Malaikat

36 2 0
                                        

"Apa-apan ini!?"
"Ah! Sialan." Para prajurit menaiki tangga dengan tergesa-gesa.

Kepanikan memenuhi seluruh gedung markas pusat. Hampir semua yang memiliki kuasa hebat telah terdiam. Layaknya patung. Waktu berhenti bagi mereka. Namun ada juga, mereka yang masih sadar, dapat bergerak bebas.

Dua prajurit berlarian menyusuri lorong. Berharap mendapatkan bantuan dari siapapun yang masih ada. Laungan putus asa mereka tak mendapat jawaban. "K-kita harus gimana sekarang!?" Pekik salah satu prajurit itu.

"Kita- ah!"

Tap
Tap

Suara tapak sepatu terdengar. Kedua prajurit muda tersebut menatap ujung lorong. Mereka waspada. Akankah ini kawan, atau lawan.

Suasana hening dan tegang berjalan untuk sekian saat. Detik berikutnya, seorang pria tinggi terlihat di ujung lorong tersebut. Wajah tenang muncul di kedua prajurit itu, "Tuan Indra-!"

Sang Penyihir Agung, Indra. Dari kejauhan, ia nampak begitu tenang. Tak mempedulikan keberadaan dua prajurit itu. Monocle nya yg terjuntai sedikit turun seiring ia berjalan.

Namun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Namun. Setiap langkah yang diambilnya. Setiap langkah mendekat. Aura mencekam semakin terasa. Bercak emas semakin terlihat.. mengotori pipi dan sweaternya. Pedang berlumuran cairan emas kian terlihat bersembunyi di balik tubuhnya. Langkahnya tenang dan pasti. Namun, tatapan matanya mengindikasikan, bahwa ia bukanlah kawan.

***

Bocah itu menahan suaranya. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan suara gedebuk pelan. Mata yang menatap mayat bersimbah emas. Mata yang ingin menangis. Menyaksikan bagaimana satu-satunya orang yang akan menyelamatkannya dari malapetaka, kini sirna.

Suara langkah kaki dan seretan besi terdengar disepanjang lorong. Red Creeper memutar kepalanya, pelan, penuh waspada. Di ambang pintu, ketakutannya semakin merajalela. Bayangan sosok Indra seolah menyelimuti tubuh kecil Red. Mengintimitasinya.

"K-kau.." gagapnya. Sosok itu, layaknya mimpi buruk. Layaknya seseorang yang adalah malaikat kematiannya. "Dewa Waktu—!"

***

Suasana markas divisi ke 4 kacau balau. Hampir seluruh pasukan yang mereka siapkan, semuanya mematung. Apakah ini ulah Villain? Musuh mereka? Namun, kenapa mereka tak kunjung menyerang?

"Dimana para tertinggi!? Kenapa tak ada jawaban!?" Malik, Kapten Divisi 4 mengamuk.

Para anggota kepercayaannya langsung ciut. Melihat tempramen sang kapten yang tak lagi stabil.

Gemmad maju, tubuhnya agak getar. Entah menahan takut atau apa. "Malik, tenang dulu! Hampir semua makhluk di daerah ini mematung."
"Mungkin... ini sesuatu di luar kendali kita."
"Hanya kita yang ada disini yang masih memiliki kesadaran, mungkin beberapa anggota divisi lain juga."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The CreepypastaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang