bubur ayam aja."
"Nasduk aja gak sih?" Sahut Yangyang sambil memeluk guling merah di mobil itu.
"Mending lontong sayur." Ucap Shotaro.
"Pecel aja, gue ngidam pecel." Jaemin.
"Yang pasti-pasti aja lah. Yok hitungan ketiga jawab bareng-bareng ya." Ucap Renjun.
"Satu.."
"Dua.."
"Tiga!"
"Soto ayam!" Jawab keenam anak itu kompak.
Mereka tertawa, "Soto ayam dekat jembatan merdeka aja, Jun. Enak itu."
"Enak karena itu yang jual besti lu kan, Na? Jadi bisa dapet potongan harga." Ucap Shotaro.
Jaemin terkekeh kecil, "Itu tau."
"Ngapain coba jir bangun pagi-pagi buta kaya gini." Haechan menguap sambil mengeratkan selimutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
