"I-ini.." gumam Zahra sambil menunjuk Fathir yang ada didalam video itu.
"Iya, Ra, itu senior kamu 'kan?"
Zahra mengangguk. Ia masih tetap fokus menunggu kelanjutan dari video itu.
"Nih," ucap Zahra sambil meyodorkan ponsel milik lelaki itu.
"Sekarang, percaya, kan, sama aku? Aku gak ada hubungan apa-apa sama sahabat kamu. Dan, kamu harus percaya sama aku, kalau perempuan yang aku sayang itu cuma kamu dan Umi. Udah maafin aku, kan, Ra?"
Zahra diam.
"Gue harus percaya berapa persen kalau video itu emang real?" tanya Zahra.
"Seratus persen," balas Zizan yakin. "Kenapa nanya begitu, hm?"
"Ya, kan, bisa aja lo suruh mereka buat video itu secara settingan kan?"
"Ra.. Mana ada settingan. Itu video aku dapet dari Flora, karyawan di Caffe aku, kamu juga kenal kan sama dia? Itu video, dia yang videoin, Ra.. Masih gak percaya juga?"
"Gue gak tau harus percaya sama lo atau gak,"
Zizan tersenyum menanggapinya. "Yaudah, Ra, gakpapa. Aku juga gak maksa kamu buat percaya seratus persen sama aku. Aku ngomong sesuai dengan hati aku, aku jujur sama apa yang aku ucapin."
Zahra diam. Ia bingung harus menjawab apa.
"Menurut kamu, kesabaran itu ada batasnya gak?"
"Ada,"
Zizan menggeleng seraya tersenyum manis menatap Zahra. "Salah. Sabar itu gak ada batasnya, Ra.."
"Kenapa gitu?"
"Andai sabar itu ada batasnya, gak bakal ada manusia yang selalu teguh dalam meniti jalan."
Zahra hanya ber-oh ria.
"Ra, udahan ya marahnya.."
"Gue gak marah."
"Bohong banget. Udah jelas kamu marah, kok."
"Gue cuma kesel sama lo."
Zizan menghela nafasnya pelan, "sama aja!"
"Beda."
"Bedanya apa?"
"Beda huruf."
Zizan tertawa mendengarnya. "Haha. Iya kamu bener, Ra. Beda huruf, ya."
"Gue mau masuk," ucap Zahra sambil berdiri dari posisi duduknya, namun pergelangan tangannya dicekal.
"Ra, bentar!"
"Apa?" balas Zahra dengan nada tak bersahabat.
"Maafin aku, ya.. Aku janji kejadian kemarin gak akan keulang lagi, Ra. Aku bakal cek dulu siapa yang peluk aku. Aku bakal lebih berjaga lagi, Ra.. Please, maafin aku, sayanggg.."
Sial. Lucu banget suami gue!
"Hm, gue maafin."
Zizan berdiri berhadapan dengan Zahra. Ia mencium berkali-kali punggung tangan Zahra sampai basah.
"Makasih, Ra. Makasih udah maafin aku."
o0o
"Selamat pagi semuanya!" sapa Zizan diikuti dengan Zahra dibelakangnya.
"Pagi juga gantengnya Abi," balas Luhqi.
"Anak Umi cantik banget," puji Lauza pada menantu kesayangannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dosen My Husband
Ficção AdolescenteBaca aja. Jangan nunggu cerita ini rame, hehe. Karna itu.. assudahlah..
