"Terus?"
"Terus, jari telunjuk aku jadi melepuh, deh.." adu Zizan seperti anak kecil yang mengadu pada Ibunya.
Zahra jadi gemas melihat Zizan, ingin sekali rasanya mencubit kedua pipi itu yang mengembung seperti ikan buntal.
Tapi, tidak!
Zahra harus menepis keras pikiran itu.
"Coba sini, gue liat!" ketus Zahra.
Zizan menatap sebentar wajah cantik Istrinya lalu menyodorkan tangannya pada Zahra.
Lelaki itu menoleh ketika jari telunjuknya merasakan ada hembusan angin, dan ternyata Zahra tengah meniup jari telunjuknya.
"Sebentar,"
Zizan menatap kepergian Zahra dan rupanya perempuan itu mengambil baskom kecil dan air dingin?
Buat apa? pikir Zizan.
"Sini tangannya!" pinta Zahra.
Dengan telaten, Zahra mengompresnya dengan air dingin yang ia ambil tadi.
"Kamu tau darimana, kalo solusinya dikompres pake air dingin?"
"Ga perlu tau,"
Zizan berusaha tersenyum. "Masih marah, ya?"
Kesal karna mengingat kejadian itu, tanpa sadar Zahra menekannya dengan kuat membuat Zizan meringis.
"Maaf," ucap Zahra sambil menatap jari itu.
"Iya, gakpapa. Ini gak seberapa sakitnya. Lebih sakitan kamu, kan?"
"Maksud, lo?"
"Ra, aku tau, kamu liat semuanya, kan?"
Diam.
Zahra tidak menjawab.
"Selesai," ucap Zahra setelah memperban jari telunjuk itu dengan kain seadanya. "Dah, sana makan."
"Aku mau ke kamar aja,"
"Lo laper, kan?"
Zizan mengangguk lesu.
"Mie nya belum aku masak, Ra.." adunya.
Zahra menghela nafasnya pelan. "Biar gue aja yang masakin,"
Zizan tersenyum sumringah. "Makasih, Ra."
Selang beberapa menit kemudian, mie instan itu pun sudah tergeletak dihadapan Zizan.
Zahra menatap Zizan yang tengah menundukkan kepalanya dengan tangan yang terlipat.
Zizan, tidur kah?
"El, bangun.."
Zahra menepuk pelan lengan Zizan.
"Udah masak, Ra?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Hm,"
"Makasih, sayang!"
Deg
Degupan jantung Zahra berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia menatap Zizan yang tengah mengadahkan tangannya untuk berdoa makan.
Zizan melahap dengan rakus.
Benar-benar lapar ternyata!
"Mau gak, Ra?" tawar Zizan.
Zahra menggeleng namun perutnya tidak bisa diajak kerja sama. Perut itu malah berbunyi ditengah keheningan di dapur, yang otomatis Zizan mendengarnya dengan jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dosen My Husband
Ficção AdolescenteBaca aja. Jangan nunggu cerita ini rame, hehe. Karna itu.. assudahlah..
