Emas

33 4 1
                                        

Kaki jenjangnya berjalan memasuki ruangan megah itu. Aroma segar suasana hangat langsung menusuk hidungnya, perasaan sesak ia rasakan begitu melihat sosok yang didepannya. 

Brek!

Suara hentakan kaki yang bersamaan, berlutut ia di hadapan Sang Dewi Ketenangan. Tunduk lah ia dihadapan Sang Dewi, begitu rendah kepalanya jatuh menunduk, mempresentasikan seberapa besar rasa hormatnya. Sorot mata yang tak memperlihatkan rasa takut, namun jauh dalam lubuk jiwanya, ia takut untuk menatap Dewi.

"Saya menghadap pada engkau, Dewi Ketenangan.." ucapnya dengan tenang. Mungkin, rasa getar ditubuhnya memang begitu menggelegar, tapi dihadapan atasannya, tak mungkin ia membiarkan hal itu terlihat.

Matanya menatap tajam sang bawahan. Telinga berwujud kucing yang menangkap semua suara disekitarnya, "katakan padaku, Indra.. apa kau sudah mendapatkan apa yang ku suruh?" 

"Tentu saya sudah menyiapkannya.. anda tidak perlu khawatir."
"Lagi pula, semua akan berakhir besok."

*





















_The Creepypasta_

"Lucu banget."

"Apanya?" Tanya Zet.

Razz mendengus kesal sambil mengelap pedangnya. Bilah pedang yang mengkilap itu bahkan merefleksikan mata lelah dari sang pemilik. "Dunia ini, lucu ya?"

Zet kembali menatap Razz di kursi sebelah, "hah? Maksud lu?"

"Dunia ini 'kan hancur bentar lagi."
"Tapi kecurangan.. tak pernah luput," seringai kecil terlukis di wajahnya.

Matahari mulai muncul diantara awan subuh. Menampakkan sinarnya yang hangat di pagi ini. Razz dan Zet berada di lapangan utama kota dengan semua pasukan telah berdiri gagah, bersiap menghapus keberadaan Villain yang mengancam mereka.

Zet menatap ke sekitar, ia bingung. Dimana laki-laki berisik yang selalu menganggu mereka? "Jian mana?" Tanyanya pada Razz.

"Gak tau. biarin aja, paling juga mati sama Null," Razz menjawab dengan ketus. "Kek gak tau Jian aja lo."

Terdiam. Zet termenung, meresapi ucapan Razz baik-baik. Meski dia tau, sahabatnya ini memiliki mulut yang pedas, kali ini berbeda. Ada sesuatu yang berbeda—lebih dari sekedar sinisme. Ia mengalihkan pandangannya ke pasukan yang jauh di belakang mereka, menatapnya ragu untuk sesaat.

"Razz, kenapa lu masih bertahan?"
"gak—lebih tepatnya, kita. Kenapa kita masih bisa bertahan?" Tanyanya pelan, sedikit berbisik.

Razz tak langsung menanggapinya. Tangannya bergerak pelan menggerakkan kain itu melewati bilah pedang untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat untuk keheningan, Razz berdecak, dengan kasar menusukkan pedang yang baru saja dia lap ke tanah. "Kenapa? Lu tanya?" Ulangnya dengan pelan.

"Karena lu punya alasan buat hidup, dan gue punya alasan buat memperjuangkan hak gue."
"simple 'kan?" Ia tersenyum miring, senyuman yang lebih ke seringai lelah.

Zet menatap sahabatnya dengan ekspresi kaget, entah mengapa, lehernya terasa sakit, seolah sesuatu mencekiknya. "Sebenernya lu-"

"ZET!"
Panggil salah satu prajurit dari kejauhan.

Panggilan itu sontak membuat Zet membalikkan badan, menatap orang yang memanggilnya. Sejauh matanya memandang, hanya ada ratusan, ribuan pasukan. Berdiri gagah yang seketika membuat seluruh tubuh bergidik ngeri.

The CreepypastaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang