Hi, semangat membaca! 🎀🌷🍓
Zizan membawa Zahra ke kasur king sizenya dengan hati-hati. Terlihat rambut Zahra yang acak-acakkan, ia menyelipkan anak rambut ke daun telinganya yang menghalangi wajahnya.
Mata hazel milik Zahra terbuka, menatap Zizan dengan tatapan sayu. "Mau minum?" tawar Zizan, lalu duduk dipinggir kasur.
"Peduli apa lo sama, gue?!" sahut Zahra dengan nada tinggi.
"Kenapa mabuk, hm?" tanya Zizan dengan suara seraknya.
"Gue butuh hiburan. Salah?!"
"Gak salah. Tapi, hiburan yang kamu pilih ini salah, Ra. Kenapa harus mabuk-mabukan?"
"Diem atau gue bunuh, lo?!"
Zizan menurut, ia diam.
"Gue mau cerai! Lo tau cerai gak, sih?!"
"Ra? Jangan bahas ini lagi, aku gak suka. Sampai kapanpun, kita gak akan pernah cerai, kita akan sama-sama terus. Selamanya," ucap Zizan sambil menatap teduh Zahra.
"Terserah! Mau suka atau nggak, gue gak peduli! Gue gak mau diselingkuhin! Lo, pasti nanti bakal duain gue, kan, kayak Papa gue?!" sahut Zahra dengan nafas yang memburu, ia bangkit dari tidurnya.
Zizan mencekal tangan Zahra membuatnya ikut duduk disampingnya. Zizan menyerong sedikit menyamping menghadap Zahra, ia memegang kedua bahu Zahra. "Liat aku, Ra!" titah Zizan.
"Gak. Muka lo jelek!" sahut Zahra dengan sinis membuat Zizan terkekeh.
"Oke, kalau gak mau liat aku. Dengerin aku, ya?"
Zahra mengangguk.
"Ra? Aku emang seorang lelaki──"
"Gue udah tau!" sela Zahra.
"Jangan motong pembicaraan orang yang be──"
"Belum selesai bicara. Gitu, kan? Udah tau!" kedua kalinya Zahra memotong ucapan Zizan.
Cup! Zizan mengecup bibir ranum Zahra membuatnya mendongak menatap tajam pada Zizan.
Zahra mengelap bibir merahnya menggunakan ibu jarinya.
"Apa? Gak terima? Sini, bales, nih." tantang Zizan.
"Buaya!" celetuk Zahra.
"Ra? Dengerin akuuuu.." rengek Zizan.
"Bocah!"
"Dengerin aku ya, cantik? Aku emang seorang lelaki, sama seperti Alm. Papa kamu. Tapi, aku beda sama Alm. Papa kamu. Jangan samain aku dengan beliau, Ra. Gak semua lelaki itu seperti itu. Masih ada kok, laki-laki yang setia. Aku, contohnya!" Zizan menaik turunkan kedua alisnya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Buktiin kalau lo emang setia!"
"Oke. Aku bakal buktiin. Siapa takut?"
"Arghhh!" erang Zahra membuat Zizan panik.
"Kenapa, Ra?" tanya Zizan sambil menggenggam kedua tangan Zahra.
"Gerah banget sih, kamarnya! Nyalain dong, Ac-nya!" kesal Zahra, tangannya bergerak melepaskan tangannya dari genggaman Zizan.
Zizan melirik Ac-nya. "Udah full, Ra."
"Masa, sih?"
"Mau buka bajuuuu!" pekik Zahra, tangannya bergerak ingin melepaskan bajunya.
"Serius, mau buka bajunya?" tanya Zizan, ia tidak mengerti dengan pikiran Zahra. Apa ini pengaruh minum alkohol? Tapi, kenapa tidak bereaksi sedari tadi? Pikir Zizan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dosen My Husband
Teen FictionBaca aja. Jangan nunggu cerita ini rame, hehe. Karna itu.. assudahlah..
