Yangyang sedang duduk di teras cafe setelah selesai mengelap meja, ia menghela napas sejenak, "Duit gue bener-bener kosong sial."
Ia memegang perut yang terus keroncongan dari tadi, dari siang anak itu memang belum makan karena tidak ada duit sedikit pun, ini sudah akhir bulan, uangnya sudah habis untuk membayar keperluan sekolah.
Ia kembali menyesap rokoknya, "kayanya malam ini gue gabisa pulang, gimana pun caranya, gue harus dapet duit walaupun 10 rebu doang."
Matanya menatap langit malam yang agak mendung, petir terus menyambar sejak tadi. Jalanan sudah sepi pengendara karena sekarang jam menunjukan pukul 23.20, tepukan dibahu menyadarkan Yangyang dari lamunanya, ia melihat kearah pelaku yang ternyata adalah Sunwoo—teman kerjanya.
"Yang, ayo pulang, kata bang jek dia yang bakal kunci pintu cafe." Ucap Sunwoo, anak itu sudah memakai jaket dan membawa tas kerjanya.
Yangyang mengangguk, mematikan rokoknya yang sudah mau habis lalu masuk ke dalam untuk mengambil tas, ia membuka pintu ruangan karyawan, memakai jaketnya lalu mengambil tas yang tersangkut di belakang pintu. Sebelum keluar cafe, ia berpamitan dulu dengan beberapa karyawan lain yang belum pulang.
Di depan Sunwoo sudah duduk di atas motornya yang menyala, "Yang, mau barengan?"
Yangyang menggeleng, "Gausah Nu, duluan aja."
"Oke, gue duluan yak!"
"Sip, hati-hati."
Sunwoo pergi meninggalkan kawasan cafe. Yangyang memanaskan sejenak motornya sebelum benar-benar pergi darisana, selama di jalan, matanya sibuk menelusuri jalan yang banyak pedagang kaki lima, Yangyang berhenti di depan gerobak bakso yang sudah familiar denganya.
"Oy bang." Sapa Yangyang.
"Oy, Dek. Ke belakang terus gih, itu cucian udah numpuk banget." Ucap Bang Met, Yangyang mengangguk lalu meletakkan barang-barang di kursi yang dekat dengan area cuci piring, akhir-akhir ini dia memang sering berkeliling agar mendapatkan uang lebih.
Yangyang menggulung lengan bajunya dan mulai fokus dengan piring kotor yang bertambah seiring dengan ramainya pembeli yang datang. Hari sudah semakin malam, Bang Met sibuk membereskan dagangannya karena ia sudah mau tutup, Yangyang duduk memperhatikan Bang Met setelah selesai dengan pekerjaanya.
"Nah upah lu." Ucap Bang Met sambil memberikan uang 30 rebu.
Yangyang tersenyum senang, "Makasih ya, Bang."
"Iyee, pulang sono lu, udah jam setengah satu malem ini."
Yangyang mengangguk, ia kembali memakai jaketnya dan berpamitan dengan Bang Met dan bergegas pergi darisana sambil mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, angin malam mulai menusuk kulitnya yang tertutup jaket tipis, gerimis turun membuat ia menghela napas lelah
Tubuhnya lelah, tangannya juga gemetar karena belum memakan apapun, Yangyang merasa kepalanya kian memberat, tidak ingin terjadi kecelakaan, ia memutuskan untuk berhenti di depan ruko kecil dan duduk di kursi kayu depan toko, memperhatikan hujan yang semakin deras.
"Lama ini mah redanya." Ucapnya sambil melihat jalanan yang sudah basah.
Karena terlalu lapar, Yangyang memutuskan untuk masuk ke dalam ruko membeli sesuatu yang bisa mengganjal perut. Yangyang melihat ada roti di rak depan, buru-buru ia ambil dan berjalan ke kasir sambil membawa satu mineral gelas.
"Berapa, Bang?" Yangyang.
"Lima rebu, dek."
Ia memakan rotinya sembari menunggu si penjual mencari kembalian, "Numpang neduh ye, bang."
KAMU SEDANG MEMBACA
MANUSIA SQ || 00L
FanfictionManusia SQ "TUHANNN, KENAPA TEMEN GUA KAGA ADA YANG WARASS" Jaemin. "Tau ga apa bedanya kamu sama kupu kupu. kupu kupu terbang dilangit, kalo kamu terbang di hati aku" Jeno. "INI MASIH JAM 4 PAGI ANJIR" Renjun. "BU SITI, SAYA UTANG DULU YA, BAYARNYA...
